SHAKUNTALA DEWI, WANITA SATU-SATUNYA

Oleh Jum’an

Bila anda akrab dengan dunia perwayangan terutama eposMahabarata anda mungkin mengenal tokoh Dewi Sakuntala, permaisuri RajaDuswanta leluhur kaum Pandawa dan Korawa. Konon ibunya adalah seorangbidadari dari kahyangan. Rasanya saya pernah memiliki gambar Dewi Sakuntalaberukuran 3X4 cm untuk bermain Umbul Wayang dimasa kanak-anak dahulu. Diaadalah tokoh fiktif dalam mitologi Hindu. ShakuntalaDewi yang saya tulis ini adalah seorang wanita dalam kehidupan nyata. Namanyasangat mungkin diilhami dari mitologi yang sama karena dia adalah wanita Indiayang juga beragama Hindu. Ia lahir pada 4 November 1929 didaerah kumuh diDistrik Bangalore India Selatan. Orang tuanya termasuk kasta Brahmana yangmiskin. Ayahnya menolak mengikuti tradisi keluarga untuk menjadi pendeta, ia justrumenjadi pemain sirkus, yang mahir dalam akrobat, permainan tali, penjinak singadan adegan manusia yang ditembakkan dengan meriam. Menurut pengakuan ShakuntalaDewi dalam MajalahHinduism Today, ibunya menikah pada umur 14 tahun dengan ayahnya yangberusia 60 tahun. Pada usia 3 tahun, ketika diajak bermain kartu, ayahnya sadarbahwa Dewi mempunyai kemampuan yang luar biasa dalam mengingat angka-angka.“Ini dia rejeki  kiriman Tuhan!”pikirnya. Ia pun terkenal melalui pertunjukan kemampuannya di sirkus, dan jugapertunjukan keliling yang diatur oleh ayahnya. Merekapun memperoleh kehidupandari situ. Ketika berumur 5 tahun Dewi sudah mahir hitung menghitung diluarkepala, sekaligus  menjadi satu-satunyapencari nafkah untuk keluarganya yang beranggotakan 10 orang. Ini mendorongnyauntuk melatih diri setiap hari agar bisa terus melakukan pertunjukan untukmendukung kehidupan keluarganya. "Pada usia 6 tahun, saya memberikanpertunjukan besar pertama saya di Universitas Mysore, dan ini adalah awal darimaraton saya dalam pertunjukan publik." Dewi menunjukkan bakat matematikanya di seluruh dunia, di perguruan tinggi, di bioskop, radio, dan televisi.

Ketika ia muncul di BBC tahun 1950, jawabannya terhadapsoal perhitungan yang sulit ternyata berbeda dari pewawancara.  Ternyata Dewi yang benar. Demikian pula yangterjadi di Universitas Roma. Tahun 1976 The New York Times menyatakan kagumpada kemampuannya: "Dia bisa menjawab akar pangkat tiga dari 188.132.517 -atau hampir semua bilangan lainnya - dalam waktu yang dibutuhkan untukmengajukan pertanyaan. Ia dapat menyebutkan jatuh pada hari apa setiap tanggalpada abad terakhir.” Tetapi bagaimanapun Shakuntala Devi manusia biasa.Terhadap pertanyaan “jatuh pada hari apa saja tanggal 14 pada tahun 1935”, semuanyadijawab dengan benar kecuali 14 Januari adalah Senin bukan Selasa dan 14Desember adalah hari Sabtu bukan Minggu.

Pada 1977, di Southern Methodist Univ. di Dallas, iamenghitung akar pangkat 23 dari bilangan 201 digit (terdiri dari 201 angka)dalam 50 detik dengan tepat, mengalahkan komputer Univac, yang menyelesaikannyadalam 62 detik. Pada tahun 1980, dia dengan benar mengalikan dua buah bilangan13 digit hanya dalam 28 detik di Imperial College di London. Prestasi yangtercatat dalam Guinness Book of World Records 1982 ini adalah luar biasa karenawaktu 28 detik itu termasuk untuk mengucapkan jawaban yang 26-digit itu. Inidia angka-angka itu: 7.686.369.774.870 X 2.465.099.745.779. Jawabannya adalah18.947.668.177.995.426.462.773.730. “Ini adalah rahmat Tuhan semata. Saya tidakberjasa apa-apa” kata Dewi tentang kemampuan dirinya. Ia dapat mengadakanpertunjukan sampai 2 jam, tetapi untuk melakukannya lagi ia harus menenangkandiri dua atau tiga hari. Menurut Prof Arthur Jensen, dalam penelitiannyatentang Shakuntala Dewi: "Dewi menjawab hampir semua soal lebih cepat darikecepatan saya menyalinnya di notebook saya." Jensen meberikan dua soal,akar pangkat tiga dari 61.629.875, dan akar pangkat tujuh dari 170.859.375.Shakuntala Dewi memberikan jawaban yang benar yaitu 395 dan 15, bahkan sebelumistri Jensen mulai menekan stopwatch.

Itulah Shakuntala Dewi, genius matematika yang tak adaduanya. Ia tidak mempunyai pendidikan formal. Ia pernah masuk sekolah tetapi dikeluarkankarena ayahnya tidak mampu bayar. Berasal dari keluarga yang tidak biasa, masakanak-kanaknya tidak bahagia; ia bercerai dengan suaminya yang ternyata seoranggay. Ayahnya terbiasa memukuli ibunya. Bahkan ketika sebagai kanak-kanakShakuntala menolak untuk mengadakan pertunjukan karena sedang malas, ayahnyamemukuli ibunya dan ibunya memukuli Shakuntala. Kata Dewi, ibunya merasakan pukulansuaminya sebagai rahmat; lebih baik daripada dipukul tetangga. ShakuntalaDewi meninggal pada 21 April 2013 di Bangalore India pada usia 83 tahunkarena masalah pernafasan dan jantung. Ia meninggalkan seorang anak perempuan bernamaAnupama. Untuk mengingat hari kelahiran Shakuntala Dewi, pada tanggal 4November 2014 yang lalu logo Googletampil dengan gambar Dewi dan tulisan google dengan angka-angka kalkulatorterbalik.

Note: Link yg dpt di-cklick, visit: 

Related Posts:

MISKIN SALAH SENDIRI?

Oleh:Jum’an

Ketika saya menderita sakit, tidak sedikit orang-orangyang peduli memberi nasehat agar saya banyak-banyak istighfar, berzikir, membacaAl-Qur’an serta bersedekah. Tujuannya tentu saja agar saya memperolehkesembuhan disamping berobat dokter. Saya meng-iyakan saja nasehat mereka; tetapitidak banyak yang bisa saya lakukan. Ada hal yang tidak mereka ketahui tentangsaya: bahwa penyakit yang saya derita (dan juga kebanyakan penyakit) telahmelumpuhkan semangat dan mengkaburkan kejernihan berfikir, tidak lagi seperti ketikasaya dalam keadaan sehat, pikirang terang. Saat sehat, satu doa pun sayaulang-ulang. Istighfar dan zikir enteng. Bacaan Qur’an-pun terasa pesonanya. Begitulahagaknya keadaan orang yang menderita kemiskinan. Kemiskinan itu telahmelumpuhkan akal sehat dan nalar mereka. Anjuran agar bekerja lebih giat,mengajukan kredit usaha kecil dengan memenuhi berbagai persyaratan danmelampirkan macam-macam bukti. Formulir, meterai, stempel. Apalagi mengikutimacam-macam kursus kewira-usahaan. Semua tidak mudah dicerna oleh otak mereka. Ibaratmengajak pengemis berolah raga!

Banyak bukti penelitian yang menyatakan bahwa akibat kemiskinan,seperti khawatir apakah besok-besok masih bisa makan atau tidak, bagaimana membayarhutang yang menumpuk, dapat merongrong balik menjadikan simiskin kekurangankekuatan mental dan daya pikir untuk mengatasi kemiskinannya. Penelitian DeanSpears dari Univ. Princeton (2011) mengaitkan kemiskinan denganmenurunnya pengendalian diri; bahwa kemiskinan mempersulit pengambilankeputusan ekonomi dan melumpuhkan pengendalian perilaku. Penelitian lainjuga menemukan bahwa kemiskinan merusak kemampuan untuk mengendalikan diri. Tiaporang memiliki energi mental terbatas. Makin banyak energi itu dihabiskan untukmenghawatiran kebutuhan dasar sehari-hari, makin sedikit yang tersisa untukmembuat perencanaan dan keputusan yang sehat dalam jangka pendek dankeberhasilan jangka panjang. Orang miskin sering mengalami rasa putus asa yangmelumpuhkan. Khawatir dapat menjadi umpan balik yang cenderung menyempitkanpandangan, semacam jerat yang sulit dilepaskan.

Sebuah studiyang diterbitkan jurnal Science menunjukkan bahwa stres karena kekhawatirankeuangan dapat benar-benar merusak fungsi kognitif orang miskin. Data dariorang-orang berpenghasilan rendah di Amerika dan petani miskin di India, sama-samamembuktikan bahwa baru merenungkan rencana keputusan saja, sudah melemahkan kinerjaotak mereka. Orang miskin Amerika yang diminta untuk memikirkan perbaikan mobildengan biaya yg tinggi, ketika menjalani test kemampuan berfikir hasilnya lebihburuk dibanding mereka yang diminta memikirkan perbaikan mobil dg biaya yglebih rendah ataupun dari orang yang lebih kaya. Para peneliti itu juga mengamatihasil test kemampuan berfikir para petani miskin di Tamil Nadu India, sebelumdan sesudah musim panen. Daya pikir para petani sesudah panen (meskipun belummenikmati hasilnya) yg merasa lebih aman ternyata lebih baik daripada sebelumpanen yang masih merasa khawatir. Temuan ini menambah bukti bahwa bahayakemiskinan tidak terbatas pada dampak langsung dari kekurangan materi, tetapiberakibat pada menurunnya kemampuan berfikir, yang penting bagi kita bila inginmemahami tentang orang miskin. Berdasarkan kenyataan itu diadakanlah penelitiantentang manfaat bantuan langsung tunai tanpa syarat kepada orang miskin.Para peneliti telah menemukan bahwa pemberian uang tunai satu kali untuk pendudukmiskin di Uganda telah menghasilkan peningkatan besar dalam pendapatan mereka selama4 tahun berikutnya.  Mudah dipahami bahwasuntikan dana awal itu telah memberi hasil yang nyata. Tapi kemungkinan besar justrukelegaan mental yang ditimbulkan oleh bantuan tunai tanpa syarat yangsebenarnya menjadikan mereka dapat mengambil keputusan dan pemecahan masalahyang lebih tajam.

Pemikiran yg menggurui, bahwa kita harus berhati-hatidalam memberi bantuan, dan mengharuskan untuk melampirkan persyaratan yang rumitdan seleksi, mungkin justru dapat menambah masalah kemiskinan. Para pemimpinberpikir, orang miskin diberi bantuan gratis hanya akan menjadikan merekatambah malas! Sesederhana itukah? Bukti dari Uganda diatas menunjukkansebaliknya. Dimanapun, tekanan kekhawatiran keuangan yang berterusan merupakanpenghalang besar bagi pengambilan keputusan yg bijak yang dibutuhkan olehorang-orang dalam keadaan sulit untuk berhasil. Jadi jangan katakan bahwamereka miskin akibat perilaku mereka sendiri. Jerat kemiskinan yang sulitdilepaskan telah melumpuhkan mereka sehingga idak bisa berperilaku produktif.

Note: For links, visit : 

Related Posts:

SEBERAPA SETIA ANDA PADA NEGARA?

Oleh: Jum’an

Filosof Yunani Socrates (469 SM - 399 SM) suka mempertanyakanhal-hal yang aneh dan menjengkelkan yang mengganggu pandangan yang sudah mapan,terus menerus menantang para penguasa. Orang yang wajahnya tidak tampan, bertubuhgempal dan tidak pernah memakai alas kaki ini, berkeliling kemana-mana menanyaipara pemuda serta masyarakat  tentangkeadilan dan kebijaksanaan. Perilakunya itu membangkitkan kebencian parapenguasa kepadanya yang menyebutnya sebagai lalat yang usil.  Kebencian akhirnya memuncak dan Socratesditangkap dan diadili didepan 500 orang juri kota Athena. Ia diadili dengantiga tuduhan yaitu meracuni pikiran generasi muda, tidak mempercayai para dewadan memperkenalkan agama baru. Juri menjatuhkan hukuman mati dengan meminumracun setelah dilakukan voting yang hasilnya 280 setuju dan 220 menolak.Sementara menunggu eksekusi, diruang tahanan ia bertemu dengan sahabatnya Critoyang menawarkan bantuan untuk melarikan diri dari tahanan karenakeputusan hukuman mati itu dianggapnya sangat tidak adil dan sarat dengankepentingan politik. Socrates menolak dengan alasan bahwa merespon ketidak-adilandengan ketidak-adilan adalah salah. Inilah argumentasi Crito: Jika eksekusisampai terlaksana , orang akan mengatakan bahwa Crito dan teman-temannya tidak mampumenolong Socrates yang sebenarnya mempunyai banyak pendukung. Dari segi moraltidak adil kalau Socrates mengikuti kehendak musuh-musuhnya karena itu merupakanpilihan termudah, bukan pilihan yang berani, terhormat dan luhur. Ini adalahjalan kematian yang tidak adil. Socrates adalah pengecut jika tidak melawan. Sebagaiseorang ayah Socrates juga wajib memelihara dan mendidik tiga orang anaknya sertamencegah agar mereka tidak menjadi anak yatim. Jika itu terjadi berartiSicrates mengkhianati anak-anaknya. Pokoknya kegagalan untuk melarikan diri daritahanan akan sangat konyol kerena teman-teman Socrates tidak becus menangaimasalah, pengecut dan memalukan.

Socrates menjawab bahwa ia harus mengikuti bimbinganakal dengan argumentasi yang direnungkan dengan matang. Ia berpendapat, jikamelakukan ketidak-adilan adalah tidak baik, maka tidak baik juga melakukanketidak-adilan dalam menanggapi ketidak-adilan. Crito setuju; tapi itu belummenjawab apakah adil atau tidak bagi Socrates untuk melarikan diri dari tahanan.Lalu Socrates mempertanyakan apa kata hukumnegara seandainya ia berhasil melarikan diri. Menurut Socrates hukum akanmengatakan bahwa pelarian dirinya adalah merusak dan tidak adil. Selanjutnya hukumnegara akan mengatakan bahwa hubungan antara warga dengan negara adalah sepertianak dengan orang tuanya, seperti budak dengan tuannya. Hukum akan mengatakanbahwa negara telah memberikan kepada Socrates kelahiran, pengasuhan pendidikandan keikut-sertaan dalam semua manfaat dankebaikan yang disediakan bagi semua warga. Hukum akan menanyakan bukankah Socratestelah sepakat menjadi seorang warga negara berdasarkan persyaratan yangditetapkan. Socrates tidak menyatakan bahwa ia puas dengan jawaban hukum ini, malahjustru bertanya kepada Crito apakah mereka tidak harus menerimanya saja. Critomengatakan mereka harus menerimanya saja …… dan begitulah Socrates di eksekusidengan meminum racun pada usia 70 th.

Orang Amerika dapat meninggalkankewarganegaraan mereka secara sukarela; yang dikenal dengantindakan ekspatriasi. Dari 2011 sampai kwartal ketiga 2013 tercatat 2400 orang melepaskankewarga-negaraan mereka dan terus meningkat dari tahun ketahun. Kebanyakanmereka adalah orang kaya dengan alasan menghindari pajak yang terlalu berat. Seseorangtentunya berhak untuk bertindak sesuai denan cara yang menguntungkan dirinya.Orang kaya yang melepaskan kewarga-negaraannya demi pajak berpendapat merekaberhak melakukannya demi keuntungan mereka dan itu adalah kalkulasi yangrasional. Penghematan pajak sangat berarti bagi orang kaya, terutama jikamereka tidak terlalu membutuhkan kelebihan sebagai warga negara Amerika, ataumereka bisa mendapat keuntungan yang sebanding dg menjadi warga negara lain ygpajaknya tidak terlalu memberatkan. Sebenarnya orang kaya tidak terlalumenderita oleh pajak yg tinggi. Umumnya mereka mahir merekayasa peraturan pajakyg rumit untuk mengelak. Lagipula melepaskan kewarga-negaraan Amerika bukan halyang ringan. Mereka tidak hanya kehilangan perlindungan dari pemerintah AS, tapijuga keuntungan finansial tidak segera dirasakan. Bahkan, mantan warga negaraAS diharuskan untuk mengajukan pengembalian pajak selama beberapa tahun setelahmelepaskan kewarga-negaraan. Mungkin mereka berpikir, meskipun begitu masihlebih menguntungkan dibanding menjadi warga Negara Amerika. Buktinyasudah sejak lama orang-orang kaya disana melepaskan kewarganegaraan mereka.

Tetapi rasanya melepaskan kewarga-negaraan, lebih-lebihdemi uang (siapapun termasuk kita) secara moral mencurigakan. Dimana  patriotisme dan nasionalisme mereka? Dimana rasapersatuan dan kesetiaan mereka kepada negara? Belum lagi tuduhan sebagai orangyang egois. Apakah anda lebihmenyukai sikap Socrates yang menganggap hubungan antara warga dengan negaranya sepertianak dengan orang tuanya atau bahkan budak dengan tuannya sehingga melepaskankewarga-negaraan berarti mengkhianati orang tua yang telah mengasuh danmembesarkan anda? Atau seperti orang kaya Amerika yang menganggap hubunganantara warga dengan negaranya adalah hubungan bisnis belaka, bahwa warga negarapada dasarnya adalah pelanggan?

Note: Untuk referensi lihat di :

Related Posts:

KESAHAJAAN SEORANG MUJAHID

Oleh: Jum’an

Zainal Abidin Muhamad HusainAbu Zubaidah atau Abu Zubaidah atau Zain atau Hani adalah tokoh Al-Qaedayang sekarang berumur 42 tahun dan sudah lebih dari 10 tahun berada dalam kamptahahan Guantanamo, Cuba. Menurut versi Amerika Abu Zubaidah adalah dedengkotteroris yang sangat berbahaya. Ia dinyatakan sebagai orang nomor 3 dalam Al-Qaeda.Menurut dokumen Departemen Pertahanan Abu Zubaidah terlibat dalam semuaperencanaan aksi teror terhadap Amerika ketika ia menjadi petugas logistik AlQaeda. Ia adalah konspirator serangan 11 September 2001, tangannya ada disetiap operasi penting Al–Qaeda. PBB menjulukinya rekan terkemuka Osama binLaden dan Al-Qaeda. George Bush menamai Abu Zubaidah pimpinan perencanaanoperasi pembunuhan dan penghacuran." CIA mengakui Abu Zubaidah adalahsosok yg penuh keyakinan, percaya diri dan berwibawa. Selama interogasi pada zaman Bush berkuasa, Abu Zubaidahmenjalani 83 kali siksaan water-boardingdan mengalami banyak teknik interogasi yang kejam termasuk penelanjangan paksa,kurang tidur, disekap diruang sempit dan gelap, tidak diberi makan, posisistres , dan siksaan fisik lainnya.

Belum lama ini Jason Leopold dari Aljazeera menerimaterjemahan resmi bukuharian milik Abu Zubaidah dari seorang mantan pejabat intelijenAmerika. Buku harian enam jilid yang ditulis selama 20 tahun itu ditemukanketika Abu Zubaidah ditangkap pada 2002 di Pakistan. Bagi pejabat keamananAmerika buku harian Abu Zbaidah merupakan sumber informasi yang sangat berhargauntuk menemukan kelemahan mental dari tokoh yang menurut mereka memeganginformasi penting rencana masa depan Al-Qaeda. Buku harian ini tidak hanyapenting dari segi intelejen, karena isinya menunjukkan potret paling rinci darikehidupan pribadi seorang mujahid berdedikasi yang pernah kita lihat. Isinyamemperkuat kejelasan bahwa Amerika telah membuat kesalahan dasar yangsignifikan dalam menghadapi peristiwa serangan 11 September 2001 dan menghadapiancaman Islam radikal. Hani, nama panggilan Abu Zubaidah dalam keluarganya,adalah warga Palestina kelahiran Riyadh 12 Maret 1971. Anak ke 5 dari 10bersaudara - 5 laki-laki dan 5 perempuan dari suami-istri Muhamad Abu Zubaidah (pengusahakelas menengah dan guru bahasa Arab) dan Malikah;  Sang ayah ingin anak-anaknya memilikikehidupan yang lebih baik dan menekankan pentingnya pendidikan. Hani dikuliahkandi Fakultas Teknik jurusan komputer di India. Menurut adiknya Hisham, Hanisehari-hari mengenakan bluejean yang merisaukan ayahnya, yang menginginkananak-anaknya berpakaian tradisional Arab. Hani juga berbakat musik danpelindung Hisyam dari kenakalan teman-temannya. "Hani adalah kakak yangbaik," kata Hisyam. "Dia selalu ada ketika saya butuh pertolongan. Jikaanak-anak lebih tua mulai mempermainkan saya waktu bermain sepak-bola, Hanidatang menantang mereka. Hani selalu menekankan agar saya jangan maudipermainkan orang lain.” Menurut Hisyam, Hani tidak menunjukkan tanda-tanda ekstrimisme agama (Menurutversi Amerika dia termasuk pemuda Islam Saudi yang radikal). "Dia tidakpernah religius," kata Hisyam. "Dia suka merokok, bermain musik danbersenang-senang." Hani lulus SMA dan meninggalkan Saudi pada umur 16tahun dan sejak itu terpisah hingga kini. "Saya dan Hani adalah kambinghitam keluarga," kata Hisyam. "Semua saudara-saudara saya yang lainadalah dokter, profesor, psikolog. Aku tidak mampu bersaing dengan mereka."Ketika remaja Hani pernah pindah ke West-Bank bergabung dalam perjuanganmelawan Israel. Abu Zubaidah telah bergabung dengan Taliban sebagai sejak awal90-an, setelah mundurnya Soviet dari Afganistan dan tetap berada disana bersamaMujahidin melawan pemberontak komunis dan sisa-sisa mantan rezim Soviet,dan belakangan memimpin kamp pelatihan Al-Qaeda di Khalden Afganistan.

Tergantung orang menyebutnya, Teroris ataupun Mujahid, bukanlahsuperman, mereka bukan ahli taktik yang brilian atau prajurit yang sangatterlatih. Seringkali mereka adalah orang-orang sederhana yang berdebat dengansatu sama lain tetang hal-hal remeh, seperti terbaca dalam buku harian Hani.Tetapi Amerika menghadapinya secara all-out dengan biaya keuangan dan politikyang sangat besar.  Buku harian Hanimengungkapkan bahwa dia adalah seorang pria yang sangat anti Amerika, sekaligusmenyenangi budayaBarat seperti music pop dan soft-drink. Setelah invasi AS ke Afghanistan2001, Abu Zubaidah mencatat "Saya ingin melihat kejatuhan dan kehancuranAmerika dan Israel. Musuh-musuh Islam yang menduduki negeri kami, menghinabangsa kami, dan tdak menghargai agama kami.” Belum pernah terpikir dalam benakAmerika bahwa seorang penggemar Pepsi Cola dan lagu-lagu Barat bersediamelakukan tidakan yang begitu berani dan yakin disetujui oleh iman mereka. KenBallen, penasehat think tank Terror Free Tomorrow mengatakan: "Jika kitatidak mengerti apa yang memotivasi orang, bagaimana kita akan efektif berurusandengan mereka? Jika kita dapat memahami, kita dapat menanggapi. MenyerbuAfganistan tidak sedikitpun mencegah serangan lebih lanjut. Perang Irak yangsangat mahal juga kontraproduktif.”

Hani sangat menyukai lagu-lagu Chris de Burgh, penyanyiIrlandia terutama lagu "The Lady in Red". Ia mengeluhkan bahwalagu-lagu Chris membuatnya merasa haru – meskipun lembut dan indah tetapimembawa kesedihan dan kegelisahan jiwa, tulisnya pada 1990 dalam buku hariannyayang pertama. Hani juga penggemar film-film India. Ia menulis bahwa film RamboIII - di mana Sylvester Stallone bergabung dengan pasukan Afghanistan untukmelawan Soviet – adalah konyol.... saya tak kuat menawan tawa menonton filmini. Dia juga sering menulis tentang keluarganya dan kerinduan yang mendalamuntuk mempunyai istri dan keluarga sendiri - sesuatu yang tidak sejajar dengan gairahnyamencari kesyahidan. Suatu kali ia membayangkan hidup berumah tangga, bermain danmenyayangi anaknya dan bahkan menamparnya bila perlu. “Ya! Menamparnya, kenapatidak?" Pada tanggal 20 Maret2002, Abu Zubaidah menulis catatan harian terakhirnya: "Tidak ada yangbaru." Delapan hari kemudian, tepat pukul 2 pagi, CIA, FBI dan intelijenPakistan menggerebek 14 rumah di Faisalabad, Pakistan, dan menangkap 52tersangka, termasuk Abu Zubaidah.

Setelah bertahun-tahunAmerika melihat Abu Zubaidah sebagai tokoh utama bahkan orang nomor 3 dalamAl-Qaeda, pada 2007 CIA menyatakan menyadari bahwa Abu Zubaidah tidaklahsignifikan: “Maaf, kami menemukan bahwa anda bukan Nomor 3, bukan mitra, bahkanbukan seorang pejuang," Menurutpengacara BrentMickum dari The Guardian, ''Dia tidak pernah terbukti menjadianggota Taliban atau Al-Qaeda ataupun menjadi anggota atau pendukungdari angkatan bersenjata yang bersekutu melawan Amerika.” Tidak menghargaikesahajaan mereka telah membuat Amerika salah membayangkan mereka yangsebenarnya. Jika anda membaca buku harian Abu Zubaidah, ternyata mereka adalah laki-lakibiasa.

Untuk ref. lihat di :

Related Posts:

NIKAH DINI BUKAN SUNAH NABI

Oleh: Jum’an

Batas usia nikah untuk perempuan, menurut UU PerkawinanNo.1 Th.74 adalah 16 tahun dan untuk pria 19 tahun. Dalam PeraturanMenteri Agama No.11 th.2007, bila calonsuami belum 19 tahun dan calon isteri belum 16 tahun, mereka harus mendapatdispensasi dari pengadilan. Jika calon suami dan dan calon isteri belum genapberusia 21 tahun, harus ada izin dari orang tua atau wali mereka. Bila keduanyasudah lewat 21 tahun, mereka bebas menikah tanpa izin orang tua masing-masing.Agar tidak membingungkan, intinya batas usia nikah perempuan di Indonesia adalah16 dan laki-laki 19 tahun. Di India batas untuk prempuan adalah 18 tahun, pria21 tahn. Orang Islam yang melanggar undang-undang itu baik di Indonesia maupundi India kebanyakan beralasan bahwa Nabi Muhammad juga menikahi Aisyah padausia muda. Sementara kita tahu efek negatif dari pernikahan terlalu muda, untukmenghadapi alasan para pelanggar mungkin perlu diberikan keterangan yang lebih dapatmereka terima. Dibawah ini sebagian penjelasan dari Dr. Amina Wadud  Professor Emerita (pari-purna) StudiIslam dalam blognya yang berjudul “EarlyMarriage and Early Islam”  yangmenjelaskan bahwa Sunah sebagai alasan utuk nikah dini adalah keliru. BulanOktober yang lalu, Sembilan Organisasi Islam di Kerala, India, dimana Dr. Aminatinggal, telah mengadakan pendekatan dengan Mahkamah Agung untuk dapat mengecualikanperempuan Muslim dari undang-undang yang mengatur usia perkawinan minimum.Menurut mereka, larangan  Pernikahan Anak2006 yang berlaku sekarang, yang mengatur usia minimum 18 tahun untuk perempuandan 21 th untuk laki-laki, melanggar hak dasar kaum Muslimin untukmempraktekkan agama mereka.

India adalah negara berpenduduklebih dari 1 miliar dengan tingkat kemiskinan sebesar 22%, negara terburukke-55 dalam angka kematian ibu (450 per 100.000), dan angka kematian bayi,44-55 per 1000. Semua ini berhubugan langsung terhadap pernikahan anak (dini):kemiskinan, angka kematian ibu, dan dengan demikian kematian bayi secaralangsung berkaitan dengan usia perkawinan nasional. Dengan demikian salah satucara mengentaskan kemiskinan, menyelamatkan ibu, dan bayi adalah denganmencegah perkawinan dini. Sejak diberlakukannya UU Perkawinan Anak di Indiapada 2006, angka kematian ibu dan bayi telah menurun dari tahun ketahun. Tetapiorganisasi Islam di Kerala justru meminta Mahkamah Agung agar kaum muslimindikecualikan karena "melanggar hak dasar untuk mempraktekkan agama mereka"! Mereka juga tidak memberikan bukti bahwa pernikahan anak adalah"fundamental" bagi agama kita, yang tanpanya akan "menghalangi"upaya kita untuk menjalankan agama. Karena tidak adanya bukti-bukti seperti ituDr. Amina berusaha untuk menggambarkan secara obyektif proses sejarah danbudaya yang mungkin menyebabkan kesalah-pahaman seperti itu.

Cukup bukti bahwa salah satuistri Rasulullah berusia di bawah 18 ketika mereka menikah. Hal itu tidak anehdan tidak aib disana pada waktu itu. “Ibu saya belum berusia 18 ketika menikahdengan ayah saya, dan terjadi pada abad 20 di Amerika yang Demokratis” tulisDr. Amina. “Sementara saya mengakui bahwa ini memang terjadi, saya tidakmenetapkan itu sebagai model untuk seterusnya. Yang ingin saya tunjuk adalahcara berfkir miring yang memaksakan bahwa peristiwa seperti ini merupakan modeluntuk seterusnya. Kita ambil contoh Rasulullah. Kita mengikuti Sunnah Rasul sebagai salah satusumber utama hukum, etika dan perilaku. Sunnah artinya "perilaku normatifNabi Muhammad saw.” Kita berkata, "normatif", karena Nabi jugadikenal mempunyai perilaku istimewa dalam praktek spiritualnya, ibadah, dankedudukan sosial. Kekecualian ini tidak memiliki kekuatan pada masyarakat dantidak pernah dikodekan menjadi undang-undang sebagai rekomendasi, persyaratan,ataupun "fundamental". Misalnya, Nabi menikah 9 kali. Semua, kecualisatu dari istri-istrinya sebelumnya pernah menikah, dan mengingat waktu di manamereka tinggal, mereka cukup tua. Istri pertamanya, Khadijah, yang beliaunikahi pada saat ia menerima panggilan kenabian, adalah 15 tahun lebih tuadarinya: Nabi 25, Khadijah 40. Pernikahan mereka berlangsung selama lebih dari 25tahun, sampai Khadijah meninggal. Mereka menghasilkan empat anak perempuan yanghidup. Selama itu Nabi tetap melakukan monogami, meskipun kebiasaan poligamipada waktu itu sudah berjalan. Karena pernikahan ini adalah yang terpanjangbagi Nabi, mengapa bukan ini yang dijadikan standar kita mengukur normatif atauSunnah?

Selain itu, semua istrinya,kecuali satu, adalah wanita yang lebih tua, sudah menikah sebelumnya, (baikbercerai atau janda). Karena itu, menjadikan pernikahan Nabi dg Aisyah yangmasih muda sebagai preseden (kejadian awal dan dapat dipakai sbg contohselajutnya) adalah jelas miring. Menurut Dr. Amina juga keji, memutar-balik citraNabi, menghina nama Islam dan jelas berbahaya……. Syech Puji, ketahuilah itu!.
Sumber :
https://www.facebook.com/notes/juman-basalim/nikah-dini-bukan-sunah-nabi/10152114385038984

Related Posts:

FAUSTIAN BARGAIN DAN BULUS JIMBUNG

Oleh: Jum’an

Faust adalah seorang ilmuwan yang menjual jiwanya kepada setan.Meskipun hanya merupakan fiksi dalam karya sastra (Goethe 1749-1832), legenda Faust sebenarnyadidasarkan pada tokoh nyata, seorang penyihir yang hidup di Jerman pada abad ke15. Ia telah belajar bertahun-tahun tanpa prestasi yang memuaskan, sehinggakehilangan iman dan idealisme. Dia ingkar kepada Tuhan dan membuat kesepakatanberbahaya dengan Iblis di mana ia menyerahkan jiwanya pada kutukan abadi denganimbalan memperoleh kekuasaan dan pengetahuan dalam kehidupan. Legenda ini telahmenginspirasi banyak penulis besar, musisi, dan seniman lainnya. Banyak sekalivariasi pada tema dalam teater, musik, film, puisi, seni, dan sastra. Kini nama"Faust" telah melekat pada citra tokoh yang berkuasa yang kesombongandan keangkuhannya menyebabkan kehancurannya. Istilah “Faustian bargain” menunjukpada kesepakatan aib untuk memperoleh kekuasaan duniawi dengan mengorbankannilai spiritual yang lebih tinggi.

Dr Johann Georg Faustadalah seorang ahli kimia yang lahir di Jerman pada 1466. Ia meninggalkanjabatannya sebagai pengajar di Kreuznach setelah menganiaya beberapa anaklaki-laki di sana. Dia pindah Universitas Heidelberg untuk belajar, danmemperoleh gelar dalam theology pada 1509, lalu hijrah ke Polandia untuk mempelajariilmu sihir di Universitas Kraków. Pendeta Martin Luther yakinbahwa Faust mengikat kesepakatan dengan setan. Setelah itu Faust muncul diUniversitas Erfurt di Jerman tengah. Dia diusir oleh Pendeta Katedral Dr Klingekarena menolak untuk bertobat. Ia mengaku telah menandatangani perjanjiandengan Iblis, dan bahwa ia lebih percaya Iblis daripada Tuhan. Sementara itukejeniusan serta ketenarannya makin tersohor. Faust telah meramal dengan tepatbahwa Uskup Franz von Waldeck akan berhasil merebut kota Münster, dan prediksinyatentang hasil ekspedisi Philipp von Hutten ke Venezuela terbukti benar. Sekaliketika berada di penjara, ia berkata kepada pendeta penjara bahwa ia dapatmenghilangan rambut diwajahnya tanpa pisau cukur asalkan di diberi sebotolanggur. Setelah sang pendeta menyediakan anggur, Faust memberinya saleparsenik, yang ketika dicoba bukan hanya rambut, kulit muka pendeta itupunterkelupas. Faust meninggal pada 1540. Dalam legenda dikatakan ia mati mengerikan,Iblis telah mencabik-cabik tubuhnya, membuangnya keatas kotoran dan matanyaterpaku di tembok.

Perjanjian dengan iblis untuk memperoleh kekayaan dengantebusan jiwa adalah yang di Jawa disebut upaya nyupang atau pesugihan. Jika Faustmenjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan dan pengetahuan tak-terbatas (meskisetan hanya memberinya sedikit) dan tidak melibatkan nyawa orang lain sebagaitebusan, penganut ilmu pesugihan biasanya hanya menuntut kekayaan berupa harta,dan mengorbankan jiwanya serta nyawa anak-anak atau anggota keluarga lainnya. DiKlaten (Jateng) ada ilmu pesugihan yang disebut “bulus jimbung”. Pelakunya selain menjadi kaya dalamwaktu singkat dan misterius, badannya ditandai belang-belang yang makin lamamakin menjalar. Ia juga harus merelakan anaknya meninggal tiap tahun, atauorang lain serumah yang dipelihara sebagai tumbal. Konon roh pelakunya akanberubah menjadi “kura-kura belang”. Lokasi untuk membuat kesepakatan nista iniada di Desa Jimbung, Kalikotes, Kabupaten Klaten. Tempat-tempat menuntutpesugihan yang lain misalnya Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah, Gunung KawiJawa Timur, Parangtritis Yogyakarta serta Gunung Gede Cibodas JawaBarat.

Orang Jawa yang santun dan andap-asor maupun orangAmerika yang gagah perkasa dapat sama-sama musyriknya, menjual jiwanya kepadasetan, rela masuk neraka abadi. Bukan sekedar dalam arti kiasan tetapi nyatademi kekayaan, kekuasaan, ketenaran dan kenikmatan hidup didunia. Dengan tumbaldan teknik yang sedikit berbeda, dalam era masa kini, Faustian bargain ataupunbudaya pesugihan nampaknya juga ditempuh oleh banyak politisi, penguasa maupunpengusaha. Mereka mengorbankan kepentingan rakyat untuk ambisi pribadi, mencuriuang negara untuk kampanye, korupsi untuk kemenangan partai. Para pengusahamenyengsarakan karyawannya dan mengemplang pajak untuk menebalkan kantongmereka. Semua tidak jauh berbeda dari perilaku Faust atau Pesugihan BulusJimbung yang musyrik itu bukan?

Links lihat di :

Related Posts:

BENARKAH SUAMI MENANGGUNG DOSA ISTRI DAN ANAKNYA?

Tergerak oleh pertnyaan di inbok dari Kang Yanto Sae. Akhirnya kutuliskan seadanya dulu. Selanjutnya Anda-anda sendirilah yang akan melengkapinya hehe...

Mungkin banyak yang menelan mentah-mentah tatkala saya atau mungkin Anda menuliskan dan atau membaca kemudian memahami tulisan berikut ini:
____________________

“Aku terima nikahnya fulanah binti fulan dengan mas kawin…”

Singkat, padat dan jelas. Tapi tahukah makna perjanjian/ikrar tersebut? “Maka aku tanggung dosa-dosanya si dia dari ayah dan ibunya, dosa apa saja yang telah dia lakukan, dari tidak menutup aurat hingga ia meninggalkan shalat. Semua yang berhubungan dengannya, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung, serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku.”

Jika aku gagal? “Maka aku adalah suami yang fasik, ingkar dan aku rela masuk neraka, aku rela malaikat menyiksaku hingga hancur tubuhku.” (HR. Muslim).
____________________

Saya mencoba menguraikan kembali dengan beberapa pertanyaan, perbandingan dilalah dan sedikit usul jawaban, dengan harapan statemen di atas tidak disalahpahami:

1. Benarkah suami menanggung dosa-dosa istri dan anaknya secara multlak tanpa alasan?
2. Karena di situ dicantumkan riwayat Imam Muslim, maka adakah yang bisa menampilkan teks Arabnya? Dikhawatirkan beda menterjemahkan, atau yang paling mengkhawatirkan adalah “dusta” atas nama Rasulullah Saw.

Perbandingan jawaban:

Seorang ayah atau ibu tidak menanggung dosa anaknya, suami tidak menanggung dosa istrinya, istri tidak menanggung dosa suaminya. Masing-masing menanggung dosanya sendiri-sendiri. Silakan rujuk ke kitab-kitab tafsir pada surat dan ayat berikut ini:
1. QS. an-Najm ayat 38-39,
2. QS. al-An‘âm ayat 164,
3. QS. al-Isrâ’ ayat 15,
4. QS. Fâthir ayat 18 dan
5. QS. az-Zumar ayat 7.

Bahwa seorang suami berdosa apabila istrinya melakukan maksiat, memang, tetapi dosa itu bukanlah menanggung dosa kemaksiatan yang dilakukan oleh istrinya, tetapi lebih karena suami tidak membimbing dan mengarahkannya ke arah yang benar. Jika seorang suami sudah menasehati, sudah mengajarkan dasar-dasar agama, sudah pula melarang agar tidak berbuat maksiat, lalu sang istri tetap melakukan maksiat di luar pengetahuan suami, tentu dalam hal ini suami tidak berdosa. Dosa sepenuhnya menjadi beban istri.

Dari situ dapat kita katakan misalnya dosa selingkuh yang dilakukan oleh seorang istri tanpa sepengetahuan suami menjadi tanggung jawab penuh sang istri. Tidak ditanggung oleh suaminya. Namun demikian, seseorang dinilai ikut bertanggung jawab dan berdosa atas perbuatan buruk orang lain kalau dia mempunyai peran dalam perbuatan itu.

Ketika ada orang meminta kepada kita untuk diantar ke rumah pelacur untuk berzina, misalnya, lalu kita mengantarnya, kita ikut berdosa. Dosa kita itu bukan karena zina yang dilakukan oleh orang tadi, tetapi karena kita berperan atau mempunyai andil membuat dia pergi ke tempat itu. (Pada saat itu kita bisa memilih untuk mengantar atau tidak mengantarnya. Pilihan kita untuk mengantarnya itu yang membuat kita berdosa).

Maka jika suami mengetahui dan membiarkan istrinya berselingkuh, maka suami juga ikut berdosa. Dosa suami itu bukan akibat perbuatan selingkuh sang istri, tetapi karena sang suami membiarkan istri yang menjadi tanggung jawabnya melakukan maksiat.

Wallahu al-Musta’an A’lam

https://www.facebook.com/syaroni.assamfury

Related Posts:

DOA ZIARAH MAKAM NABI ATAU WALI

Doa Khusus Ketika Ziarah Ke Maqam Para Wali

(Ijazah dari KH Achmad Siddiq Jember, Pengasuh PPI As Shiddiqi Putera)

بسـم الله الرحمن الرحِيْم 

اَللهُمَّ لَآ اَمْلِكُ لِنَفْسِىْ نَفْعًا وَلَاضَرًّا وَلَامَوْتًـا وَلَاحَيَاةً وَلَانُشُوْرًا وَلَآ اَسْتَطِيْعُ أَنْ اَخُــــذَ اِلَّا مَـا أعْطَـــيْـــتَـنِيْ وَلَا اَتَّـقِيْ اِلَّا مَـا وَقَّـيْتَــنِيْ، اَللهُمَّ فَوَفِّقْنِيْ لِمَـا تُحِبُّ وَتَرْضَى مِنَ الْقَوْلِ وَالْعَمَلِ فِىْ عَافِيَةٍ

، اَللهُمَّ اَعِنَّاعَلَى دِيْنِنَا بِالدُّنْيَا وَعَلَى الدُّنْيَـا بِالتَّـقْـوَىْ وَعَلَى التَّقْوَىْ بِالْعَمَلِ وَعَلَى الْعَمَلِ بِالتَّوْفِيْقِ وَعَلَى جَمِيْعِ ذَالِكَ بِلُطْفِكَ الْمُـفْضِىْ اِلَـى رِضَاكَ،اَلْمُــنْتَهِىْ اِلَـى جَنِّتِكَ اَلْمَـصْحُوْبِ ذَالِكَ بِا لنَّظَرِ اِلَـى وَجْـهِكَ الْكَـرِ يْمِ، يَاهَادِيَ الْمُضِلِّـيْنَ وَيَا رَاحَـمَ الْمُــذْنِبِـــيْنَ وَيَامُقِـيْلَ عَثَرَاتِ الْعَاثِـرِيْنَ إِرْحَمْ عَبْدَكَ ذَاالْخَطَرِ الْعَظِـيْمِ، وَالْمُسْلِمِـيْنَ كُلَّـهُمْ اَجْمَعِيْنَ وَاجْعَـلنَا مَعَ اْلاَحْـيَاءِ الْمَـرْزُوْقِــيْنَ الَّذِىْ اَنْعَمْتَ عَلَـيْهِمْ مِنَ النَّبِـيِّـيْنَ وَالصِّدِّيْقِــيْنَ وَالشُّهَـدَآءِ وَالصَّالِحِـيْنَ اَمِـيْنَ يَارَبَّ الْعَـالَمِـيْنَ، يَا..................جئـتـُكمْ لِهَذِهِ الْحَاجَةِ فَأَشَدُّ مَـارَجَوْتُ لَهُوَ الدُّعَاءُ مِنْكُمٍ رَزَقَـنِيَ اللهُ نِعْمَـتَهُ وَرَحْمَـتَـهُ وَحُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَسَـلَّمَـنِيَ اللهُ مِنْ ضَيْقِ الدُّنْـيَا وَضَيْقِ يَوْمِ الْقِـــيَامَـةِ،

اَللهُمَّ اِنِّـىْ اَتَوَ سَّلُ وَأَتَشَفَّعُ بِهِ لِقَضَاءِ حَاجَاتِنَا مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْاَخِــرَةِ اِنْ كَانَ هَـذَا الْفِعْلُ خَيْرًالِّـىْ فِىْ دِيْــنِيْ وَدُنْــيَايَ وَمَعَـاشِىْ وَعَاقِبَةِ اَمْــرِيْ عَـاجِلِـهِ وَاَجِلِـهِ بِـرَحْـمَـتِـكَ يَـااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، لَكَ الْحَـمْدُ وَمِنَـكَ الْفَـرَجُ وَاِلَـيْكَ الْمُـشْتَكَىْ وَاَنْتَ الْمُسْتَـعَـانُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُـوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ الْعَــلِيِّ الْعَـظِــيْمِ،

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَـــــــيِّدِنَا مُحَمَّــدٍ وَعَلَى اَلِـــــــــهِ وَ صَحْبِــهِ وَسَـــــلَّـمَ

Keterangan :

Titik titik ............... pada doa di atas : sebut nama Nabi atau wali yang kita ziarahi, misalnya : ya (wahai) Nabi Muhammad saw, ya.. sunan ampel dlll

http://www.facebook.com/PeengajianNahwuDanTasawuf/posts/141744219360742?notif_t=like

Related Posts:

BANJIR BANDANG DI MEKKAH SAAT USIA RASULULLAH SAW. 35 TAHUN DAN LAHIRNYA PUTRI PERTAMA

Oleh : Sya'roni As Samfuriy

Disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 114: “Saat usia beliau Saw. 35 tahun, terjadilah peristiwa banjir bandang yang menerjang Ka’bah sehingga dinding-dinding Ka’bah retak. Kemudian para penduduk Makkah bergotong-royong membangunnya kembali dan beliau Saw. turut serta membangunnya.

Pada saat itu penduduk Makkah terbagi dalam beberapa suku atau kabilah. Setelah sampainya pembangunan pada peletakan Hajar Aswad, setiap kabilah menginginkan kehormatan bagi ketuanyalah yang meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Maka terjadilah pertengkaran yang sangat sengit di antara mereka.

Tak lama kemudian datanglah Abu Umayyah bin al-Mughirah, orang yang paling tua diantara mereka, untuk menengahi pertengkaran tersebut lalu berkata: “Wahai kaum Quraisy, demi kedamaian dan kebaikan kita bersama, kita serahkan saja masalah ini kepada siapa saja yang pertamakali masuk masjid lewat jalan ini.”

Akhirnya mereka pun menyetujui saran tersebut demi menjaga kedamaian dan kebaikan bersama. Dengan serentak mereka memperhatikan jalan itu dengan menunggu-nunggu siapa gerangan yang pertamakali datang. Tak lama kemudian muncul seorang yang paling tampan, berwibawa, paling dihormati serta dihargai dan paling terpercaya. Tiada lain dia adalah beliau Saw. Dengan serentak mereka mengucapkan: “Ia adalah Muhammad al-Amiin. Ia adalah Muhammad al-Amiin. Kami semua akan setuju dan menerima keputusannya.”

Sesampainya beliau Saw. di tempat tersebut, mereka memberitahu apa yang telah disepakatinya. Kemudian beliau Saw. dengan penuh hikmah menggelar sorbannya lalu diangkatlah Hajar Aswad itu dan diletakkan di tengah sorban. Kemudian beliau Saw. mempersilakan setiap ketua dari kabilah Quraisy untuk bersama-sama mengangkat sorban tersebut. Sesampainya di tempat peletakkan Hajar Aswad, beliau Saw. mengambil Hajar Aswad tersebut dan meletakkan di tempatnya.

Dengan demikian semua kabilah merasa lega hatinya dan merasa puas atas kebijakan beliau Saw. Dan mereka pun meneruskan pembangunannya dengan senang hati hingga selesainya pembangunan tersebut. Sejak itulah semakin memuncak kekaguman dan penghargaan kaum Quraisy kepada beliau Saw.

Al-Muhaddis as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani dalam kitabnya Tarikh al-Hawaadits an-Nabawiyyah halaman 57 menyebutkan: “Saat usia 35 tahun, kemuliaan dan keutamaan beliau Saw. semakin tersebar ke seluruh penduduk Makkah. Apalagi setelah peristiwa peletakkan Hajar Aswad, para penduduk Makkah semakin memuncak rasa kagum dan bangganya kepada beliau Saw. dan juga semakin memuncak penghargaannya atas kebajikan-kebajikan beliau Saw. Dan pada tahun itu juga lahirlah putri beliau Saw., Sayyidah Fathimah az-Zahra Ra.”

Imam Ibnu Katsir dalam al-Fushul fi Sirah ar-Rasul Saw. juz 1 halaman 103 menyebutkan: “Sesungguhnya putra-putri beliau Saw. ada 7. Semuanya dari Sayyidah Khadijah Ra. kecuali Sayyid Ibrahim, yaitu dari Sayyidah Mariyah al-Qibthiyyah Ra. Mereka adalah:

1. Sayyid Qasim Ra.
2. Sayyidah Zainab Ra.
3. Sayyidah Ruqayyah Ra.
4. Sayyidah Ummi Kultsum Ra.
5. Sayyidah Fathimah az-Zahra Ra.
6. Sayyid Abdullah Ra.
7. Sayyid Ibrahim Ra.

Dan yang paling mulia diantara mereka adalah Sayyidah Fathimah az-Zahra Ra. Adapun dalil-dalil dan data-data tentang kemuliaan Sayyidah Fathimah az-Zahra Ra. sangat banyak. Ia adalah wanita yang paling mulia di alam jagad raya ini dan akan menjadi pemimpin wanita-wanita surga. Saat Sayyidah Fathimah Ra. lahir, usia beliau Saw. adalah 35 tahun.”

#Imam Besar Jomblowan Sya'roni As Samfuriy mengajak semua hadirin untuk bershalawat salam kepada Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Shalluuuu 'alan Nabiy...

Related Posts:

PEMAKAMAN RASULULLAH SAW

Berita Kematian Menggemparkan 

NABI telah memilih Handai Tertinggi di rumah Aisyah dengan kepala di pangkuannya. Kemudian Aisyah meletakkan kepalanya di atasbantal. Ia berdiri, dan bersama-sama dengan wanita-wanita lain -yang segera datang begitu berita sampai kepada mereka- ia memukul-mukul mukanya sendiri. Dengan peristiwa itu kaum Muslimin yang sedang berada dalam mesjid sangat terkejut sekali, sebab ketika paginya mereka melihat Nabi dari segalanya menunjukkan, bahwa ia sudah sembuh. Itupula sebabnya Abu Bakar pergi mengunjungi isterinya Ibnt Kharija di Sunh.

Umar Tidak Percaya Rasul Wafat 

Setelah mengetahui hal itu cepat-cepat Umar ke tempat jenazah disemayamkan. Ia tidak percaya bahwa Rasulullah sudah wafat. Ketika dia datang, dibukanya tutup mukanya. Ternyata ia sudah tidak bergerak lagi. Umar menduga bahwa Nabi sedang pingsan. Jadi tentu akan siuman lagi. Dalam hal ini sia-sia saja, Mughira hendak meyakinkan Umar atas kenyataan yang pahit ini. Ia tetap berkeyakinan, bahwa Muhammad tidak mati. Oleh karena Mughira tetap juga mendesak, ia berkata:

"Engkau dusta!"

Kemudian ia keluar ke mesjid bersama-sama sambil berkata: "Adaorang dari kaum munafik yang mengira bahwa Rasulullah saw. telah wafat. Tetapi, demi Allah sebenarnya dia tidak meninggal, melainkan ia pergi kepada Tuhan, seperti Musa ibn 'Imran. Ia telah menghilang dari tengah-tengah masyarakatnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi ke tengah mereka setelah dikatakan dia sudah mati. Sungguh, Rasulullah pasti akan kembali seperti Musa juga. Orang yang menduga bahwa dia telah meninggal, tangan dan kakinya harus dipotong!"

Teriakan Umar yang datang bertubi-tubi ini telah didengar olehkaum Muslimin di mesjid. Mereka jadi seperti orang kebingungan. Memang, kalau memang benar Muhammad telah berpulang, alangkah pilunya hati! Alangkah gundahnya perasaan mereka yang pernah melihatnya, pernah mendengarkan tutur katanya, orang-orang yang beriman kepada Allah Yang telah mengutusnya membawa petunjuk dan agama yang benar! Rasa gundah dan kesedihan yang sungguh membingungkan, sungguh menyayat kalbu! Apabila Muhammad telah pergi menghadap Tuhan -seperti kata Umar- ini sungguh membingungkan. Dan menunggu dia kembali lagi seperti kembalinya Musa, lebih-lebih lagi ini mengherankan.

Mereka semua datang mengerumuni Umar, lebih mempercayainya dan lebih yakin, bahwa Rasulullah tidak meninggal. Belum selang lamatadi mereka bersama-sama, mereka melihatnya dan mendengar suaranya yang keras dan jelas, mendengar doanya dan pengampunan yang dimohonkannya. Betapa ia akan meninggal, padahal dia adalah Khalilullah yang dipilihNya untuk menyampaikan risalah, risalah yang sekarang sudah dianut oleh Arab seluruhnya, tinggal lagi Kisra dan Heraklius yang akan menganut Islam! Betapa ia akan meninggal, padahal dengan kekuatannya itu selama duapuluh tahun terus-menerus ia telah menggoncangkan dunia dan telah menimbulkan suatu revolusi rohani yang paling hebat yang pernah dikenal sejarah!

Tetapi di sana wanita-wanita masih juga memukul-mukul muka sendiri sebagai tanda, bahwa ia telah meninggal. Sungguh pun begitu Umar di mesjid masih juga terus menyebutkan bahwa dia tidak wafat, dia sedang pergi kepada Tuhan seperti Musa ibn 'Imran, dan mereka yang berpendapat bahwa ia sudah meninggal, mereka itu golongan orang-orang munafik, orang munafik, yang tangan dan kakinya oleh Muhammadnanti akan dihantamnya setelah ia kembali. Mana yang mesti dipercaya oleh kaum Muslimin? Awal mereka cemas sekali. Kemudian kata-kata Umar itu masih menimbulkan harapan dalam hati mereka, karena Muhammad masih akan kembali. Hampir saja angan-angan mereka itu mereka percayai, menggambarkan dalam hati mereka sendiri hal-hal yang hampir-hampir pula membawa mereka jadi puas karenanya.

Kedatangan Abu Bakar 

Sementara mereka dalam keadaan begitu tiba-tiba Abu Bakar datang. Ia segera kembali dari Sunh setelah berita sedih itu diterimanya. Ketika dilihatnya Muslimin demikian, dan Umar sedang berpidato, ia tidak berhenti lama-lama di tempat itu melainkan terus ke rumah Aisyah tanpa menoleh lagi ke kanan-kiri. Ia minta ijin akan masuk, tapi dikatakan kepadanya, orang tidak perlu minta ijin untuk hari ini.

Bila ia masuk, dilihatnya Nabi di salah satu bagian dalam rumah itu sudah diselubungi dengan burd hibara.[1] Ia menyingkapkan selubung itu dari wajah Nabi dan setelah menciumnya ia berkata:

"Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau mati."

Kemudian kepala Nabi diangkatnya dan diperhatikannya paras mukanya, yang ternyata memang menunjukkan ciri-ciri kematian.

"Demi ibu-bapakku.[2] Maut yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu sekarang sudah sampai kaurasakan. Sesudah itu takkan ada lagi maut menimpamu!"

Kemudian dikembalikannya kepala itu ke bantal, ditutupkannya kembali kain burd itu kemukanya. Sesudah itu ia keluar. Ternyata Umar masih bicara dan mau meyakinkan orang bahwa Muhammad tidak meninggal. Orang banyak memberikan jalan kepada Abu Bakar.

"Sabar, sabarlah Umar!" katanya setelah ia berada di dekat Umar. "Dengarkan!"

Tetapi Umar tidak mau diam dan juga tidak mau mendengarkan. Ia terus bicara. Sekarang Abu Bakar menghampiri orang-orang itu seraya memberi isyarat, bahwa dia akan bicara dengan mereka. Dan dalam hal ini siapa lagi yang akan seperti Abu Bakar! Bukankah dia Ash-Siddiq yang telah dipilih oleh Nabi dan sekiranya Nabi akan mengambil orang sebagai teman kesayangan tentu dialah teman kesayangannya?! Oleh karena itu cepat-cepat orang memenuhi seruannya itu dan Umar ditinggalkan.

Barangsiapa Akan Menyembah Muhammad, Muhammad Sudah Meninggal 

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Abu Bakar berkata: "Saudara-saudara! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati."Abu Bakar membacakan ayat Qur'an.

Pendapatnya Meyakinkan Muslimin 

Kemudian ia membacakan firman Tuhan: "Muhammad hanyalah seorang rasul. Sebelum dia pun telah banyak rasul-rasul yang sudah lampau. Apabila dia mati atau terbunuh, apakah kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa berbalik ke belakang, ia tidak akan merugikan Tuhan sedikit pun. Dan Tuhan akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur." (Qur'an, 3:144)

Ketika itu Umar juga turut mendengarkan tatkala dilihatnya orang banyak pergi ke tempat Abu Bakar. Setelah didengarnya Abu Bakar membacakan ayat itu, Umar jatuh tersungkur ke tanah. Kedua kakinya sudah tak dapat menahan lagi, setelah ia yakin bahwa Rasulullah memang sudah wafat. Ada pun orang banyak, yang sebelum itu sudah terpengaruh oleh pendapat Umar, begitu mendengar bunyi ayat yang dibacakan Abu Bakar, baru mereka sadar; seolah mereka tidak pernah mengetahui, bahwa ayat ini pernah turun. Dengan demikian segala perasaan yang masih ragu-ragu bahwa Muhammad sudah berpulang ke rahmat Allah, dapat dihilangkan.

Sudah melampaui bataskah Umar ketika ia berkeyakinan bahwa Muhammad tidak mati, ketika mengajak orang lain supaya juga yakin seperti dia? Tidak! Para sarjana sekarang mengatakan kepada kita, bahwa matahari akan terus memercik sepanjang abad sebelum tiba waktunya ia habis hilang sama sekali. Akan percayakah orang pada pendapat ini tanpa ia ragukan lagi kemungkinannya? Matahari yang memancarkan sinar dan kehangatan sehingga karenanya alam ini hidup, bagaimana akan habis, bagaimana akan padam sesudah itu kemudian alam ini masih akan tetap ada? 

Muhammad pun tidak kurang pula dari matahari itu sinarnya, kehangatannya, kekuatannya. Seperti matahari yang telah melimpahkan jasa, Muhammad pun telah pula melimpahkan jasa. Seperti halnya dengan matahari yang telah berhubungan dengan alam, jiwa Muhammad pun telah pula berhubungan dengan semesta alam ini, dan selalu sebutan Muhammad s.a.w. mengharumkan alam ini keseluruhannya. Jadi tidak heran apabila Umar yakin bahwa Muhammad tidak mungkin akan mati. Dan memang benar ia tidak mati, dan tidak akan mati.

Pasukan Usama Kembali ke Madinah 

Usama ibn Zaid yang telah melihat Nabi pagi itu pergi ke mesjid, seperti orang-orang Islam yang lain dia pun menduga bahwa Nabi sudah sembuh. Bersama-sama dengan anggota pasukan yang hendak diberangkatkan ke Syam yang sementara itu pulang ke Madinah, sekarang ia kembali menggabungkan diri dengan markas yang di Jurf. Perintah sudah dikeluarkan supaya pasukannya itu siap-siap akan berangkat. Tetapi dalam pada itu, tiba-tiba ada orang yang datang menyusulnya, dengan membawa berita sedih tentang kematian Nabi. Ia membatalkan niatnya akan berangkat dan pasukannya diperintahkan kembali semua ke Madinah. Ia pergi ke rumah Aisyah dan ditancapkannya benderanya di depan pintu rumah itu, sambil menantikan keadaan Muslimin.

Sebenarnya Muslimin sendiri dalam keadaan bingung. Setelah mereka mendengar pidato Abu Bakar dan yakin sudah bahwa Muhammad sudah wafat, mereka lalu terpencar-pencar. Golongan Anshar lalu menggabungkan diri kepada Said ibn 'Ubada di Saqifa[3] Banu Sa'ida; Ali ibn Abi Talib, Zubair ibn'l-'Awwam dan Talha ibn 'Ubaidillah menyendiri pula di rumah Fatimah; pihak Muhajirin, termasuk Usaid ibn Hudzair dari Banu 'Abd'l-Asyhal menggabungkan diri kepada Abu Bakar.

Sementara Abu Bakar dan Umar dalam keadaan demikian, tiba-tiba ada orang datang menyampaikan berita kepada mereka, bahwa Anshar telah menggabungkan diri kepada Sa'd ibn 'Ubada, dengan menambahkan bahwa: Kalau ada masalah yang perlu diselesaikan dengan mereka, segera susullah mereka, sebelum keadaan jadi berbahaya. Rasulullah saw. masih di dalam rumah, belum lagi selesai (dimakamkan) dan keluarganya juga sudah menutupkan pintu.

"Baiklah," kata Umar menujukan kata-katanya kepada Abu Bakar. "Kita berangkat ke tempat saudara-saudara kita dari Anshar itu, supaya dapat kita lihat keadaan mereka."

Sambutan Abu Bakar kepada Anshar 

Ketika di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan dua orang baik-baik dari kalangan Anshar, yang kemudian menceritakan kepada pihak Muhajirin itu tentang adanya orang-orang yang sedang mengadakan persepakatan.

"Tuan-tuan mau ke mana?" tanya dua orang itu.

Setelah diketahui bahwa mereka akan menemui orang-orang Anshar, kedua orang itu berkata: "Tidak ada salahnya tuan-tuan tidak mendekati mereka. Saudara-saudara Muhajirin, selesaikanlah persoalan tuan-tuan."

"Tidak, kami akan menemui mereka," kata Umar.

Lalu mereka meneruskan perjalanan sampai di Serambi Banu Sa'ida. Di tengah-tengah mereka itu ada seorang laki-laki yang sedang berselubung.

"Siapa ini?" tanya Umar ibn'l-Khattab

"Sa'd ibn 'Ubada," jawab mereka.

"Dia sedang sakit."

Setelah pihak Muhajirin duduk, salah seorang dari Anshar berpidato. Sesudah mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan ia berkata:

"Kemudian dibandingkan itu. Kami adalah Ansharullah dan pasukan Islam, dan kalian dari kalangan Muhajirin sekelompok kecil dari kami yang datang kemari mewakili golongan tuan-tuan. Ternyata mereka itu mau menggabungkan kami dan mengambil hak kami serta mau memaksa kami."

Yang demikian ini memang merupakan jiwa Anshar sejak masa hidup Nabi. Oleh karena itu, begitu Umar mendengar kata-kata tersebut ia ingin segera menangkisnya. Tetapi oleh Abu Bakar ditahan, sebab sikapnya yang keras sangat dikhawatirkan.

"Sabarlah, Umar!" katanya. Kemudian ia memulai pembicaraannya, ditujukan kepada Anshar:

"Saudara-saudara! Kami dari pihak Muhajirin orang yang pertama menerima Islam, keturunan kami baik-baik, keluarga kami terpandang, kedudukan kami baik pula. Di kalangan Arab kamilah yang banyak memberikan keturunan, dan kami sangat sayang kepada Rasulullah. Kami sudah Islam sebelum tuan-tuan dan di dalam Qu'ran juga kami didahulukan dari tuan-tuan; seperti dalam firman Tuhan: 'Orang-orang yang terdahulu dan awal (masuk Islam), dari Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam melakukan kebaikan.' (Qur'an, 9:100)

Jadi kami Muhajirin dan tuan-tuan adalah Anshar, saudara-saudara kami seagama, bersama-sama menghadapi rampasan perang dan mengeluarkan pajak serta penolong-penolong kami dalam menghadapi musuh. Apa yang telah tuan-tuan katakan, bahwa segala kebaikan ada pada tuan-tuan, itu sudah pada tempatnya. Tuan-tuanlah dari seluruh penghuni bumi ini yang patut dipuji. Dalam hal-ini orang-orang Arab itu hanya mengenal lingkungan Quraisy ini. Jadi, dari pihak kami para amir dan dari pihak tuan-tuan para wazir."[4]

Ketika itu salah seorang dari kalangan Anshar ada yang marah, lalu berkata: "Saya tongkat lagi senjata.[5] Saudara-saudara Quraisy, dari kami seorang amir dan dari tuan-tuan juga seorang amir."

"Dari kami para amir dan dari tuan-tuan para wazir," kata Abu Bakar. "Saya menyetujui salah seorang dari yang dua ini untuk kita. Berikanlah ikrar tuan-tuan kepada yang mana saja yang tuan-tuan sukai."

Lalu ia mengangkat tangan Umar ibn'l-Khattab dan tangan Abu 'Ubaida ibn'l-Jarrah, sambil dia duduk di antara dua orang itu. Lalu timbul suara-suara ribut dan keras. Hal ini dikhawatirkan akan membawa pertentangan. Ketika itu Umar lalu berkata dengan suaranya yang lantang: "Abu Bakar, bentangkan tanganmu!"

Abu Bakar membentangkan tangan dan dia diikrarkan seraya kata Umar: "Abu Bakar, bukankah Nabi sudah menyuruhmu, supaya engkaulah yang memimpin Muslimin bersembahyang? Engkaulah penggantinya (khalifah). Kami akan mengikrarkan orang yang paling disukai oleh Rasulullah di antara kita semua ini."

Kata-kata ini ternyata sangat menyentuh hati Muslimin yang hadir, karena benar-benar telah dapat melukiskan kehendak Nabi sampai pada hari terakhir orang melihatnya. Dengan demikian pertentangan di kalangan mereka dapat dihilangkan. Pihak Muhajirin datang memberikan ikrar, kemudian pihak Anshar juga memberikan ikrarnya.

Bilamana keesokan harinya Abu Bakar duduk di atas mimbar, Umar ibn'l-Khattab tampil berbicara sebelum Abu Bakar, dengan mengatakan -setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Tuhan:

Ikrar Umum 

"Kepada saudara-saudara kemarin saya sudah mengucapkan kata-kata yang tidak terdapat dalam Kitabullah, juga bukan suatu pesan yang diberikan Rasulullah kepada saya. Tetapi ketika itu saya berpendapat, bahwa Rasulullah yang akan mengurus soal kita, sebagai orang terakhir yang tinggal bersama-sama kita. Tetapi Tuhan telah meninggalkan Qu'ran buat kita, yang juga menjadi penuntun RasulNya. Kalau kita berpegang pada Kitab itu Tuhan menuntun kita, yang juga telah menuntun Rasulullah. Sekarang Tuhan telah menyatukan persoalan kita di tangan sahabat Rasulullah s.a.w. yang terbaik di antara kita dan salah seorang dari dua orang, ketika keduanya itu berada dalam gua. Maka marilah kita ikrarkan dia."

Ketika itu orang lalu memberikan ikrarnya kepada Abu Bakar sebagai Ikrar Umum setelah Ikrar Saqifa.

Pidato Khulafa'ur-Rasyidin yang Pertama 

Selesai ikrar kemudian Abu Bakar berdiri. Di hadapan mereka itu ia mengucapkan sebuah pidato yang dapat dipandang sebagai contoh yang sungguh bijaksana dan sangat menentukan. Setelah mengucap puji syukur kepada Tuhan Abu Bakar ra. berkata:

"Kemudian, saudara-saudara. Saya sudah dijadikan penguasa atas kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya nanti saya berikan kepadanya -insya Allah, dan orang yang kuat, buat saya adalah lemah sesudah haknya itu nanti saya ambil -insya Allah. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana pada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Allah dan RasulNya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan Rasul maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah salat kamu, Allah akan merahmati kamu sekalian."

Sementara kaum Muslimin sedang berlainan pendapat -kemudian kembali sependapat lagi dalam melantik Abu Bakar dalam Ikrar Saqifa kemudian Ikrar Umum- jenazah Nabi masih tetap ditempatnya di atas ranjang kematian dikelilingi oleh kerabat-kerabat dan pihak keluarga.

Di mana Rasul akan Dimakamkan? 

Selesai memberikan ikrar kepada Abu Bakar orang segera bergegas lagi hendak menyelenggarakan pemakaman Rasulullah. Dalam hal di mana akan dimakamkan, orang masih berbeda pendapat. Kalangan Muhajirin berpendapat akan dimakamkan di Mekah, tanah tumpah darahnya dan di tengah-tengah keluarganya. Yang lain berpendapat supaya dimakamkan di Bait'l-Maqdis (Yerusalem} karena para nabi sebelumnya di sana dimakamkan. Saya tidak tahu bagaimana orang-orang ini berpendapat demikian, padahal Bait'l-Maqdis pada waktu itu masih di tangan Romawi dan sejak kejadian Mu'ta dan Tabuk, Romawi dengan pihak Islam sedang dalam permusuhan, sehingga Rasulullah menyiapkan pasukan Usama untuk mengadakan pembalasan.

Kaum Muslimin tak dapat menyetujui pendapat ini, juga mereka tidak setuju Nabi dimakamkan di Mekah. Mereka ini berpendapat supaya Nabi dimakamkan di Madinah, kota yang telah memberikan perlindungan dan pertolongan, dan kota yang awal bernaung di bawah bendera Islam. 

Mereka berunding, di mana akan dimakamkan? Satu pihak mengatakan: dimakamkan di mesjid, tempat dia memberi khotbah dan bimibngan serta memimpin orang sembahyang, dan menurut pendapat mereka supaya dimakamkan ditempat mimbar atau di sampingnya. Tetapi pendapat demikian ini kemudian ditolak, mengingat adanya keterangan berasal dari Aisyah, bahwa ketika Nabi sedang dalam sakit keras, ia mengenakan kain selubung hitam, yang sedang ditutupkan di mukanya, kadang dibukakan sambil ia berkata: "Laknat Tuhan kepada suatu golongan yang mempergunakan pekuburan nabi-nabi sebagai mesjid."

Kemudian Abu Bakar tampil memberikan keputusan kepada orang ramai itu dengan mengatakan: "Saya dengar Rasulullah saw. berkata Setiap ada nabi meninggal, ia dimakamkan di tempat dia meninggal."

Lalu diambil keputusan, bahwa pada letak tempat tidur ketika Nabi meninggal itu, di tempat itulah akan digali.

Nabi Dimandikan 

Selanjutnya yang bertindak memandikan Nabi ialah keluarganya yang dekat. Yang pertama sekali Ali ibn Abi Talib, lalu 'Abbas ibn 'Abd'l-Muttalib serta kedua puteranya, Fadzl dan Qutham serta Usama ibn Zaid. Usama ibn Zaid dan Syuqran, pembantu Nabi, bertindak menuangkan air sedang Ali yang memandikannya berikut baju yang dipakainya. Mereka tidak mau melepaskan baju itu dari (badan) Nabi. Pada saat itu mereka juga mendapatkan Nabi begitu harum, sehingga Ali berkata: "Demi ibu bapakku! Alangkah harumnya engkau di waktu hidup dan di waktu mati."

Karena itu juga beberapa Orientalis ada yang berpendapat, bahwa bau harum itu disebabkan Nabi selama hidupnya biasa memakai wangi-wangian. Ia menganggap wangi-wangian itu sudah menjadi barang kesukaannya dalam kehidupan dunia ini.

Selesai dimandikan dengan mengenakan baju yang dipakainya itu, Nabi dikafani dengan tiga lapis pakaian: dua Shuhari[6] dan satu pakaian jenis burd hibara dengan sekali dilipatkan. Selesai penyelenggaraan dengan cara demikian, jenazah dibiarkan di tempatnya. Pintu-pintu kemudian dibuka untuk memberikan kesempatan kepada kaum Muslimin, yang memasuki tempat itu dari jurusan mesjid, untuk mengelilingi serta melepaskan pandangan perpisahan dan memberikan doa salawat kepada Nabi. Kemudian mereka keluar lagi dengan membawa perasaan duka dan kepahitan yang dalam sekali, yang sangat menekan hati.

Ruangan itu telah menjadi penuh kembali tatkala kemudian Abu Bakar dan Umar masuk melakukan sembahyang bersama-sama Muslimin yang lain, tanpa ada yang bertindak selaku imam dalam sembahyang itu. Setelah orang duduk kembali dan keadaan jadi sunyi, Abu Bakar berkata:

"Salam kepadamu ya Rasulullah, beserta rahmat dan berkah Tuhan.[7] Kami bersaksi, bahwa Nabi dan Rasulullah telah menyampaikan risalah Tuhan, telah berjuang di jalan Allah sampai Tuhan memberikan pertolongan untuk kemenangan agama. Ia telah menunaikan janjinya, dan menyuruh orang menyembah hanya kepada Allah tidak bersekutu."

Pada setiap kata yang diucapkan oleh Abu Bakar disambut oleh Muslimin dengan penuh syahdu dan khusyu: Amin! Amin!

Perpisahan dengan Jenazah yang Suci 

Selesai bagian laki-laki melakukan sembahyang, setelah mereka keluar, masuk pula kaum wanita, dan setelah mereka, kemudian masuk pula anak-anak. Semua mereka itu, masing-masing membawa hati yang pedih, perasan duka dan sedih menekan kalbu, karena mereka harus berpisah dengan Rasulullah, penutup para nabi.

Detik-detik yang Khidmat dalam Sejarah 

Di hadapan kita sekarang -setelah lampau seribu tiga ratus tahun yang lalu- terbentang sebuah lukisan peristiwa khidmat dan syahdu yang telah memenuhi hati kita, dengan segala kerendahan hati dan hormat. Tubuh yang terbungkus kini terletak dalam sebuah sudut, dalam ruangan yang nantinya akan menjadi sebuah makam, dan ruangan yang tadinya dihuni oleh orang yang mengenal makna hidup, orang yang penuh rahmat, penuh cahaya. Tubuh yang suci ini, yang telah mengajak dan membimibng orang ke jalan yang benar, dan yang buat mereka telah menjadi teladan tertinggi tentang arti kebaikan dan kasih sayang, tentang ketangkasan dan harga diri, tentang keadilan dan kesadaran dalam menghadapi kekejaman serta segala tindakan tirani.

Orang yang banyak itu kini lalu dengan perasaan yang sudah remuk-redam, dengan hati yang sendu, hati yang tersayat pilu. Setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak -terhadap laki-laki yang sekarang memilih tempatnya di sisi Tuhan itu- mengenangkannya sebagai ayah, sebagai kawan setia dan sahabat, sebagai Nabi dan Rasulullah. Betapakah perasaan yang sekarang sedang rimbun memenuhi kalbu yang penuh semarak iman itu, kalbu yang penuh prihatin akan rahasia hari esok setelah Rasui wafat?! 

Lukisan peristiwa khidmat inilah yang sekarang terbentang di hadapan kita. Kita lihat diri kita sedang tercengang menatapnya, dengan sepenuh hati akan keagungan yang penuh syahdu dan khidmat ini; hampir-hampir kita tak dapat melepaskan diri.

Keguncangan Orang-Orang yang Lemah Iman 

Sudah sepantasnya pula apabila kaum Muslimin jadi khawatir. Sejak diumumkannya berita kematian Nabi di Madinah dan kemudian tersebar pula sampai kepada kabilah-kabilah Arab di sekitar kota, pihak Yahudi dan Nasrani segera memasang mata dan telinga, sifat-sifat munafik mulai timbul, iman orang-orang Arab yang masih lemah mulai pula guncang. 

Dalam pada itu orang-orang Mekah juga sudah siap-siap akan berbalik dari Islam, bahkan sudah mau bertindak demikian, sehingga 'Attab ibn Asid wakil Nabi di Mekah merasa khawatir dan tidak menampakkan diri kepada mereka. Tepat sekali Suhail ibn 'Amr yang berada di tengah-tengah mereka itu ketika ia tampil dan berkata -setelah menerangkan kematian Nabi- bahwa Islam sekarang sudah bertambah kuat, dan siapa yang masih menyangsikan kami, kami penggal lehernya. Kemudian katanya lagi:

"Penduduk Mekah! Kamu adalah orang yang terakhir masuk Islam, maka janganlah jadi orang yang pertama murtad! Demi Allah. Tuhanlah yang akan menyelesaikan soal ini. Seperti kata Rasulullah saw. Belum jugakah mereka sadar dari kemurtadan mereka itu?"

Nabi Dikebumikan 

Ada dua cara orang-orang Arab ketika itu dalam menggali kuburan: pertama cara orang Mekah yang menggali kuburan dengan dasarnya yang rata; kedua cara orang Madinah yang menggali kuburan dengan dasarnya yang dilengkungkan. Abu 'Ubaidah ibn'l-Jarrah misalnya, ia menggali cara orang Mekah, sedang Abu Talha Zaid ibn Sahl menggali kuburan cara orang Madinah. 

Keluarga Nabi juga memperibncangkan cara mana kuburan itu akan digali. 'Abbas paman Nabi segera mengutus dua orang, masing-masing supaya memanggil Abu 'Ubaida dan Abu Talha. Yang diutus kepada Abu 'Ubaida kembali tidak bersama dengan yang dipanggil, sedang yang diutus kepada Talha datang bersama-sama. Maka makam Rasulullah digali menurut cara Madinah.

Bilamana hari sudah senja, dan setelah kaum Muslimin selesai menjenguk tubuh yang suci itu serta mengadakan perpisahan yang terakhir, keluarga Nabi sudah siap pula akan menguburkannya. Mereka menunggu sampai tengah malam. Kemudian sehelai syal berwarna merah yang biasa dipakai Nabi dihamparkannya di dalam kuburan itu. Lalu ia diturunkan dan dikebumikan ke tempatnya yang terakhir oleh mereka yang telah memandikannya. Di atas itu lalu dipasang bata mentah kemudian kuburan itu ditimbun dengan tanah.

Dalam hal ini Aisyah berkata: "Kami mengetahui pemakaman Rasulullah saw. ialah setelah mendengar suara-suara sekop pada tengah malam itu."

Fatimah juga berkata seperti itu.

Upacara pemakaman itu terjadi pada malam Rabu 14 Rabiul awal, yakni dua hari setelah Rasul berpulang ke rahmatullah.

Aisyah di Ruangan sebelah Makam 

Sesudah itu Aisyah tinggal menetap di rumahnya dalam ruangan yang berdampingan dengan ruangan makam Nabi. Ia merasa bahagia di samping tetangga yang sangat mulia itu.

Setelah Abu Bakar wafat ia dimakamkan di samping Nabi, demikian juga Umar menyusul dimakamkan di sebelahnya lagi. Ada disebutkan, bahwa Aisyah berziarah ke ruangan makam itu tidak mengenakan kudung, sebab sebelum Umar dimakamkan, di sana hanya ayah dan suaminya. Tetapi setelah juga Umar dimakamkan, setiap ia masuk selalu berkudung dengan mengenakan pakaian lengkap.

Menyelamatkan Pasukan Usama 

Begitu selesai kaum Muslimin menyelenggarakan pemakaman Rasulullah, Abu Bakar memerintahkan pasukan Usama yang akan menyerbu Syam segera diteruskan sebagai pelaksanaan apa yang telah diperintahkan oleh Rasulullah. Ada juga kaum Muslimin yang merasa tidak setuju dengan itu, seperti yang pernah terjadi ketika Nabi sedang sakit. Umar termasuk orang yang tidak setuju. Ia berpendapat supaya kaum Muslimin tidak bercerai-berai. Mereka harus tetap di Madinah, sebab dikhawatirkan akan terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan. Tetapi dalam melaksanakan perintah Rasul, Abu Bakar tidak pernah ragu-tagu. Dia pun menolak pendapat orang yang mengusulkan supaya mengangkat seorang komandan yang lebih tua usianya dari Usama dan lebih berpengalaman dalam perang.

Dengan demikian pasukan di Jurf itu tetap disiapkan di bawah pimpinan Usama, dan Abu Bakar pergi melepaskannya. Ketika itu dimintanya kepada Usama supaya Umar dibebaskan dari tugas itu. Ia perlu tinggal di Madinah supaya dapat memberi nasehat kepada Abu Bakar.

Belum selang dua puluh hari setelah tentara berangkat, pihak Muslimin sudah dapat menyerang Balqa'. Usama telah dapat mengadakan pembalasan buat kaum Muslimin dan ayahnya yang telah terbunuh di Mu'ta dulu. Dalam peristiwa yang gemilang itu semboyan perang yang diucapkan ialah: "Untuk kemenangan, matilah!"[8]

Dengan demikian baik Abu Bakar mau pun Usama telah dapat melaksanakan perintah Nabi. Ia kembali dengan pasukannya itu ke Madinah didahului panji yang oleh Rasulullah dulu diserahkan di tangannya dengan menunggang kuda yang juga dulu dipakai ayahnya di Mu'ta sampai tewasnya.

Para Nabi Tidak Diwariskan 

Setelah Nabi berpulang, Fatimah puterinya minta kepada Abu Bakar tanah peninggalan Nabi di Fadak dan di Khaibar diberikan kepadanya. Tetapi Abu Bakar menjawab dengan kata-kata ayahnya: "Kami para nabi tidak mewariskan. Apa yang kami tinggalkan buat sedekah." Kemudian kata Abu Bakar kepada Fatimah:

"Kalau ayahmu dulu memang sudah menghibahkan harta ini kepadamu, maka usulmu itu saya terima, dan saya laksanakan apa yang dimintanya itu." Tetapi Fatimah menjawab bahwa tentang itu ayahnya tidak berkata apa-apa kepadanya hanya Umm Aiman yang mengatakan kepadanya bahwa yang demikian itulah yang dimaksudkan. Dalam hal ini Abu Bakar menekankan supaya Fadak dan Khaibar tetap dikembalikan ke baitulmal untuk kaum Muslimin.

Warisan Rohani Terbesar 

Demikianlah, Muhammad pergi melepaskan dunia ini dengan tiada meninggalkan sesuatu kekayaan dunia yang fana kepada siapa pun. Ia pergi melepaskan dunia ini seprti ketika ia datang. Sebagai peninggalan ia telah memberikan agama yang lurus ini kepada umat manusia. Ia telah merintis jalan kebudayaan Islam yang maha besar, yang telah menaungi dunia sebelumnya, dan akan menaungi dunia kemudian. Ia telah menanamkan ajaran Tauhid, menempatkan ajaran Tuhan yang tinggi di atas dan ajaran orang-orang kafir yang rendah di bawah. 

Kehidupan paganisme dalam segala bentuk dan penampilannya telah dikikis habis. Manusia sekarang diajaknya melakukan perbuatan yang baik dan takwa, bukan perbuatan dosa dan permusuhan. Kemudian ia meninggalkan Kitabullah buat manusia, sebagai rahmat dan petunjuk. Ia meninggalkan teladan yang tinggi, contoh nan indah. Contoh terakhir diberikannya kepada umat manusia, ketika dalam sakit, ia berkata kepada orang banyak:

"Wahai manusia! Barangsiapa punggungnya pernah kucambuk, ini punggungku, balaslah! Barangsiapa kehormatannya pernah kucela, ini kehormatanku, balaslah! Dan barangsiapa hartanya pernah kuambil, ini hartaku, ambillah! Jangan ada yang takut permusuhan, itu bukan bawaanku."

Bilamana ada orang yang pernah menuntut uang tiga dirham kepadanya, kepada orang itu diberikan pula gantinya. Kemudian ia melepaskan dunia ini dengan meninggalkan warisan rohani yang agung, yang selalu memancar di semesta dunia ini. Tuhan akan menyempurnakan ajaranNya, akan menolong agamaNya di atas semua agama, sekali pun oleh orang-orang kafir tidak diakui.

Semoga Allah memberi rahmat dan kedamaian kepadanya.

Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Related Posts:

CERITA HIKMAH : Batu, Kerikil dan Pasir

Oleh Sunde Pati 

Seorang guru filsafat ketika sedang memberikan kuliah mengeluarkan sebuah botol kosong. Kemudian ia mengeluarkan beberapa batu yang kemudian diisikannya ke botol itu. Ketika sudah dua batu diisikan, sudah tak ada tempat lagi bagi batu ketiga. Ia bertanya pada mahasiswanya apakah botol itu sudah penuh? para siswanya menjawab "ya".

Kemudian ia mengambil kerikil kecil. Dimasukkannya kerikil itu ke botol dan botol itu dikocok-kocoknya. Kerikil-kerikil itu akhirnya masuk bergulir memenuhi ruang di antara batu-batu itu. Sekali lagi ia bertanya apakah botol itu penuh? para siswanya menjawab ya. Lalu sang guru mengambil pasir dan menuangkannya ke botol. Setelah botol itu diguncang-guncangkan beberapa kali, pasir itu masuk mengisi ruang yang masih tersisa memenuhi botol.

“Sekarang,” kata sang guru, “Saya ingin kalian tahu bahwa botol ini mengibaratkan hidup kalian.

Batu-batu ini adalah hal-hal yang paling penting dalam hidup kalian yaitu , suami,istri anak-anak,ayah dan ibu atau yg dikenal dengan keluarga , dan juga kesehatan kalian,

Kerikil-kerikil ini adalah hal-hal lain yang juga penting dalam hidup kalian, misalnya keluarga yang agak jauh atau kerabat,pekerjaan, pengetahuan, ketrampilan Anda.

Pasir adalah hal-hal lain seperti orang lain yg tak ada hubungan kluarga, teman ,hobby dan kesenangan kalian.

Bila kalian memasukkan kerikil dan pasir terlebih dahulu maka tak ada ruang lagi buat batu. Begitu juga dengan hidup kalian. Bila kalian mencurahkan seluruh energi dan waktu kalian untuk hal-hal yang kecil, materi, kedudukan, kesenangan, maka kalian tak mempunyai ruang lagi untuk hal yang benar-benar penting dalam hidup kalian.
Berikan prioritas pada hal yang terpenting.

----------------

Keberhasilan yang sejati bukanlah karena kaya harta atau dapat kedudukan tinggi tapi keberhasilan yang sejati adalah bisa menjadikan keluarganya harmonis dan bahagia

----------------

[التحريم:6]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلائِكَةٌ غِلاظٌ شِدَادٌ لا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُون

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Related Posts:

SOSOK WANITA YANG MENYUSUI RASULULLAH SAW.

 Oleh : Sya'roni As Samfuriy

Yang pertamakali menyusui Rasulullah Saw. adalah ibunda tercinta Sayyidah Aminah binti Wahab Ra. Yang kedua adalah Sayyidah Tsuwaibah al-Aslamiyyah Ra. Baru kemudian yang ketiga adalah Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah Ra.

Sayyidah Halimah Ra. adalah wanita suci nan mulia yang telah dilimpahi anugerah agung dari Allah Swt. dengan dipilihnya menjadi wanita yang menyusui dan merawat kekasihNya, Rasulullah Saw. Dan pada hakikatnya Allah Swt. telah menentukan pilihanNya tersebut serta menjaga kesuciannya dari perbuatan jahiliyyah. Dan Allah Swt. telah melimpahkan pula kepadanya kebersihan lahir batin, semata-mata hal itu adalah demi memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Besar Muhammad Saw.

Sayyidah Halimah Ra. berdomisili di daerah yang bernama Bani Sa’d yang terletak di sekitar Thaif. Saait itu sedang mengalami paceklik yang sangat panjang. Meskipun demikian, dengan taufiq dan hidayah dari Allah Swt., Sayyidah Halimah Ra. senantiasa ridha, sabar dan selalu bersyukur kepada Allah Swt. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Nuzhat al-Majalis juz 2 halaman 79:

“Abdullah bin Abbas Ra. berkata: “Sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan malaikatNya untuk menyerukan panggilan: “Wahai seluruh makhluk ciptaan Allah Swt. Ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya telah lahir kekasih Allah Swt. Baginda Nabi Besar Muhammad Saw. Sungguh beruntung sekali makhluk yang dipilih untuk menyusui dan merawatnya.”

Setelah para makhluk Allah Swt. mendengar seruan tersebut, maka mereka memohon kepada Allah Swt. agar diizinkan untuk merawatnya, bahkan para malaikatpun sangat mengharapkan hal itu. Maka Allah Swt. berfirman: “Ketahuilah oleh kalian semua wahai makhlukKu. Sesungguhnya Aku telah menetapkan Halimah untuk merawat dan menyusuinya.”

Keadaan Sayyidah Halimah Ra. sebelumnya adalah wanita miskin nan susah kehidupannya. Namun beliau tetap memperbanyak bersyukur kepada Allah Swt. Meskipun kehidupannya semakin berat, makan seadanya dari tanam-tanaman yang ada di sekitarnya, ditambah lagi beliau baru saja melahirkan putera anak kedua, maka kesulitan demi kesulitan pun semakin bertambah dan memuncak. Sehingga beliau hanya makan sedikit sekali dalam seminggu.

Dalam keadaan yang penuh dengan kesengsaraan, beliau mimpi didatangi seseorang yang menuntunnya menuju telaga air yang putih jernih melebihi susu. Sayyidah Halimah Ra. disuruh meminumnya. Beliau kemudian minum sampai merasa kenyang dan bertanya: “Wahai Tuan, siapakah sebenarnya engkau?”

Orang tersebut menjawab: “Wahai Halimah, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku adalah al-Hamd yang berbentuk sebagai manusia dikarenakan pujianmu kepada Allah Swt. di saat kamu dalam keadaan sulit ataupun senang. Pergilah engkau ke Makkah, niscaya kamu akan mendapati kemakmuran dari sana.”

Maka 7 hari kemudian, setelah Rasulullah Saw. lahir, Sayyidah Halimah Ra. bersama suami dan anaknya yang bernama Abdullah pergi ke Makkah untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi). Sebagaimana disebutkan dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam halaman 37, Sayyidah Halimah Ra. menceritakan dirinya:

“Aku, suamiku dan anakku yang masih kecil pergi ke Makkah beserta rombongan dari Bani Sa’ad untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi). Dan hal itu terjadi pada tahun paceklik yang sangat dahsyat sehingga hewan-hewan ternak kami banyak yang mati. Saat itu kota Makkah dalam keadaan subur makmur. Kemudian kami berangkat dengan mengendarai hewan keledai yang sudah tua nan kurus, serta kami bawa pula onta untuk kami perah susunya.

Pada malam harinya kamipun tak bisa tidur akibat tangisan anak kami yang kelaparan dikarenakan air susuku sudah tidak muncukupinya lagi, apalagi air susu onta kami juga tak bisa diharapkan lagi. Kami benar-benar dalam kondisi yang sangat kritis. Hanya tersisa suatu harapan datangnya pertolongan dan jalan keluar dari kesulitan kami ini. Maka, kamipun tetap berangkat ke Makkah dengan keledai tua yang tertatih-tatih dan lambat sekali, sehingga rombongan kami merasa keberatan dan payah atas lambatnya keledai kami. Akhirnya kamipun sampai juga di Makkah dan mencari bayi yang akan kami susui.”

Pada saat itu pula, Sayyid Abdul Muthallib, kakek Nabi Saw., mendengar hatif (seruan malaikat) yang menyerukan agar Rasulullah Saw. jangan disusukan kecuali kepada Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah Ra. Sebagaimana disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 56:

إن ابن آمنة الآمين محمد خير الأنام وخيرة الأخيار
ما أن له غير الحليمة مرضع نعم الأمينة هي على الأبرار
مأمونة من كل عيب فاخش ونقية الأثواب والأوزار
لاتسلمنه إلى سواها أنه أمر حكيم جاء من جبار

“Sesungguhnya Muhammad Saw. al-Amin putra Sayyidah Aminah, adalah insan yang paling utama dan sebaik-baik pilihan Allah Swt.
Tiada yang berhak untuk menyusuinya kecuali Halimah as-Sa’diyyah, dialah (Halimah) sebaik-baik wanita pilihan.
Yang terjaga dari segala aib dan kejelekan, serta telah disucikan lahir dan batinnya.
Janganlah sekali-kali engkau serahkan Muhammad Saw. selain kepadanya. Sungguh ini adalah suatu keputusan dan ketetapan dari Allah Swt. Dzat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.”

Sesampainya Sayyidah Halimah di Makkah, maka dengan izin Allah Swt. ia ditemukan dengan Sayyid Abdul Muthallib. Seketika Sayyid Abdul Muthallib mengetahui bahwa ia (Sayyidah Halimah) adalah sebagian dari rombongan para wanita yang sedang mencari anak untuk dirawat dan disusuinya. Sebagaimana disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 55, Sayyidah Halimah Ra. berkata:

“Kemudian Sayyid Abdul Muthallib menemuiku dan bertanya: “Siapakah sesungguhnya engkau dan dari manakah asalmu?”

Akupun menjawab: “Wahai Tuan Abdul Muthalib, saya adalah seorang wanita biasa dari kabilah Bani Sa’ad.”

Beliau bertanya lagi: “Siapakah namamu?”

Akupun menjawab: “Duhai Tuan Abdul Muthallib, namaku adalah Halimah.”

Beliaupun kemudian tersenyum bahagia dan berkata: “Halimah dan Sa’diyyah adalah dua nama yang sangat indah sekali yang menunjukkan kemuliaan dan kebaikan dunia akhirat. Maukah kamu menyusui dan merawat cucuku? Niscaya engkau mendapati keberuntungan yang abadi.”

Akupun menjawab: “Wahai Tuan, sungguh saya bersedia. Segera pertemukan saya dengannya.”

Maka wajah Tuan Abdul Muthallib semakin berbinar-binar memancarkan kebahagian yang meluap (atas tercapainya apa yang diharapkan). Kemudian beliau mengajakku masuk ke dalam rumah Sayyidah Aminah Ra. Sesampainya di sana, Sayyidah Aminah Ra. menyambutku dan berkata: “Selamat datang dan kami senang bertemu denganmu.”

Kemudian Sayyidah Aminah Ra. mengajakku masuk ke kamar Rasulullah Saw. dengan sangat perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Setelah aku melihatnya, aku sangat kagum dengan keindahan wajahnya yang sangat anggun mempesona laksana mutiara yang tiada duanya. Beliau Saw. sedang tidur dengan pulas berselimutkan sutera yang sangat putih dan jernih melebihi putihnya susu dan terhampar di bawahnya sutera hijau yang sangat indah dan semerbak bau yang sangat harum menyebar dari tubuhnya.

Maka akupun mendekatinya dengan sangat perlahan dan hati-hati karena khawatir membangunkan beliau Saw. dari tidurnya. Dengan sangat hati-hati kuusapkan tanganku di dada beliau Saw. Tiba-tiba beliau Saw. terbangun dan membuka kedua matanya. Dan tiba-tiba pula memancar cahaya dari kedua matanya dan beliau Saw. pun memandangku dengan senyumnya yang sangat indah. Akupun terpana dan sangat kagum, belum pernah selama hidupku aku melihat peristiwa yang sangat luar biasa seperti ini.

Akupun tak sabar lagi untuk secepatnya memegang dan memeluknya. Seketika itu pula, dengan reflek aku cium keningnya (antara kedua matanya). Kuangkat, kugendong, kupeluk dan tiba-tiba kedua payudaraku yang tadinya sedikit air susunya, seketika menjadi penuh dan deras air susunya. Maka aku pun memberikan susu kanan kepada beliau Saw., dan beliau Saw. pun meminumnya. Begitu aku pindahkan ke sebelah kiri, beliau Saw. menolaknya, seakan-akan beliau Saw. memberikan isyarat bahwa susuku yang kiri adalah untuk anakku Abdullah.”

Dijelaskan dalam kitab tersebut tentang hal ini bahwa ahli ilmu mengatakan: “Sesungguhnya Allah Swt. memberikan ilham kepada Rasulullah Saw., bahwa beliau Saw. mempunyai saudara yang menyusu bersamanya. Maka beliau Saw. pun memberikan bagian untuknya.”

Sayyidah Halimah Ra. berkata: “Setelah beliau Saw. merasa cukup, kemudian aku susui anakku Abdullah dengan susu kiri sampai kenyang dan tidur pulas. Padahal sebelumnya anakku tidak pernah bisa tidur pulas karena lapar.

Pada saat itu pula, suamiku yang sedang menunggu di luar mendekati onta yang kami bawa. Tiba-tiba onta kami tersebut kelihatan segar, gemuk dan kantong susunya penuh dengan air susu. Kemudian ia memerah susunya untuk kami minum sampai kami merasa segar dan kenyang sekali. Dan kami pun bisa tidur pulas di malam itu, padahal sebelumnya kami tak pernah bisa tidur pulas.

Maka, pada pagi harinya suamiku berkata: “Wahai istriku tercinta Halimah, sungguh kita telah mendapatkan bayi agung yang sangat mulia dan penuh keberkahan.”

Demikian pula, keledai kami yang dulunya kurus dan lemah kini tiba-tiba menjadi, gemuk, kuat, sehat dan cepat jalannya.

Di saat kami sekeluarga dan rombongan akan pulang, aku melihat keledaiku sujud menghadap ke Ka’bah sebanyak tiga kali dan mengangkat kepalanya ke langit. Akupun lantas naik keledai tersebut dan menggendong Rasulullah Saw. Demi Allah, keledaiku sangat cepat jalannya, tak ada satupun yang bisa mengejarnya, sampai rombonganku terheran dan berkata: “Wahai Halimah binti Abi Dzuaib, kasihanilah kami, perlahanlah jangan cepat-cepat jalannya. Bukankah itu keledaimu yang dulunya lemah dan lambat jalannya?”

Akupun menjawab: “Benar teman-temanku. Demi Allah, sungguh inilah keledai itu.”

Kemudian diantara mereka menjawab: “Demi Allah, sungguh itu adalah suatu keajaiban yang sangat luar biasa.”

Dan seketika itu juga terdengar jelas olehku keledaiku berkata dengan bahasa Arab yang fasih: “Demi Allah, sungguh Allah Swt. telah melimpahiku keajaiban yang luar biasa. Allah Swt. telah mengembalikan kekuatan dan semangatku serta menjadikanku gemuk dan segar. Camkan oleh kalian semua hai Kabilah Bani Sa’ad. Apakah kalian tidak sadar, siapakah sesungguhnya yang ada di punggungku ini? Sesungguhnya beliau adalah Baginda Nabi Besar Muhammad Saw. yang menjadi Kekasih Allah Swt., sebagai junjungan seluruh para nabi dan rasul. Dan dialah sebaik-baik seluruh makhluk Allah Swt. di alam semesta ini.”

Dengan adanya beraneka ragam peristiwa ini semua, sudah dipastikan bahwa Sayyidah Halimah Ra. semakin memuncak kekaguman dan kebanggaannya kepada Rasulullah Saw. Dan sesungguhnya ibunda beliau Saw., Sayyidah Aminah Ra., tentu tidak sembarangan menyerahkan buah hatinya begitu saja kepada Sayyidah Halimah Ra. Namun semata-mata melaksanakan kehendak Allah Swt. dengan penuh keyakinan bahwa sesungguhnya Allah Swt. pasti akan senantiasa melindungi dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Bagaimana tidak, karena sesungguhnya Sayyidah Aminah Ra. telah menyaksikan sendiri tentang keagungan putranya dengan adanya berbagai macam mukjizat yang sangat luar biasa yang terjadi sejak sebelum dilahirkan, saat dilahirkan dan sesudah dilahirkannya beliau Saw. Dengan itu semua, Sayyidah Aminah Ra. senantiasa merasa tenang, tentram dan ridha atas segala sesuatu yang menjadi kehendak Allah Swt.

Dan sesampainya Sayyidah Halimah Ra. di daerahnya, ia melihat keajaiban-keajaiban yang sangat menakjubkan. Sebagaimana dijelaskan di kitab Sirah Ibnu Hisyam halaman 38, Sayyidah Halimah Ra. berkata: “Setelah kami sampai rumah, tiba-tiba kami melihat kambing-kambing kami telah menjadi gemuk, segar dan penuh air susunya. Padahal sebelumnya dalam keadaan kurus dan daerah kami masih dalam keadaan tandus kekeringan. Maka seketika itu pula langsung kami perah susunya dan kami minum hingga kami semua merasa kenyang.”

Dan sebagaimana telah disebutkan dalam kitab as-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 58, Sayyidah Halimah Ra. berkata: “Dan setelah kami masuk rumah, tiba-tiba kami mencium bau harum semerbak yang sangat luar biasa wanginya di setiap ruangan rumah kami. Maka dengan bangga aku ceritakan kepada para tetanggaku segala keajaiban yang telah aku lihat sendiri tentang kemuliaan dan keberkahan anak yang kubawa ini. Dan merekapun meyakini hal tersebut, sehingga apabila ada diantara mereka yang sakit, maka mereka meletakkan telapak tangan beliau Saw. di tempat yang sakit. Sehingga dengan izin Allah Swt. penyakit tersebut segera sembuh.”

#Imam Besar Jomblowan Sya'roni As Samfuriy mengajak semua hadirin untuk bershalawat salam kepada Baginda Nabi Agung Muhammad Saw. Shalluuuu 'alan Nabiy...

Related Posts: