Indahnya berislam dengan Nabi..

Senin malam Selasa, 30 Mei 2011 masjid desa kami mengundang majelis ta'lim dan shalawat yang dipimpin oleh Habib Jamal Ba Aqiel. Ada satu hadits yang menarik yang disitir beliau tentang indahnya berislam dengan Nabi Muhammad SAW. Hadits yang beliau sitir tersebut, bisa ditemukan dalam kitab Ruuh al Bayan juz 6 halaman 361 "marji akbar" sebagai berikut:
 
قال في «نفائس المجالس»: جاء في الحديث: «حبب إلي من دنياكم ثلاث الطيب والنساء وقرة عيني في الصلاة» فلما سمعه أبو بكر رضي الله عنه قال: يا رسول الله حبب إليّ من دنياكم ثلاث النظر إليك وإنفاق مالي عليك والجلوس بين يديك» وقال عمر رضي الله عنه: «حبب إليّ من دنياكم ثلاث النظر إلى أولياء الله والقهر لأعداء الله والحفظ لحدود الله» وقال عثمان رضي الله عنه: «يا سيدي حبب إليّ من دنياكم ثلاث إفشاء السلام وإطعام الطعام والصلاة بالليل والناس نيام» وقال علي رضي الله عنه: «يا سيدي حبب إليّ من دنياكم ثلاث الضرب بالسيف والصوم بالصيف وإكرام الضيف» فجاء جبريل عليه السلام وقال: «يا سيدي حبب إليّ من دنياكم ثلاث إرشاد الضالين وإعانة المساكين ومؤانسة كلام رب العالمين» ثم غاب وجاء بعد ساعة فقال: إن الله يقرئك السلام ويقول: «أحب من دنياكم ثلاثاً دمع العاصين وعذاب المذنبين الغير التائبين وإجابة دعوة المضطرين».
 
Dalam kitab Nafais al Majalis disampaikan sebuah hadits "tiga hal yang dicintakan kepadaku dari duniamu; wewangian, wanita dan kenikmatan dalam menjalankan shalat"  saat mendengar hal ini, Sayidina Abu Bakar berkata: "tiga hal yang dicintakan kepadaku dari duniamu; melihatmu (Rasulullah), menginfaqkan hartaku demi engkau, dan duduk didepanmu" Sayidina Umar kemudian berkata pula :"tiga hal yang dicintakan kepdaku dari duniamu; melihat kekasih Allah, menaklukkan musuh Allah, dan menjaga aturan Allah"  Sayidina Utsman pun berkata:"Wahai tuanku, tiga hal yang dicintakan kepadaku dari duniamu :"mengucapkan salam, memberi makan, dan shalat malam disaat orang2 pada tidur" Sayidina Ali berkata:"Wahai tuanku, tiga hal yang dicintakan kepadaku dari duniamu: "berperang mengangkat pedang, puasa disaat musim panas,dan memulyakan tamu" ...kemudian datang malaikat jibril dan berkata: "wahai tuanku, tiga hal yang dicintakan kepadaku dari duniamu, memberi petunjuk orang yang tersesat, menolong orang-orang miskin dan mencintai firman Allah Tuhan Semesta Alam" kemudian Jibril menghilang dan tak lama kemudian Jibril datang lagi dan berkata : "Allah mengucapkan salam padamu wahai Rasul dan berkata: "aku mencintai dari duniamu tiga hal, 'menangisi' orang yang bermaksiat, menyiksa orang yang berdosa tanpa mau bertaubat dan mengabulkan doa orang yang terjepit".
 
sungguh indah berislam bersama Rasul, bersama Rasul setiap kita senantiasa termotivasi berbuat kebaikan dan memberi manfaat kepada sesama bahkan Allah merespon apa yang disampaikan Rasul dan para sahabatnya. Begitulah seharusnya kita keberislaman kita seharusnya memotivasi orang lain untuk berbuat lebih baik bukan malah merugikan.... Rindu Rasul

Related Posts:

K.H Abbas Abdul Jamil BUNTET PESANTREN CIREBON

Pada tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia merdeka setelah penjajah Jepang tidak berdaya. Pada tanggal 29 September 1945 tentara sekutu (Inggris) yang bertugas sebagai Polisi Keamanan mendarat di berbagai kota besar di Jawa dan Sumatra, di antaranya adalah di kota Surabaya. Mereka bermaksud untuk melucuti persenjataan tentara Jepang. Ternyata, Belanda membonceng tentara Inggris dan melakukan tindakan-tindakan anarkis.

Tentu rakyat Indonesia yang telah merdeka tidak ingin kedaulatannya dikoyak-koyak kembali oleh Belanda. Maka meletuslah perang dahsyat yang terkenal dengan “Perang 10 November”. Namun rakyat Surabaya tidak dapat berbuat banyak, bahkan telah mundur ke luar kota Surabaya. Selain itu, mereka juga menunggu Kiai dari Cirebon. Karena menurut khadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari perlawanan akan dimualai nanti kalau sudah datang ulama dari Cirebon. Dan ulama yang dimaksud adalah KH. Abbas.

Bagaimana perjalanan Kiai Abbas ke Surabaya? Berikut ini penuturan Abdul Wachid, satu-satunya pengawal Kiai Abbas yang memberikan kesaksian secara tertulis melalui H. Samsu pada tahun 1998.

Pada hari itu, kalau tidak salah, tanggal 6 November 1945 saya dengan tiga orang yaitu Usman, Abdullah dan Sya,rani mendapat tugas dari Detasemen Hizbullah Resimen XII/SGD untuk mengawal Kiai Abbas ke front Surabaya.

Pada jam 06.30 rombongan kami, dengan diiringi pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat meninggalkan Markas Detasemen menuju stasiun Prujakan Cirebon. Rombongan kami, selain tiga pengawal serta Kiai Abbas, juga ikut Kiai H. Achmad Tamin dari Losari sebagai pendamping Kiai Abbas. Selanjutnya kami naik Kereta Api Express.

Pada waktu itu, Kiai Abbas mengenakan jas buka abu-abu, kain sarung plekat bersorban dan beralas kaki trumpah (sandal japit kulit). Kiai Abbas menyerahkan sebuah kantong pada saya. Setelah saya raba-raba, ternyata isinya bakyak. Saya sempat heran bahkan tertawa sendiri, untuk apa bakyak ini? Bukankah Kiai sudah memakai trumpah? Atau senjata perang? Masa senjata kok bakyak?

Pada sekitar jam 17.00, kereta api yang kami tumpangi telah masuk di stasiun Rembang Jawa Tengah. Ternyata sudah banyak orang yang menunggu. Lalu kami diantar ke Pondok Pesantren Kiai Bisri di Rembang.

Pada malam harinya, ba’da salat isya, para ulama yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 15 orang, mengadakan musyawarah untuk menentukan komando/pemimpin pertempuran di Surabaya. Hasil musyawarah memutuskan bahwa komado pertempuran dipercayakan kepada Kiai Abbas.

Ba’da salat subuh, pondok pesantren Rembang sudah ramai. Para santri sudah siap berangkat ke Surabaya, dan banyak pula yang berseragam Hizbuillah. Di halam masjid sudah ada dua mobil sedan kuna yang berkapasitas empat orang penumpang. Bapak Kiai Abbas memanggil saya dan rekan-rekan pengawal dari Cirebon. Beliau meminta bingkisan (bakyak) yang dititipkannya pada saya. Beliau juga menyuruh kepada kami, pengawal dari Cirebon, untuk tidak ke mana-mana sampai beliau kembali dari Surabaya.

Setelah itu, Kiai Abbas naik salah satu mobil dengan Kiai Bisri di jok belakang sementara H. Achmad Tamin duduk di depan dengan sopir. Sedang sedan yang satunya lagi berpenumpang empat orang kiai yang saya sendiri tidak tahu namanya. Dengan diiringi pekik takbir “ALLAHUAKBAR!!!”, dan pekik MERDEKA !!! yang saling bersahutan, rombongan kiai itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan pondok pesantren Rembang.

Sudah hampir sepekan kami berada di Pondok pesantren Rembang. Tiada kabar berita apa-apa. Ini membuat kami gelisah. Ingin rasanya menyusul ke Surabaya kalau saja tidak ada pesan dari Kiai untuk tidak boleh ke mana-mana.

Baru pada tanggal 13 November 1945, ada beberapa laskar Hizbullah (santri pondok pesantren Rembang) yang datang. Kedatangannya disambut oleh santri-santri termasuk kami dan langsung dibrondong pertanyaan-pertanyaan tentang situasi peperangan Kota Surabaya.

Menurut cerita santri Rembang yang baru datang tersebut, begitu rombongan para kiyai datang, langsung disambut dengan gemuruh takbir dan pekik merdeka. Lalu para kiyai tersebut masuk ke masjid dan melakukan salat sunnah.kemudian Kiyai dari Cirebon (Kiyai Abbas-red) memerintahkan kepada pendamping beliau (Kiyai H. Achmad Tamin-red) untuk berdoa di tepi kolam masjid. Dan kepada Kiyai Bisri dari Rembang beliau (Kiyai Abbas-red) memohon agar memerintahkan para laskar / pemuda-pemuda yang akan berjuang untuk mengambil air wudlu dan meminum air yang telah diberi doa. Segera saja para laskar / pemuda-pemuda itu berebutan, bahkan ada yang merasa kurang dengan hanya berwudlu dan menerjunkan diri masuk ke dalam kolam.

Kemudian, bagaikan lebah keluar dari sarangnya, pemuda-pemuda dari segala lapisan Badan Perjuangan AREK-AREK SUROBOYO menyerbu Belanda dengan diringi takbir dan pekik merdeka yang bergemuruh di seluruh penjuru kota Surabaya yang disambut dengan rentetan tembakan gencar dari serdadu Belanda. Korban dari kedua belah pihak pun tak terelakkan berjatuhan, terutama dari pihak kita yang hanya bersenjata bambu runcing, pentungan atau golok seadanya yang disongsong dengan semburan peluru dari berbagai senjata otomatis modern. Sungguh tragis dan mengerikan.

“Kami dengan para kiai berda di tempat yang agak tinggi, jadi jelas sekali dapat melihat keadaan di bawah sana”, jelas santri Rembang yanag ternyata pengawal Kiai Bisri Rembang. Saat itu, lanjut cerita santri Rembang, Kiai Cirebon (Kiai Abbas-Red) mengenakan alas kaki bakyak berdiri tegak di halaman masjid. Kemudian beliau membaca doa dengan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Kiranya doa beliau terkabulkan. Saya melihat dengan mata kepala sendiri keajaiban yang luar biasa. Beribu-ribu alu (penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk) dari rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu –serdadu Belanda. Suaranya bergemuruh bagaikan air bah sehingga Belanda kewalahan dan merekapun mundur ke kapal induk mereka.

Tidak lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat Bomber Hercules. Akan tetapi pesawat itu tiba-tiba meledak di udara sebelum bereaksi. Kemudian beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi yang maksudnya akan akan menjatuhkan bom-bom untuk menghancurkan Kota Surabaya, namun beberapa pesawat itupun mengalami nasib yang sama, meledak di udara sebelum bereaksi. “disitulah kehebatan Kiai Cirebon (Kiai Abbas-Red) yang dapat saya saksikan sendiri”, tandas santri Rembang meyakinkan para santri.

Keesokan harinya, lanjut cerita santri Rembang, pihak musuhpun datang lagi berbondong-bondong berupa kompi tang-tang / mobil baja dan truk-truk menyerang kubu-kubu pertahanan tentara / laskar kita yang didiringi oleh dentuman kanon dan mortir serta rentetan tembakan tembakan 12,7 dari pesawat udara yang cukup banyak jumlahnya sehingga tentara dan laskar kita banyak yang gugur dan terpaksa mundur di pinggir kota Surabaya.

Menjelang malam hari tiba, pertempuran baru agak mereda. Hanya beberapa tembakan kecil saja yang masih terdengar di sana sini.

Kemudian kami diperintah pulang oleh Pak Kiai (Kiai Bisri-red) untuk menyampaikan berita keadaan di front Surabaya kepada kelaurga dan warga Pondok Pesantren bahwa pak kiai dan para alim ulama lainnya dalam keadaan selamat sehat wal afiat, dan dianjurkan kepada semua warga pondok dan masyarakat Rembang untuk berdoa memohon kepada Allah SWT atas perlindungan, keselamatan dan kemenangan bagi para pejuang kita yang dalam pertempuran melawan dan mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

Tiga hari kemudian, menjelang pagi, Kiai Abbas dengan pendampingnya Kiai H. Achmad Tamin dan Kiai Bisri Rembang serta beberapa kiai lainnya datang. Kami tidak banyak memperoleh informasi dari beliau-beliau tentang kejadian Surabaya. Setelah subuh, kami para pengawal dari Cirebon diperintahkan berkemas-kemas untuk pulang kembali ke Cirebon.

Dengan menumpang Kereta Api Express jam 06.00, kami bertolak meninggalkan Rembang dan tiba di Cirebon dengan selamat pada jam 17.30. sepanjang perjalanan dari Rembang ke Cirebon, tidak banyak yang kami bicarakan, karena Kiai Abbas dalam kelelahan dan kantuk yang amat sangat karena selama di Surabaya beliau kurang istirahat dan kurang tidur.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Dan mohon maaf atas segala kelupaan.

sumber: http://www.facebook.com/romzi.ahmad#!/notes/munib-rowandi/saya-disuruh-membawa-bakyak-kiai-abbas-pengakuan-abdul-wachid-salah-satu-pengawa/1898943572250

Related Posts:

ORANG HEBAT

Jika semua yg kita kehendaki harus kita miliki , dari mana kita belajar ikhlas
Jika semua yg kita impikan segera terwujud, dari mana kita belajar sabar
Jika semua doa kita langsung dikabulkan , dari mana kita belajar ikhtiar
 
Ketika kerja kita tidak diharga , itulah saatnya kita belajar ketulusan
Ketika usaha kita dinilai tidak penting , itulah saatnya kita belajar sabar
Ketika hati kita terluka sangat dalam , itulah saatnya kita belajar memaafkan
Ketika kita lelah dan kecewa, itulah saatnya kita belajar kesungguhan
Ketika kita merasa sunyi ,sepi sendiri , itulah saatnya kita belajar ketangguhan
Ketika kita harus menanggung beban , itulah saatnya kita belajar kemurahan hati
 
Orang yg dekat dg Tuhan , bukan berarti serba ada
Orang yg taat pada Tuhan , bukan berarti tidak kekurangan
Orang yg tekun berdoa , bukan berarti tak ada rasa dosa
 
Semua nya butuh perjuangan kesabaran keikhlasan dan ketangguhan
Karenanya ..............jika kita bisa
Jadilah kita orang hebat
Untuk mengatasi semua tantangan
Itulah resepnya
Jadilah orang hebat , kita pasti bisa dan yakin bisa.

Related Posts:

ISLAM AGAMA PERUBAHAN DAN KEBANGKITAN

  
“Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan (rizki) yang banyak. Barangsiapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh, pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. Q.S. al-Nisa’/4: 100.
 
Berbagai kegiatan peringatan Tahun Baru Hijriah secara umum terpusat pada mewujudkan semangat kebangkitan dan perubahan. Kebangkitan umat Islam abad 15 yang sudah ditancapkan tonggaknya sejak 33 tahun lalu, setidaknya telah membawa hasil positif meskipun di sana sini masih terjadi kekurangan-kekurangan dan anomali-anomali. Betapa kita melihat terjadi kebangkitan umat pada aspek pendidikan, ekonomi, politik, dan budaya. Dapat disaksikan dalam kurun waktu 33 tahun maraknya sekolah-sekolah Islam unggulan, sekolah-sekolah Islam terpadu, bahkan sekolah-sekolah negeri, swasta yang tidak berlebelkan Islam pun tidak kalah Islaminya dalam mengatur dunia kependidikannya. Dalam aspek ekonomi, kita dapat menyaksikan adanya kebangkitan itu. Maraknya model perekonomian syariah dan kajian-kajian tentang ekonomi Islam. Betapa dapat dilihat maraknya bank-bank Syariah, transaksi-transaksi Islami yang menjauhkan dari praktik-praktik manipulasi dan ribawi. Bank dan universitas menjadi tertinggal bila tidak membuka praktik atau kajian tentang ekonomi Islam. Pada aspek politik, kita dapat saksikan etika politik semakin dipraktikan bahkan oleh kelompok atau partai yang tidak Islam sekalipun. Perilaku Islami semakin digemari. Tidak ada lagi Islam pobia. Islam justru digandrungi, diminati, dikaji bahkan akhirnya dijadikan keyakinan oleh sekian juta masyarakat Barat. Islam adalah icon kebangkitan agama abad ini. Semakin Islam dibenci, semakin banyak orang yang mencintai. Kebangkitan itu nyata adanya.
 
Kebangkitan itu terjadi karena ada upaya untuk berubah, upaya untuk menjadi lebih baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam adalah agama perubahan. Islam menjadi agent of change (agen perubahan) bagi perilaku, cara pandang, dan cara hidup  individu, masyarakat, dan bangsa. Islam datang untuk merubah tradisi yang telah mendarah mendaging, pikiran yang telah membatu, sikap hidup statis dan jumud, tata nilai yang membelenggu, dan kebiasaan yang mengungkung. Islam datang untuk membebaskan diri, masyarakat, dan bangsa dari belenggu, ikatan, dan kungkungan menuju kepada kondisi dinamis, bergerak dan maju.
 
Secara keseluruhan, dalam pandangan Islam, perubahan itu terjadi min al-kufr ilâ al-îmân (dari kekufuran berubah menjadi keimanan), min al-syirk ila al-tauhîd (dari kemusyrikan berubah menjadi Tauhid), min al-dzulumât ilâ al-nûr (dari gelap menuju terang), dan perubahan min al-jâhiliyyah ilâ al-’âlimiyyah (dari kebodohan berubah menjadi pengetahuan).
 
Islam datang untuk merubah kufur menjadi iman. Islam datang untuk menjelaskan hakekat Tuhan, menjelaskan inti makna lâ ilâha illallâh (tiada tuhan selain Allah). Semua manusia diajak untuk meyakini adanya Sang Pencipta, Sang Pemelihara, mentaati apa yang diperintah dan menjauhi segala yang dilarang. Penolakan terhadap keberadaan-Nya berarti kufur, mengingkari, dan membangkang-Nya. Allah berfirman: ”Dia-lah yang menciptakan kamu Maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. al-Taghâbun/64: 2). Firman yang lain: ”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang kufur (ingkar) kepada Thâghût dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. (Q.S. al-Baqarah/2: 256). Thâghût dimaksudkan sebagai segala bentuk sesembahan selain dari Allah SWT. Islam datang untuk merubah sikap manusia yang dahulu menolak, mengingkari, mengabaikan, bahkan menentang Tuhan, menjadi mengakui, berserah diri, setia, dan mematuhi-Nya. Banyak manusia yang tadinya kufur i’tiqâdî (menolak keberadaan Allah), atau kufur ni’mah (mengingkari kenikmatan yang diberikan Allah), berobah menjadi mukmin sejati, mengakui keberadaan-Nya dan mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya.
 
Islam datang untuk merubah syirik menjadi tauhid. Kita paham kondisi masyarakat Quraisy sebelum Islam dengan tradisi kemusyrikannya (paganisme). Selain menyembah Allah, mereka mengakui keberadaan tuhan-tuhan lain yang diyakini dapat mempengaruhi pola hidupnya. Maka mereka membuat patung-patung untuk disembah selain Allah. Di satu sisi menyembah Allah, tapi di sisi lain memohon kesejahteraan, rizki, dan kesehatan kepada selain Allah. Patung-patung yang disembah itu kemudian berkembang tidak saja berupa batu, tapi bisa juga dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, binatang, makanan, kekayaan, dan harta benda. Islam datang untuk menghapuskan bentuk perselingkuhan terhadap Allah itu, dimana disatu sisi mengakui Allah, tapi secara diam-diam mengakui pula tuhan yang lain. Allah berfirman: ”... Apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui." Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)". (Q.S. al-An’âm/6: 19). Manusia hanya disuruh menyembah kepada Tuhan yang Esa, tidak untuk menyekutukan-Nya: ”... Katakanlah "Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali". (Q.S. al-Ra’d/13: 36).
 
Islam datang untuk merubah gelap menjadi terang. Islam datang sebagai obor yang menyinari hati, pikiran dan jiwa sehingga terang bercahaya. Islam adalah cahaya dan Tuhan itu sendiri adalah cahaya di atas segala cahaya (nûr ’alâ nûr). Cahaya Tuhan bersinar begitu terang menembus menyinari siapa saja yang dikehendaki-Nya. ”Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Nûr/24: 35).
 
Untuk merubah gelap menjadi terang, Allah menurunkan al-Quran sebagai pedoman hidup, siapa yang berpegang teguh kepadanya akan bersinar hidupnya, siapa yang mengabaikan al-Quran akan gelap gulita jiwa dan kehidupannya. ”Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”. (Q.S. Ibrâhîm/14: 1). Kondisi gelap tentu berbeda dari kondisi terang. Gelap tidak dapat melihat apa-apa, sedangkan suasana terang akan menampakkan segala kebenaran. ”Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya, dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas” (Q.S. Fâthir/35: 20-21).
 
Islam datang untuk merubah al-jâhiliyyah (kebodohan) menjadi al-’âlimiyyah (pengetahuan). Masyarakat sebelum Islam disebut sebagai masyarakat jahiliyah, tidak saja dimaknai sebagai masyarakat yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tapi dimaksudkan sebagai masyarakat yang tidak dapat menerapkan ilmu pengetahuan untuk tujuan-tujuan membangun peradaban, membentuk perilaku, dan mempertinggi martabat. Abu Sofyan, pemimpin Quraisy, adalah pemimpin masyarakat jahiliyah itu. Bukanlah dimaksudkan Abu Sofyan tidak mempunyai ilmu dan keahlian. Dia adalah politisi hebat yang berhasil menaklukkan suku-suku Arab lainnya tunduk dalam kekuasaannya. Dia disebut pemimpin Jahiliyyah karena kekuasaan yang dimiliki tidak untuk kesejahteraan dan keadilan masyarakat, melainkan untuk menguasai, mendominasi dan menindas, untuk menginjak dan mengerdilkan mereka.
 
Maka al-Quran menyebutkan kategori jahiliyyah ke dalam empat aspek: 1). Zann al-Jâhiliyyah (prasangka Jahiliyyah), yaitu ketika seseorang memiliki prasangka buruk kepada Allah, maupun manusia (Q.S. Alî ’Imrân/3: 154). 2). Hukm al-Jâhiliyyah (hukum jahiliyyah), yaitu hukum, undang-undang, peraturan yang dibuat tidak berdasar keadilan dan kepentingan manusia secara umum, tapi untuk kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, atau golongannya (Q.S. al-Mâ’idah/5: 50). 3). Tabarruj al-Jâhiliyyah (busana jahilyah), yaitu ketika seseorang atau masyarakat mengikuti mode yang mengumbar aurat, menampakkan bagian-bagian sensual, untuk membangkitkan nafsu syahwat (Q.S. al-Ahzâb/33: 33). 4). Hamiyyah al-Jahiliyyah (kecongkakan jahiliyah), yaitu ketika seseorang sombong, congkah dan angkuh dengan harta yang dimiliki, ilmu yang diraih, atau kekuasaan yang dalam genggaman (Q.S. al-Fath/48: 26).
 
Hijrah Konsep Perubahan sebagai solusi
 
Di dalam al-Quran, kata-kata hijrah dengan berbagai derifasinya disebutkan sebanyak 31 kali. Al-Quran terkadang menyebutkankannya untuk menunjuk pada perintah merubah perilaku (meninggalkan perbuatan keji menuju perbuatan baik), seperti yang terdapat dalam Q.S. al-Muddatsir/74: 5: “dan hijrahlah (tinggalkanlah) segala (perbuatan) yang keji”. Hijrah juga dimaknai sebagai pindah (menghindari) dari orang-orang jahat, seperti: “Dan bersabarlah (Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan hijrahlah (tinggalkanlah) mereka dengan cara yang baik”. (Q.S. al-Muzammil/73: 10). Hijrah juga digunakan guna mendidik isteri ketika mulai tidak taat kepada suami: “Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, hijrahlah (tinggalkanlah) mereka dari tempat tidur”. (Q.S. al-Nisa’/4: 34).
 
Dalam sejarah Islam awal, hijrah dilakukan oleh Rasulullah Saw. dan para shahabatnya beberapa kali, puncaknya adalah hijrah ke Yatsrib (nama asli sebelum akhirnya diganti oleh Nabi dengan nama al-Madinah al-Munawwarah). Hijrah itu dilakukan tidak sekedar pindah tempat dari Makkah ke Madinah, bahkan tidak sekedar mendapatkan tujuan duniawi, tapi ada tujuan utama yaitu untuk mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Itulah maka ada hadits terkenal tentang pentingnya memasang niat pada setiap pekerjaan, termasuk niat dalam berhijrah. Bila hijrah yang dilakukan demi Allah dan dan Rasul-Nya, maka akan mendapatkan pahala kebaikan dari Allah dan Rasul-Nya. Tapi bila tujuannya hanya ingin mendapatkan kesenangan duniawi (dalam hadits itu disebutkan ingin mendapatkan seorang gadis yang hendak dinikahinya), maka dia hanya akan mendapatkan apa yang diinginkannya itu.
 
Tidak mudah seseorang untuk meninggalkan kampung halamannya menuju kepada suatu tempat yang asing baginya. Berbagai kendala dihadapi ketika sampai di tempat baru itu, keterasingan, serba kekurangan dan keterbatasan. Dia belum mengenal orang-orang disekitarnya, maka harus melakukan adaptasi. Dia tidak memiliki harta benda yang dijadikan tumpuhan hidupnya di tempat baru itu. Dia belum memiliki teman yang banyak sebanyak di tempat asalnya, maka gerakannya serba terbatas dan sempit. Namun sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Nisa’/4: 100 di atas, Allah memberikan jaminan-Nya yang tegas. Buya Hamka menjelaskan, bila saja ada rasa takut dalam perjalanan hijrah, misalnya dari Makkah ke Madinah, maka Allah telah memberikan hamparan bumi tempat berlindung. Sesampai di tempat yang baru itu, kesempitan dan kesusahan akan berubah menjadi kelapangan dan kemudahan. Kalau selama ini dada tertekan, dan siang malam selalu terancam, maka setelah hijrah, di tempat kediaman yang baru itu semuanya akan hilang. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 1984: 225). 
 
Di balik kesusahan itu ada cita-cita tinggi yang hendak diperjuangkan. Maka seorang yang berhijrah berupaya keras untuk dapat bangkit di tengah suasana terasing itu. Dia bekerja keras untuk mendapatkan harta, berkenalaan dengan banyak orang untuk menunjang usahanya itu, belajar dari para ahli untuk mengenali lingkungannya. Nabi Muhammad Saw dan para shahabat pada hari-hari pertama di Madinah juga mengalami hal di atas. Mereka datang tanpa harta benda dan sanak famili. Mereka memulai babak kehidupan baru dalam rangka menyongsong kehidupan yang lebih cerah. Mereka meninggalkan kehidupan di Makkah yang terus menerus berada dalam rongrongan dan penindasan para penguasa Musyrikin Quraisy.
 
Shuhaib adalah salah seorang shahabat Rasulullah Saw yang terkemuka. Sejak sebelum hijrah, Shuhaib dikenal sebagai shahabat yang kaya raya. Ketika perintah hijrah ke Madinah, dia meninggalkan Makkah dengan seluruh hartanya. Di Madinah dia memulai kehidupan baru, berhasil, bahkan lebih kaya daripada ketika masih di Makkah. Demikian halnya shahabat Rasulullah lainnya, seperti Abdurrahman bin Auf. Seluruh kekayaannya ditinggalkan di Makkah demi mengikuti perintah Rasulullah Saw. Ketika ada kaum Anshar yang mencoba menyantuni, Abdurrahman bin Auf menolak dengan mengatakan: Terimakasih, tunjukkan saja kepadaku, di mana pasar. Aku tahu apa yang akan aku kerjakan”. Tidak beberapa lama, Abdurrahman bin ‘Auf dikenal sebagai pendatang terkaya di Madinah. Demikian halnya dengan para sahabat lain, seumpama Abu Bakar, Umar bin al-Khattab, Usman, Ali, Khalid bin al-Walid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Amer bin al-Ash. Mereka dan ribuan sahabat lain menerima janji dan jaminan Allah itu, mendapat perlindungan di muka bumi, mendapatkan kehidupan yang lebih lapang. Dari tangan mereka umat Islam berkembang luas membangun peradaban yang tinggi. (Hamka, Tafsir Al-Azhar, 1984: 225-226). 
 
Kerjasama dan Tolong Menolong Dalam Proses Perubahan.
 
Ketulusan dalam berhijrah semata dalam rangka mencari keridhaan Allah membawa hasil yang nyata. Allah akan memberikan pahala bagi siapa yang sungguh-sungguh dalam menegakkan agama-Nya. Allah tidak akan menelantarkan hambanya yang setia, melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh. Allah berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan".(Q.S. al-Nahl/16: 97). Dan disebutkan dalam ayat lain: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q. S. al-Baqarah/2: 218).
 
Apa yang dirasakan oleh Nabi dan para shahabat selesai melakukan hijrah adalah sebuah karunia dan rahmat Allah (Q.S. al-Baqarah/2: 218, al-Taubah/9: 20). Mereka di Madinah disambut dengan tangan terbuka penuh keceriaan oleh sebagian besar warga Madinah (kaum Anshar). Kaum Anshar membantu Nabi dan para shahabat yang berhijrah (kaum Muhajirin) ke Madinah, segala keperluan yang mereka butuhkan; makanan, minuman, tempat tinggal, bahkan pekerjaan dan usaha yang mereka inginkan untuk menopang hidupnya. Agar di kemudian hari mereka tidak terus menerus hidup dalam pemberian orang. Kata-kata kaum Anshar kepada kaum Muhajirin: ”Diyârunâ diyârukum, wa amwâlunâ amwâlukum, wa tijâratunâ tijâratukum, wa nahnu jamî’an ahlukum wa ashdiqâukum (rumah-rumah kami adalah rumah-rumah kalian, harta benda kami adalah harta benda kalian, perdagangan kami adalah kongsi antara kami dan kalian. Kami semua adalah keluarga dan teman-teman kalian)”. Kaum Muhajirin dan kaum Anshar saling kasih mengasihi, cinta mencintai, tolong menolong menggalang ukhuwwah dan persatuan kokoh, hingga akhirnya Madinah menjadi negeri yang sejahtera, makmur, penuh keadilan di bawah kepemimpinan Rasulullah Saw. Dari peristiwa hijrah itu, Islam berkembang meluas ke segala penjuru dunia, menembus ras, bangsa, agama dan wilayah. Bahkan dengan semangat hijrah itu pula umat Islam pernah mengalami kejayaan hingga menjadi super power dunia. Dengan semangat hijrah, umat Islam membangun peradaban baru mengungguli peradaban yang ada pada waktu itu. Dengan semangat hijrah pula mereka bangkit melawan segala penindasan, kediktatoran, dan keserakahan.
 
Oleh karena itu, hijrah tidak saja dipahami sebagai perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain, tetapi lebih dari itu, mengandung makna perpindahan dari suatu kondisi kepada kondisi lain, satu situasi kepada situasi lain. Secara keseluruhan, hijrah dapat dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu: hijrah jasadiyyah (perpindahan fisikal), hijrah qalbiyyah (perpindahan hati), dan hijrah aqliyyah (perpindahan intelektual). Hijrah Jasadiyyah adalah perubahan fisikal dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan lebih diridhai Allah. Hijrah Qalbiyyah adalah upaya mengadakan perubahan sikap hati menuju yang lebih baik; merubah sifat hati yang suka membenci menjadi suka mencintai, mendengki menjadi mengasihi, kikir menjadi dermawan,  sombong menjadi bersahaja, malas menjadi bersemangat, tinggi hati menjadi rendah hati, egoistis menjadi altruistis. Hijrah Aqliyyah adalah upaya mengadakan perubahan secara intelektual, dari kebodohan menuju kepandaian, selalu membaca, selalu ingin tahu yang sebelumnya masa bodoh, belajar dan terus belajar memperbaiki kualitas intelektual, berkarya dan terus produktif berkarya membangun peradaban mewujudkan kejayaan Islam.
 
Hijrah adalah konsep dinamisme dalam Islam, dimana Islam mengajarkan umatnya untuk terus menjadi, berubah, berkembang, dan maju, menjadi lebih baik dari sebelumnya. Islam membenci mereka yang menjadi jumud (statis), mundur, diam, pasif, tidak produktif.  Umat Islam seharusnya menjadi umat yang maju, bukan umat yang mundur. Mereka adalah umat yang rajin dan gigih bukan umat yang malas, umat yang penuh pencerahan bukan umat yang berada dalam kegelapan. Semoga tahun baru hijriyah 1434 ini mengingatkan kita tentang pentingnya belajar dari ajaran dinamisme dalam Islam. Perubahan untuk kebangkitan dan kejayaan Islam. 
 
 Penulis :
 
Dr. H. Shobahussurur, M.A.
Anggota Dewan Pakar Masjid Raya Bani Umar 

Related Posts:

Khasiat Mandi Sebelum Fajar

Dr. Abdul Hamid Dayyat dan Universitas Kairo, Mesir menjelaskan maanfat kesehatan yang diperoleh orang dengan bangun pagi banyak sekali. Diantaranya, gas O3 diudara sangat melimpah saat fajar, kemudian berkurang sedikit demi sedikit, hinnga habis ketika matahari terbenam. Gas O3 mempunyai pengaruh yang positif pada urat saraf, mengaktifkan kerja otak dan tulang. Ke
tika seseorang menghirup udara fajar yang dinamakan udara pagi, dia merasakan kenikmatan dan kesegaran tiada taranya diwaktu manapun, baik siang atau malam”.
 
Fajar adalah periode waktu yang mendahului matahari terbit. Indikasinya yaitu adanya cahaya matahari yang lemah sementara matahari sendiri masih berada di bawah horizon. Beberapa definisi teknis dari fajar antara lain:
 
“Fajar astronomi” adalah periode waktu di mana langit tidak gelap total, secara format didefinisikan sebagai waktu di mana matahari berada 18 derajat di bawah horizon di waktu pagi.
 
“Fajar nautikal” adalah waktu di mana terdapat cukup cahaya matahari untuk membedakan antara horizon dan objek-objek yang berada di horizon, secara formal didefinisikan sebagai waktu di mana matahari berada pada 12 derajat di bawah horizon di pagi hari.
 
“Fajar sipil” adalah waktu di mana terdapat cukup cahaya matahari untuk membedakan objek-objek dan cukup cahaya matahari agar manusia dapat melakukan aktivitas luar rumah, secara formal didefinisikan sebagai waktu di mana matahari berada pada 6 derajat di bawah horizon di pagi hari. Fajar berbeda dengan matahari terbit, yaitu waktu di mana sisi matahari mulai terlihat di atas horizon.
 
Sementara itu beberapa hasil penelitian, menyimpulkan sebaiknya seseorang membiasakan mandi pagi dengan air dingin. Sebab, sedikitnya ada 7 manfaat mandi pagi dengan air dingin:
 
1. Mandi pagi mampu melancarkan peredaran darah
 
Menurut hasil penelitian sebuah lembaga riset trombosit di Inggris, jika seseorang sering mandi pagi dengan air dingin, maka peredaran darahnya akan menjadi lebih lancar. Tubuh juga akan terasa lebih segar dan bugar. Hal ini tentu akan sangat berguna sebagai bekal kita untuk menjalani kegiatan sehari-hari.
 
2. Mandi dengan air dingin akan meningkatkan sel darah putih
 
Mandi dengan air dingin akan meningkatkan sel darah putih dalam tubuh. Bila sel darah putih dalam tubuh meningkat, maka daya tahan dan kemampuan tubuh dalam melawan virus pun akan semakin meningkat. Manfaat positifnya tubuh akan menjadi lebih prima dan tidak mudah sakit karena daya tahan tubuh selalu terjaga dengan baik.
 
3. Mandi dengan air dingin bisa menurunkan resiko darah tinggi
 
Mandi air dingin juga menurunkan resiko timbulnya darah tinggi, varises dan mengerasnya pembuluh darah. Hal ini disebabkan karena mandi air dingin akan melancarkan seluruh sirkulasi darah ke organ-organ tubuh.
 
4. Mandi dengan air dingin dapat meningkatkan kesuburan
 
Mandi pagi dengan air dingin memiliki efek positif bagi kesehatan reproduksi manusia. Manfaatnya yaitu untuk meningkatkan produksi hormon testosteron pada pria dan hormon estrogen pada wanita, yang berpengaruh pada meningkatnya kesuburan dan gairah seksual.
 
5. Mandi pagi memperbaiki kesehatan jaringan tubuh
 
Kebiasaan mandi pagi dengan air dingin setiap hari berdampak positif juga pada kesehatan jaringan tubuh manusia. Dengan kebiasaan ini, jaringan kulit akan semakin membaik, kulit tidak kering dan menjadi lebih kenyal. Mandi dengan air dingin juga mampu mengurangi noda dan lingkaran hitam pada bagian bawah mata. Sehingga, kesegaran wajah akan semakin terpancar. Sebaliknya bila mandi dengan air hangat, maka kulit lebih mudah keriput dan kurang kenyal. Selain itu, mandi dengan air dingin juga berdampak positif pada jaringan kuku. Kuku pun akan menjadi lebih sehat, kuat dan tidak mudah retak.
 
6. Mandi pagi dengan air dingin dapat membuat rambut lebih sehat
 
Apa sih yang terjadi pada rambut bila dibilas dengan air dingin? Ternyata air dingin bisa menutupi kutikula rambut, sehingga mampu mengurangi kerontokan. Rambut pun akan lebih terlindungi dari kotoran-kotoran yang biasanya menempel pada kulit kepala. Dengan demikian rambut akan menjadi lebih sehat dan kuat.
 
7. Mandi air dingin berkhasiat meredakan depresi
 
Mandi pagi dengan air dingin biasa juga berpengaruh pada jiwa, yaitu menjadikan jiwa dan pikiran lebih tenang dan memberikan semangat menjalani aktifitas sehari-hari.
 
 
Foto

Related Posts:

RAKSASA INTELEKTUAL ISLAM


Sangat menarik jika kita membaca jejak kemenangan para pelaku sejarah, disana kita mendapatkan sedikitnya 3 kemampuan, ialah:
1. Tekad dan persatuan
2. Strategi
3. Senjata canggih.
 
Para Penakluk tidak akan pernah lepas dari 3 hal diatas, yang paling menarik adalah soal senjata, kita mengenal Nabi Dawud yg tiba2 muncul disaat yg kritis dg senjata canggihnya yaitu ketepel Besi dg lontarannya yang memporak porandakan musuh, kita mengenal Sayyidina Ali dengan Pedang Dzul Faqornya yang mampu membelah badan musuhnya sekaligus dengan kudanya.
 
Kita juga mengenal Shalahuddin penakluk konstantinopel dengan ketajaman pedang damascusnya yang mampu membelah tameng baja para templar.
 
Akan semakin menarik, jika kita fokuskan pada besi2 yg dijadikan senjata mereka beserta kedahsyatannya dg sebuah ayat yang unik:
 
وأنزلنا الحديد فيه بأس شديد
 
"Dan Kami turunkan BESI yg didalamnya terdapak kekuatan yang dahsyat"
 
Anehnya, tak pernah ada fakta bahwa ada besi yang melayang layang turun dari langit ke bumi, kecuali ada pesawat terbang yang jatuh, itupun berasal dari bumi juga, bukan pesawat asli dari langit.
 
Untuk mengatasi kebuntuan itu para mufassir menafsirkan anzalna (menurunkan) dengan tafsir ja'alna (menjadikan). Masalah ini akan terlalu panjang jika dibahas, yang jelas ilmu pengetahuan memberikan fakta bhw besi memang benar benar diturunkan dari langit, tentu saja yg dimaksud adalah prosesnya.
 
Ulama kita jauh lebih menyadari akan pentingnya sebuah ilmu perbesian ini, sebut saja Al Kindi dan Abu Raihan Al Biruni dg karya terkenalnya "al jamahir fi ma'rifatil jawahir"
 
Keduanya adalah ilmuan2 yg karyanya diserap tuntas oleh barat, karena kekaguman mereka atas rahasia dibalik kekuatan pedang persia.
 
Memang benar, barat telah sukses menyedot ratusan disiplin ilmu dari para pakar Islam, mulai dari fisika, matematika, teknologi, metalogi, astronomi dll.
 
Bagaimana dg Kaum Muslimin? Ilmu orang Islam benar2 telah disedot habis oleh mereka, hanya ada satu yang tertinggal, yaitu ILMU DEBAT.
 
Mahmud Ghaznafi, seorang penakluk Muslim yang besar dari abd 11 menduduki tempat terkemuka diantara para pelindung ilmu pengetahuan. Mahmud Ghaznafi mengikut ssertakan dalam pemerintahannya dua pemimpin besar dunia Islam, yaitu Firdausi dan Al Biruni. Firdausi menjadi penulis karya kenamaan Syahnama, yang dikenal di seluruh dunia, sedangkan Al Biruni adalah jenius yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, satu diantara pemikir terbesar Islam, dan yang di masa hidupnya merupakan raksasa intelektual terbesar dari abad pertengahan. Ibnu Sina dikatakan pernah menyingkir karena takut bersaing dengan Al Biruni.
 
Abu rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni terlahir menjelang terbit fajar pada 4 september 973 M di Kath (Kiva sekarang). Sebuah kota di sekitar wilayah aliran sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan), atau di kawasan Danau Aral Asia tengah. Masa kecilnya tidak banyak diketahui. Al-biruni dalam biografinya mengaku sama sekali tidak mengenal ayahnya dan hanya sedikit mengenal kakeknya.
 
Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-biruni juga fasih dengan sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi dan Suriah. Semasa muda dia menimba ilmu matematika dan astronomi dari Abu Nasir Mansur.
 
Kemenangan Mahmud membuka kawasan timur laut India bagi Agama Islam, dan Al Biruni memanfatkan peluang emas untuk berkelana selama 20 tahun menjelajahi anak Benua itu, sekaligus mempelajari filsafat Hindu, ilmu pengetahuan dan agama dari para pandit terpelajardan sebagai gantinya menyebarkan ilmu Arab dan Yunanikepada mereka. Pada usia mudanya beliau masih menyempatkan diri untuk mempelajari bahasa Sanskrit, agar dengan mudah menguasai perbendaharaan yang luas dari ilmu pengetahuan India. Perburuan ilmu yang dilakukan Al Biruni ke berbagai penjuru menghabiskan 40 tahun dari masa hidupnya.
 
Sejarawan terkenal dari India, Sir J.N Sircar, mengatakan, "Hanya sedikit yang memahami fisika dan metafisika, Dianatara yang sedikit itu, yang terbesar di Asia adalah Al Biruni sekaligus filosuf, dan ilmuwan, serta unggul di kedua lapangan yang berbedaitu". Al Biruni menduduki tempat yang mulia da antara orang orang arif yang dihasilkan Dunia Islam.
 
Selanjutnya baca di:

Related Posts:

Daftar isi artikel www.pustakamuhibbin.blogspot.com

  1. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/syair-as-sayyid-ahmad-al-badawi-ra.html
  2. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/eling-eling-siro-menungso.html
  3. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/dzoharoddiinul-muayyad.html
  4. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/sholat-sunnah-rowatib.html
  5. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/syiir-sejarah-nabi-saw.html
  6. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/aqoid-50.html
  7. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/syiir-habib-syekh.html
  8. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/ya-habiibanaa-aliy-syailillah.html
  9. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/syair-tanpo-waton.html
  10. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/cinta-tanah-air.html
  11. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/syiir-padang-bulan.html
  12. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/kalam-mutiara-al-habib-umar-bin.html
  13. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/biografi-singkat-al-habib-umar-bin.html
  14. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-dzal-jalaali-wal-ikraam.html
  15. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-rabbi-yaa-aalimal-haal.html
  16. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-haadii-sir-ruwaidan.html
  17. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-rasuulallah-yaa-nabiy.html
  18. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-rabba-makkata-washshafaa.html
  19. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-rabbi-shalli-alaa-muhammad.html
  20. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/shalaatun-bissalaamil-mubiini.html
  21. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/khairal-bariyyah-nadzral-ilayya.html
  22. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/mahallul-qiyaam-simthud-durar.html
  23. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/assalaamu-alaik.html
  24. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/waqtis-sahar.html
  25. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/qad-kafaaniy-ilmu-rabbiy.html
  26. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/yaa-habiib-yaa-habiib-yaa-habiibiy.html
  27. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/radhiinaa-yaa-baniz-zahraa-radhiina.html
  28. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/fii-hawaa-khoiril-ibaad.html
  29. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/dauuniy-dauuniy-unaajiy-habiibiy.html
  30. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/sidnan-nabiy.html
  31. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/ummi-yaa-lahnan-asyaqahu.html
  32. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/blog-post_2092.html
  33. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/blog-post_9998.html
  34. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/blog-post_6615.html
  35. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/blog-post_2736.html
  36. http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2012/12/blog-post_5.html

Related Posts:

Keutamaan memberikan nama MUHAMMAD atau AHMAD

فضائل التسمية بأحمد ومحمد
 
* حدثنا أحمد بن نصر بن عبد الله بن الفتح ، ثنا جدي: صدقة بن موسى الغنوي ، ثنا أبي، ثنا حميد الطويل ، عن أنس بن مالك ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « يوقف عبدان بين يدي الله فيأمر بهما إلى الجنة فيقولان: ربنا بم استأهلنا دخول الجنة ولم نعمل عملا تجازينا به الجنة فيقول الله أدخلا عبدي فإني آليت على نفسي ألا يدخل النار من اسمه أحمد ومحمد» .
 
* أخبرنا أحمد بن محمد بن القاسم المصري ، ثنا أحمد بن محمد بن إبراهيم ، ثنا محمد بن نصر المروزي ، ثنا علي بن حجر ، ثنا عبد الرزاق ، عن معمر ، عن هشام بن يحيى المقدام ، عن أبيه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « من ولد له أربعة أولاد فلم يسم أحدهم محمدا لم يدخل حب محمد قلبه» .
 
* وحدثنا علي بن أحمد بن محمد بن إسحاق البزار ، ثنا أبو عمر بن أبي بكر ........، ثنا محمد بن حريث ، ثنا محمد بن إسحاق ........، ثنا محمد بن نوح ، ثنا مطرف بن عبد الله ، عن عبد الرحمن بن أبي الموالي ، عن أبيه، عن ابن أبي مليكة ، عن أبيه، أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: « ما ضر أحدكم أن يكون في بيته محمد ومحمدان وثلاثة» .
 
* حدثنا يوسف بن علي بن .... الفقيه ، ثنا أحمد بن إبراهيم بن الحسن البغدادي ، ثنا عبد الله بن أحمد بن عامر الطائي ، ثنا أبي، ثنا علي بن موسى العلوي ، ثنا أبو موسى بن جعفر ، عن أبيه، عن جده محمد الباقر , عن أبيه، عن جده الحسين ، عن علي بن أبي طالب ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما من قوم كانت لهم مشورة فحضر معهم من اسمه أحمد أو محمد فأدخلوا مشورته إلا خير لهم فيها» .
 
* حدثنا عبد الرحيم بن أحمد بن محمد ، ثنا أبو إياس أحمد بن محمد بن علي بتنيس ثنا عبد المؤمن بن خلف النسفي ، ثنا الفضل بن محمد ، ثنا محمد بن المصفى ، ثنا بقية ، عن أبي حفص الأحمر ، عن حفص بن عمر ، عن أبي سعيد الخدري ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من كان في بيته ثلاثة أسماء: أحمد ومحمد وعبد الله لم يصب ذلك البيت فقر» .
 
* حدثنا أبو العباس جعفر بن محمد الخطيب ثنا زاهر بن أحمد السرخسي ، ثنا أبو الحسين الأشناني القاضي ، ثنا محمد بن أحمد بن شعيب القطان ، عن خالد ، عن جعفر بن عبد الله ، عن لبابة ، عن ابن عباس : إذا كان يوم القيامة ينادي مناد : « من كان اسمه أحمد فليدخل الجنة بلا حساب لكرامة اسمه» .
 
* حدثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن خلف الوراق ثنا إبراهيم بن محمد بن محمد بن عبد الله المطوعي ، ثنا أبي، ثنا عيسى بن محمد البرمكي ، ثنا علي بن إسماعيل الخلقاني ، ثنا إبراهيم بن حيان الأوسي ، ثنا حماد بن سلمة ، عن أيوب ، عن إبراهيم ، عن علقمة ، عن ابن مسعود ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من سمى ولده باسمي حبا لي كان هو وولده معي في الجنة» .
 
* حدثنا أبو سهل محمد بن علي بن الحسن السرخسي ، ثنا أبو الحسن محمد بن أحمد بن الحسن الرازي بمرو ، ثنا محمد بن يعقوب النيسابوري ، ح وحدثنا جعفر بن محمد بن المعتز الأصمعي ، ثنا يعقوب بن إسحاق الأبزاري ، ثنا محمد بن يعقوب ، قال: حدثنا الحسن بن علي بن عفان ، ثنا عثمان بن عبد الرحمن الحراني ، عن أحمد بن حفص الجزري ، عن أبي الطفيل ، عن علي بن أبي طالب ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما اجتمع قوم في مشورة معهم رجل، اسمه محمد، ولم يدخلوه في مشورتهم إلا لم يبارك لهم فيها» .
 
* أخبرنا أبو محمد الحسن بن إسماعيل بن محمد بن العباس الشركسي ، أنبأ أبو حامد أحمد بن خلف الليثي الحيكاني ، ثنا أبو عبد الله محمد بن شعيب الراشكي ، ثنا أبو علي أحمد بن محمد بن القاسم النسوي ، ثنا حميد بن زنجويه ، ثنا جعفر بن عون ، ثنا المعلى بن عرفان ، قال: سمعت أبا جعفر محمدا الباقر يقول: « أحب الأسماء إلى الله: محمد، وأصدقها عبد الله وأبغضها خالد» .
 
* وبإسناده عن حميد بن زنجويه ، قال: ثنا إسماعيل بن أبي أويس ، حدثني محمد بن عبد الرحمن الجدعاني ، عن ابن جريج ، يرفع الحديث إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال: « من كان له ذو بطن فأجمع أن يسميه محمدا رزقه الله غلاما وما كان اسم محمد في بيت إلا جعل الله في ذلك البيت بركة» .
 
* أخبرنا إبراهيم بن أحمد بن سعيد ، ثنا أحمد بن محمد بن إسماعيل ، ثنا محمد بن عبد الله بن محمد بن يعقوب ، ثنا العباس بن عزيز القطان ، ثنا محمد بن يحيى ، ثنا يعلى بن عبيد ، عن يحيى بن عبيد الله ، عن أبيه، عن أبي هريرة ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إذا سمى المؤمن ولده محمدا كتب الله له عبادة سنة ورفع له ثلاثين درجة» .
 
* أخبرنا أبو بكر محمد بن إبراهيم الفقيه ، ثنا عبد الله بن محمد بن سعيد الدامغاني ، ثنا أبو الفضل بن أبي عبد الله ، ثنا محمد بن هانئ ، ثنا يحيى بن عبيد الله بن ملح ، ثنا إسحاق بن إبراهيم ، ثنا يعلى بن عبيد ، عن عمر بن عامر ، قال: قال أبو هريرة : « قال: رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا سمى المؤمن ولده محمدا ثم ناداه يا محمد، أجابه حملة العرش لبيك يا ولي الله أبشر، فإنك شريكنا في الأجر، وأعطاه الله يوم القيامة ثواب حملة العرش» .
 
* أخبرنا إبراهيم بن أحمد بن سعيد البخاري ، ثنا أبو نصر أحمد بن مسلم بن عبد الله البخاري ، ثنا أبو أحمد عبد الرحمن بن محمد .....، ثنا أبو جعفر إسحاق بن أحمد ، ثنا محمد بن حميد ، ثنا إبراهيم بن المختار ، عن النضر بن حميد ، عن أبي إسحاق السبيعي ، عن الأصبغ بن نباتة ، عن علي بن أبي طالب ، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: « ما من أهل بيت فيهم اسم نبي إلا بعث الله إليهم ملكا يقدسهم بالغداة والعشي » .
 
* أخبرنا أبو بكر محمد بن إبراهيم الفقيه ، ثنا عبد الله بن محمد بن سعيد الدامغاني ، ثنا أبو الفضل بن أبي عبد الله ، ثنا محمد بن هانئ ، ثنا يحيى بن عبيد الله بن ملح ، ثنا إسحاق بن إبراهيم ، ثنا يعلى بن عبيد ، عن عمر بن عامر ، قال: قال أبو هريرة : قال: رسول الله صلى الله عليه وسلم : « إذا سمى المؤمن ولده محمدا ثم ناداه يا محمد، أجابه حملة العرش لبيك يا ولي الله أبشر، فإنك شريكنا في الأجر، وأعطاه الله يوم القيامة ثواب حملة العرش» .
 
* أخبرنا أبو الحسين بن محمد بن عبد الله السرخسي ، ثنا الحسين بن أبي الحسن الخراساني ، ثنا إبراهيم بن عبد الله الزينبي ، ثنا محمد بن بشار ، قال: سمعت محمد بن جعفر ، عن رجل ، يقول: « خرجت إلى السوق فاشتريت للمنزل حوائج، فحملت على حمال فصرت إلى مسجد الأنصار، فالتفت فلم أر الحمال فوقفت حتى بصرت به من بعيد فقلت: يا حمال أسرع، فأسرع حتى وصلنا فقلت ما اسمك؟ قال: محمد، فقلت له: ضع السلة ثم خرجت بها إلى الحمال فقلت له: اكتريتك بدانق، فلك دانق ودانق مني كرامة للاسم محمد صلى الله عليه وسلم» .
 
* وحدثنا أبو العباس محمد بن أحمد إملاء ، ثنا محمد بن محمد بن علي المروزي ، ثنا يحيى بن محمد بن عبيد الله العمري ، حدثني محمد بن أحمد بن الحكم السلمي ، ثنا محمد بن محمد بن عبد الله ، ثنا محمد بن بطة الواسطي ، ثنا علي بن زياد الرضي ، ثنا هشيم ، عن يونس ، عن الحسن ، قال: إن الله « يوقف عبدا بين يديه يوم القيامة، اسمه أحمد أو محمد فيقول الله: عبدي، أما استحييت مني وكنت تعصيني واسمك على اسم حبيبي محمد قال: فينكس العبد رأسه، ويقول جبريل: مثل ذلك، فيقول الله: يا جبريل، خل بين عبدي وحبيبي إني أستحيي أن أعذب من الناس من كان اسمه على اسم حبيبي محمد» .
 
* حدثنا أبو عبد الملك محمد بن أحمد بن يحيى الإقليشي ، ثنا أحمد بن سعيد ، ثنا.... عبد الرحمن بن أبي الليث ، ثنا أحمد بن عبد الرحمن بن وهب ، ثنا عبد الله بن عثمان ، ثنا عثمان بن عبد الرحمن ، عن عمته عائشة , عن أبيها سعد بن أبي وقاص قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: هل امرأة من نسائكم حبلى؟ قال رجل : نعم يا رسول الله ، امرأتي حامل قال: « إذا رجعت إلى بيتك فضع يدك على بطن زوجتك، وقل: بسم الله اللهم إني أسميه محمدا فإنه يأتي به رجلا» .
 
* حدثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن صالح بن خلف ، ثنا إبراهيم بن محمد بن عبيد الله الرازي ، ثنا محمد بن أحمد بن مهدي الأهوازي ، ثنا علي بن أبي طاهر ، ثنا علي بن ميمون ، ثنا عثمان بن عبد الرحمن ، عن عمر بن موسى ، عن القاسم ، عن واثلة بن الأسقع ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من ولد له ثلاثة، ولم يسم أحدهم محمدا فقد جهل» .
 
* حدثنا محمد بن زكريا السرخسي ، ثنا العباس بن الفضل بن قيس ، ثنا سعيد بن سليمان ، ثنا حكم بن عطية ، عن ثابت ، عن أنس ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « تسمونهم محمدا ثم تشتمونهم» .
 
* وحدثنا عبد الرحمن بن أحمد البخاري ، ثنا محمد بن علي الخبائري ، ثنا أبو يعلى عبد المؤمن بن خلف ، ثنا الفضل بن محمد الأنطاكي ، ثنا محمد بن المصفى ، ثنا عثمان بن عبد الرحمن ، عن محمد بن عبد الملك ، عن يحيى بن سعيد ، عن سعيد بن المسيب ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لا يدخل الفقر بيتا فيه اسمي» .
 
* وحدثنا جعفر بن محمد الحافظ ، ثنا زاهر بن أحمد ، ثنا زهير بن محمد ، ثنا علي بن عبد الحميد ، ثنا محمد بن إسماعيل القويطي ، ثنا عبد الملك بن إبراهيم الجدي ، عن حماد بن سلمة ، عن عمرو بن دينار ، عن جابر بن عبد الله ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : « ليس أحد من أهل الجنة إلا وهو يدعى باسمه إلا آدم فإنه يدعى بأبي محمد» .
 
* وحدثنا جعفر بن أحمد بن محمد بن إسماعيل ، ثنا خلف بن محمد ، ثنا عبيد الله بن أحمد ، ثنا قتيبة ، ثنا إبراهيم بن زكريا ، ثنا عبد الملك بن أبي عمرو بن عنترة ، عن أبيه، عن جده، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم « من ولد له ثلاثة، فلم يسم أحدهم باسمي فقد جفاني» .
 
* حدثنا أبو يعقوب يوسف بن علي الفقيه ، ثنا أبو بكر بن شاذان ، ببغداد ، ثنا أبو القاسم الطائي ، ثنا أبي، ثنا أبو الحسن الرضي ، عن موسى بن جعفر الصادق ، عن أبيه محمد الباقر ، عن جده علي زين العابدين , عن أبيه الحسين ، عن أبيه علي بن أبي طالب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما من مائدة وضعت فحضر عليها من اسمه محمد أو أحمد إلا قدس ذلك المنزل في كل يوم مرتين» .
 
* أخبرنا عبد الله بن محمد بن رضوان ، ثنا أحمد بن محمد بن الحصين الإستراباذي ، ثنا أبي، ثنا عبد الله بن محمد بن خلاد ، ثنا عبد الرحمن بن محمود بن جبلة ، حدثتنا زبيدة بنت سعد ، قالت: حدثتني أم كلثوم بنت قطبة ، عن أمها جليلة بنت عبد الجليل قالت: قلت: يا رسول الله ، أنا امرأة لا يعيش لها ولد فما تأمرني؟ فقال: « اجعلي لله عليك أن تسميه محمدا فإنه يعيش قالت: ففعلت فعاش فما....... أهل بيت أكثر منه» .
 
* حدثنا أبو يعقوب يوسف بن علي بن يحيى الفراوي ، ثنا أبو بكر أحمد بن شاذان البزاز ببغداد ، ثنا أبو القاسم عبيد الله بن أحمد بن عامر الطائي ، ثنا أبي، ثنا علي بن موسى الرضي ، عن أبيه، عن جده جعفر بن محمد ، عن أبيه، عن جده، عن الحسين بن علي ، عن علي بن أبي طالب ، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم « إذا سميتم الولد محمدا فأكرموه وأوسعوا له المجلس ولا تقبحوا له وجها» .
 
* حدثنا أبو العباس جعفر بن محمد الوراق ثنا محمد بن علي بن الحسن ، ثنا عبد المؤمن بن خلف ، ثنا جدي: الطفيل بن زيد ، وثنا نصر بن عبد الكريم ، ثنا محمد بن الفضل ، عن عثمان بن عطاء ، عن أبيه، قال: « ما من امرأة حبلى جعلت في نفسها إن ولد لها غلام أن تسميه محمدا إلا ولدت غلاما، وما من أهل بيت فيهم اسم محمد إلا لم يزالوا يتعارجون ما دام بين أظهرهم» .
 
* أخبرنا عبد الله بن محمد بن رضوان ، ثنا أحمد بن محمد بن الحصين الإستراباذي ، ثنا أبي، ثنا عبد الله بن محمد بن خلاد ، ثنا عبد الرحمن بن محمود بن جبلة ، حدثتنا زبيدة بنت سعد ، قالت: « حدثتني أم كلثوم بنت قطبة، عن أمها جليلة بنت عبد الجليل قالت: قلت: يا رسول الله، أنا امرأة لا يعيش لها ولد فما تأمرني؟ فقال: اجعلي لله عليك أن تسميه محمدا فإنه يعيش قالت: ففعلت فعاش فما....... أهل بيت أكثر منه» .
 
* قال ابن بكير : حدثنا عبد الله بن أحمد بن عبد الرحمن الذهبي أبو الطيب ، وعبيد الله بن يحيى بن زكريا بن يزيد بن أبي عمرو الدقيقي ، قالا: أنبأنا أبو طالب عبد الله بن محمد بن الحسن بن شهاب العكبري ، حدثنا أبو القاسم عبد الله بن محمد بن غياث الهروي الخراساني ، حدثنا أحمد بن عامر بن سليمان الطائي ، حدثنا علي بن موسى الرضا ، عن آبائه ، مرفوعا : « إذا سميتم محمدا فأكرموه وأوسعوا له في المجلس ولا تقبحوا له وجها» .
 
* ابن بكير : حدثنا حامد بن حماد بن المبارك العسكري ، ثنا إسحاق بن يسار أبو يعقوب النصيبي ، حدثنا حجاج بن المنهال ، حدثنا حماد بن سلمة ، عن برد بن سنان ، عن مكحول ، عن أبي أمامة ، مرفوعا : « من ولد له مولود فسماه محمدا تبركا به كان هو ومولوده في الجنة» .

Related Posts:

REVOLUSI JILBAB AMERIKA

Oleh: Jum’an Basalim
 
Anda mungkin pernah membaca tulisan saya “BAGAIMANA RASANYA TIDAK PAKAI JILBAB“  tentang pengalaman Nadia El-Awady, ibu 4 anak dari Kairo, President World Federation of Science Journalist ketika dia mencoba untuk tampil tanpa jilbab didepan umum yang sudah dikenakannya selama 25 tahun. Ia berfikir mengapa memakai jilbab dianggap wajib. Apakah benar-benar wajib atau hanya keputusan sekelompok laki-laki yang menganggap paling sesuai pada zaman itu untuk melindungi kaum wanita? Apa harus sama sampai sekarang? Berikut ini satu lagi topik mengenai jilbab dari aspek yang sangat berbeda yang kebetulan melibatkan seorang wanita asal Kairo juga yaitu Leila Ahmad (72 th.) professor Harvard, pakar theology dengan minat kuhusus dalam bidang feminisme Islam. Ia akan menerima penghargaan Grawemeyer Award untuk bidang Agama 2013 dari Universitas Louisville berkat bukunya “Revolusi Damai: Kebangkitan Jilbab, dari Timur Tengah sampai Amerika”. (A Quiet Revolution: The Veil’s Resurgence in…)
 
Ia dianggap berjasa untuk ide-ide yang dituangkan dalam bukunya itu. Ia bukan saja berhasil menjelaskan berbagai makna jilbab dalam tradisi Islam yang beragam, tetapi yang paling penting analisanya bahwa terutama di Amerika sesudah peristiwa serangan WTC 11 Sept. 2001, jilbab membawa makna baru dalam interaksi antara gerakan Islam dan tradisi Amerika dalam perjuangan untuk kebebasan dan keadilan. Profesor Shannon pada pemberian penghargaan itu mengatakan: “Buku itu merupakan pembuka mata yang luar biasa  yang memberikan pendidikan, wawasan dan harapan.” Dimasa muda Leila di Mesir wanita yang mengenakan jilbab menunjukkan atau dianggap bahwa mereka adalah muslimah yang taat. Dia ingin tahu mengapa jilbab kembali mengalami masa jaya sekarang. Leila Amad mengamati bahwa dalam 10 tahun terakhir ini, semakin banyak wanita Islam di Amerika yang sehari-hari mengenakan jilbab. Pada mulanya ia menyangka bahwa ini ada hubungannya dengan gerakan Islam fundamentalis, atau penolakan terhadap kesetaraan gender dari pengaruh dominasi kaum pria dalam dunia Islam (yang ia sebut sebagai Islam Patriarkal). Tetapi dalam penelitiannya ia menemukan fakta yang sebaliknya yaitu sebagian mereka mengenakan jilbab sebagai symbol gerakan untuk perubahan sosial dan keadilan.
 
Setelah mewawancarai banyak wanita Islam dari berbagai latar belakang diseluruh dunia ( para feminis, nasionalis Arab, putri-putri Islam yang saleh dan para aktivis) ia mengungkapkan bahwa banyak dari mereka mengenakan jilbab sebagai symbol suatu gerakan dan untuk menegaskan identitas mereka, terutama di Amerika setelah 11 September 2001. Dengan jilbab mereka ingin mengatakan “Saya bangga menjadi Muslim dan saya ingin menunjukkan kepada anda, anda tidak usah berprasangka buruk terhadap orang Islam”. Sebagian lain berharap jilbab mereka akan membuat wanita lain berpipikir tentang gaya berpakaian mereka sendiri serta sebagai bukti keadilan sosial dan pengabdian. Sementara aktivisme sering memotivasi wanita untuk mengenakan jilbab, komitmen agama tetap menjadi alasan penting juga. "Banyak wanita mengenakan jilbab karena mereka percaya bahwa Allah menghendaki demikian" kata Leila Ahmed. Ia berpendapat bahwa dalam konteks Islam di Amerika masa kini, memakai jilbab jutru dapat menandakan tuntutan kesetaraan.
 
Sebelum pindah ke Amerika sebagai pengajar dan penulis, Leila yang kelahiran Kairo 1940 memperoleh gelar Doktornya dari Universita Cambridge Inggris.  Ia memfokuskan diri pada femisnisme Islam, terkenal karena karyanya tentang status historis dan sosial wanita dalam komunitas muslim. Ia khusus meneliti peran wanita dalam kaitannya dengan Islam, dan giat memerangi anggapan yang salah tentang wanita Islam baik didalam maupun diluar dunia Islam. Dalam hampir semua tulisannya ia berusaha untuk menghilangkan mitos serta kesalah-fahaman tentang Islam yang dipegang oleh orang-orang non muslim.

Related Posts: