NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (59) : AKU PILIH RUMAH TANGGA HARMONIS

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­------
AKU PILIH RUMAH TANGGA HARMONIS

Sebenarnya kadang-kadang muncul juga keinginan dalam hati untuk seperti teman-teman. Membaguskan rumah, membaguskan mobil, terus membaguskan istri juga. Hehehe... Tapi ketika saya tengok kejujuran dalam relung hati saya yang paling dalam, (maaf ini hanya khusus pribadi saya sendiri, dan saya tidak ngerti dengan pribadi orang lain), ternyata keinginan itu hanyalah keinginan nafsu belaka. Itulah sebabnya saya memilih untuk menahan dan menentang tidak memenuhi keinginan itu, meski sebenarnya saya mampu meski dengan (mungkin) agak sedikit serba saya paksakan.

Bisa saja saya membaguskan rumah, membaguskan mobil, tapi resikonya uang saya habis atau bahkan saya malah jadi punya hutang dan hidup saya menjadi tidak tenang, jauh dari kedamaian dan ketentraman. Lagipula jika ada saudara atau tetangga atau siapapun datang ke tempat saya untuk minta tolong, maka saya tidak bisa menolongnya. Tidak bisa membantunya. Padahal jika saya mengikuti Nabi, maka untuk bisa memiliki rumah yang bagus, saya tidak harus mengeluarkan banyak uang, karena rumah yang paling baik menurut Allah, ialah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim, dan di rumah itu anak yatim itu dimuliakan. Dan kendaraan yang paling bagus adalah kendaraan yang bisa menyampaikan ke tujuan dengan selamat. Tidak bagus, malah aman.

Bisa saja saya membaguskan istri. Maksud saya punya istri lagi yang lebih muda dan lebih cantik (bukan ditukar tambahkan. hehehe...). Kalau istri tua setuju ya alhamdulillah, kalau tak setuju (apa boleh buat) terpaksa tak masalah juga. Malah ada alasan untuk menceraikannya sekalian, daripada ngrepot-ngrepot­i. Ganggu aja. Hehehe....Tapi resikonya rumah tangga saya mesti jadi tidak ideal. Hubungan dengan istri jadi pincang, hubungan dengan anak juga tidak harmonis. Masih beruntung kalau anak-anak tidak lantas broken home.

Tak mungkin aku tega mengorbankan keharmonisan rumah tanggaku hanya demi nafsuku. Tak mungkin aku melukai perasaan anak-anakku, dan mempertaruhkan masa depan mereka, hanya demi nafsu. Alangkah tidak bersyukurnya aku jika tega melakukan hal seperti itu. Hanya orang-orang yang rumah tangganya bermasalah saja yang pantas melakukan hal seperti itu, dan syar'y meridhainya. Sedangkan rumah tanggaku, alhamdulillah. Dengan istri yang yang sangat kucintai dan sangat mencintaiku, dengan 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan yang sangat membanggakan dan membahagiakanku­, rumah tanggaku adalah surgaku.

Mungkinkah aku begitu bodoh hingga bisa diperdaya oleh nafsuku? Mungkinkah aku membuang surgaku hanya demi kepuasan nafsu yang aku tahu takkan ada puasnya? Mungkinkah aku akan menukar nikmat Allah dengan murkaNya?
Iiiiiihhh...Eng­gak banget deh.... Hehehe.....

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (60) : TANDA-TANDA KYAI SEJATI

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­---------------­--
TANDA-TANDA KYAI SEJATI

Kadang saya berkhayal, seandainya orang yang 'alim itu memiliki tanda khusus, misalnya jidatnya memancarkan cahaya, dan semakin terang cahayanya maka semakin tinggi pula ilmunya. Pastilah tidak ada orang awam yang tertipu. Tidak ada orang yang keliru. Karena akan sangat tampak dengan jelas perbedaan antara orang yang benar-benar 'alim dengan orang yang hanya benar-benar sok 'alim. Antara kyai akhirat dengan kyai dunia. Antara kyai ahli ngaji dengan kyai dukun tukang kibul. Antara ustadz-ustadz sungguhan dengan ustadz-ustadz gadungan.

Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Sama saja. Tidak ada tanda apa-apa yang membedakan. Kalaupun ada tanda-tandanya,­ mungkin hanya tutur kata dan perilakunya saja. Tapi inipun hanya tanda yang tidak mutlak, karena tutur kata dan perilaku bisa dibuat-buat, bisa direkayasa (seperti halnya orang-orang munafik). Bahkan kyai dukun tukang kibul, atau ustadz-ustadz gadungan, tutur kata dan perilaku mereka malah tampak jauh lebih hebat dan lebih dahsyat (di mata orang awam) dibanding kyai-kyai dan ustadz-ustadz yang beneran.

Mengapa begitu? Karena kyai-kyai dukun dan ustadz-ustadz gadungan, butuh menutupi kemunafikan dan kebusukan mereka dengan ucapan dan perbuatan. Ucapan mereka penuh dusta, perbuatan mereka dibuat-buat, sehingga (oleh orang-orang awam yang hanya melihat penampilan), mereka itu tampak lebih meyakinkan dibanding kyai sungguhan yang tidak butuh menutupi kepalsuan dan kemunafikan dengan ucapan penuh tipuan dan penampilan yang sok-sokan yang berlebihan. Disinilah kebanyakan orang awam terpedaya dan tertipu.

Karena tidak ada tanda khusus yang membedakan mereka. Karena jidat kyai-kyai dan ustadz-ustadz sungguhan tidak memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Karena ucapan dan perbuatan mereka hanya biasa-biasa saja, seperti orang kebanyakan lainnya. Mereka tidak bisa terbang (seperti Gatutkaca). Mereka tidak bisa amblas masuk ke perut bumi (seperti Antareja). Mereka tidak bisa membelah diri (seperti Kian Santang). Mereka tidak memiliki kesaktian apa-apa.

Inilah yang menyebabkan orang awam keliru, terpedaya dan tidak bisa membedakan mana yang kyai atau ustadz sejati, dengan kyai dukun atau ustadz gadungan. Akhirnya yang seharusnya dipercaya, malah tidak dipercaya. Yang seharusnya dita'dzimi malah tidak dita'dzimi. Yang mestinya diikuti malah tidak diikuti. Jadinya kebalik-balik. Keliru. Tersesat. Karena hanya mengikuti persangkaan nafsu, memilih kyai hanya berdasarkan 'hal-hal aneh dan kesaktian' bukan pada 'kesalehan dan ketaqwaan'.

Na'udzu billaahi min dzaalik
Ihdinash shiraathal mustaqiim.
Kamis Wage, dinihari
4 April 2013,

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (61)

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah
­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­--------------
Diriwayatkan dari Abdillah bin Masur al Hasyimiy Ra. dia berkata : "Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw.
Laki-laki itu berkata : "(Wahai rasulullah) aku datang kepadamu, agar engkau mengajariku gharaibil 'ilmi (ilmu yang asing, nyleneh, rumit)".
Rasulullah Saw. bertanya kepadanya : "Apakah yang telah engkau kerjakan dengan ilmu yang pokok-pokok?".
Laki-laki itu bertanya : "Apakah ilmu yang pokok-pokok itu?".
Rasulullah Saw. bersabda : "Apakah engkau mengenal tuhanmu?".
"Ya" jawab laki-laki itu.
Rasulullah Saw. bertanya : "Hak-hak tuhanmu apa sajakah yang telah engkau kerjakan?"
"Ma syaa allah". jawab laki-laki itu.
Kemudian Rasulullah Saw. bertanya lagi : "Tahukah engkau tentang kematian?".
"Ya" jawab laki-laki itu.
Rasulullah Saw. bertanya : "Apa sajakah yang telah engkau persiapkan untuk kematian?".
"Maa syaa Allah", jawab laki-laki itu.
Maka Rasulullah Saw. bersabda : "Pergilah. Dan tetaplah engkau pada dua perkara itu, kemudian kembalilah kemari. Maka aku akan mengajarimu tentang ilmu yang asing-asing itu".

Setelah beberapa tahun, laki-laki itu datang kepada Rasulullah Saw. Maka beliau bersabda : "Letakkan tanganmu, di atas hatimu. Apa saja yang engkau tidak ridha untuk dirimu, maka janganlah engkau ridha untuk saudara islammu. Dan apa saja yang engkau ridha untuk dirimu, maka ridhailah itu untuk saudara islammu. Itulah gharaibil 'ilmi".

Disini Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa 'mempersiapkan bekal untuk kematian' adalah ilmu pokok, yang harus diutamakan. Disamping juga Rasulullah menjelaskan, bahwa ilmu yang rumit, asing, dan sulit, adalah 'mengusahakan apa yang terbaik untuk saudara sesama muslim'. Bukan ilmu seperti yang kita bayangkan, tapi ilmu yang mengajarkan kepada kita agar ketika orang lain senang, maka kitapun ikut senang, dan ketika orang lain susah, maka kitapun ikut susah. Itulah gharaibul 'ilmi.

Rabu Wage,dinihari
10 April 2013

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (62) : TENTANG KESAKTIAN (2)

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­--------------
TENTANG KESAKTIAN (2)
(Jika kita kehilangan)

Telah datang kepada saya seseorang yang kehilangan uangnya Rp. 55 juta. Uang itu baru saja ia ambil dari bank dan ia taruh di dalam mobilnya. Sedianya hari itu ia mau membawa pulang anaknya yang sedang opname di RS, dan uang itulah yang akan ia pakai untuk membayar biaya RS. Tapi ketika ia selesai mengurus administrasi RS dan hendak mengambil uang tersebut di mobil, ternyata kaca samping bagian depan mobil telah pecah dan uang yang ia simpan di dalamnya telah raib. Hilang. Disikat maling.

Intinya orang itu meminta tolong kepada saya bagaimana supaya uang yang telah hilang itu bisa kembali. Ia meminta petunjuk kepada saya, bacaan apa yang harus ia baca, dan amalan apa yang harus ia amalkan. Dimintai tolong untuk hal-hal seperti itu, jujur saya sangat bingung. Ilmu saya belum (atau tidak mungkin) sampai kepada 'mengembalikan'­ barang hilang seperti itu. Karena menurut pendapat saya, jika barang yang diambil maling itu bisa kembali, tentu tidak ada orang yang mau maling.

Akhirnya hanya saya nasehatkan kepada orang itu, sesuai dengan ilmu yang saya miliki dan yang saya amalkan jika saya kehilangan, yaitu :
(1) Melapor kepada polisi.
(2) Memahami dengan baik, bahwa barang yang hilang, itu hanya memiliki 2 kemungkinan, yaitu : jika masih menjadi rejekinya pasti akan kembali (walaupun tidak dicari sekalipun), dan jika sudah bukan rejekinya maka tidak akan kembali (walaupun usaha mencarinya telah mati-matian, dan telah minta tolong pada 1000 kyai, 1000 orang pintar, 1000 dukun). Namun secara logika, kemungkinan sudah bukan rejekinya itu lebih besar, sebab kalau masih rejekinya tentu masih tetap berada di tangan dan tidak hilang.
(3) Berdoa dan meyerahkan urusannya kepada Allah. Adapun doanya, yaitu : Ya Allah, jika barangku yang hilang itu masih Engkau kehendaki sebagai rejekiku, maka kembalikanlah kepadaku. Tapi jika memang sudah bukan rejekiku, maka aku mohon kepadaMu ya Allah, agar Engkau beri aku gantinya yang lebih baik.
(4) Bersabar dan menunggu ganti yang lebih baik dari Allah.

Yang penting jangan sampai kita kehilangan, lantas kita pergi ke dukun, kecuali jika kita ingin tambah kehilangan lagi atau tambah dosa-dosa kita. Karena kita pasti hanya akan su-udzdzon kepada banyak orang, tanpa bukti yang jelas kecuali hanya dugaan-dugaan nafsu semata. Amalkan saja ilmu saya di atas, Insya Allah barang yang hilang akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik, dan kita akan mendapatkan pahala sabar yang besar.

Wallahul Musta'aan, wa'alaihit tuklaan
Sabtu Kliwon, waktu shubuh
6 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (63) : SHALAT HANYA PAKAI KAOS

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah
­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah, semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­--------------
SHALAT HANYA PAKAI KAOS

Suatu ketika, tanpa terduga sebelumnya, muncul suatu pertanyaan dari anak saya. " Mengapa bapak jika shalat (di rumah) hanya pakai kaos? Padahal jika shalat di masjid bapak memakai baju? Bukankah shalat di rumah atau di masjid itu sama-sama menghadap Allah? Mengapa harus berbeda? Tidakkah yang demikian itu termasuk riya? "

Tiba-tiba diserbu pertanyaan seperti itu, sama sekali tidak membuat saya kaget, apalagi lantas bingung. Sama sekali tidak. Karena saya tidak pernah melakukan suatu perbuatan tanpa ilmu, saya tidak pernah melakukan suatu perbuatan tanpa suatu alasan. Adapun alasan saya ialah, bahwa ketika saya shalat di rumah, maka saya hanya dilihat oleh Allah, dan Dia hanya melihat hati saya. Dia Maha Mengetahui, Maha Penuh Maklum, Maha Bijaksana, Maha Mudah, Maha Mempermudah. Itulah sebabnya saya hanya pakai kaos saja.

Berbeda dengan jika saya shalat di masjid, maka yang melihat saya bukan hanya Allah, tetapi juga banyak mata manusia. Untuk menjaga mata manusia inilah maka saya perlu memakai baju yang pantas. Karena mereka tidak melihat hati saya, dan hanya melihat penampilan saya. Karena mereka tidak butuh hati saya, tetapi hanya butuh baju saya. Itulah sebabnya saya harus menghargai mereka dengan memakai baju, walaupun ini juga tidak harus.

Jadi, hati saya untuk Allah dan baju saya untuk manusia. Hal seperti ini sama sekali bukan riya, karena riya itu adanya hanya dalam hal ibadah (shalatnya bukan pakaiannya), dan riya itu tempatnya ada di hati.
Pahamilah ini, wahai anakku......

Wallahu a'lamu bish shawaab.
Ahad Legi, dinihari
7 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (64) : TIDAK BOLEH TIDAK MENGERJAKAN SUATU IBADAH HANYA KARENA TAKUT RIYA

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah
­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­--------------
TIDAK BOLEH TIDAK MENGERJAKAN SUATU IBADAH
HANYA KARENA TAKUT RIYA.

Anak saya yang berusia 3 tahun, sering kali setiap melakukan apapun pasti ditunjukkan pada saya atau pada ibunya, atau pada siapapun yang ada di dekatnya. "Pak, bapak.....Bu, ibu....Mas, mas....Mbak, mbak.....Om, om...Pakde, pakde...." Begitu ia memanggil siapa saja yang ada di dekatnya, sambil tersenyum, menunjukkan atau memamerkan sesuatu yang ia lakukan. Walau itu hanya merubah sisiran rambutnya, atau bahkan hanya menempelkan sesuatu di bajunya, atau berpenampilan seperti apa. Selalu mencari perhatian, dan harus diperhatikan. Tampak sekali ia begitu kecewa, bahkan menangis apabila aku atau ibunya atau orang yang dipanggilnya tidak menggubrisnya, tidak menghiraukannya
­.
Inilah fitrah. Inilah sifat bawaan. Inilah sifat alami setiap manusia, bahkan anak yang masih sangat kecil, masih sangat polos, masih sangat jujur, masih sangat lugu, dan belum mengenal pamrih apapun, sudah membutuhkannya.
­ Pamer. Cari perhatian. Cari sensasi. Inilah bibit riya yang pasti tumbuh subur dalam diri setiap manusia, dan inilah yang menyebabkan 'menyelamatkan diri' dari riya itu tidak mudah bahkan sangat sulit dan sangat berat.
Namun demikian, jika kita ingin ibadah kita diterima Allah dan diberikan pahala ridhaNya, maka kita harus menyelamatkan ibadah kita dari riya, yaitu dengan membuang riya itu dari hati kita, dalam semua ibadah yang kita lakukan. Tapi jika kita tidak mampu membuangnya, dan riya tetap bercokol dalam hati kita, maka ibadah harus tetap kita lakukan. Kita tidak boleh tidak melakukan ibadah hanya karena takut riya. Kemudian kita memohon ampun kepada Allah, dari ibadah yang kita tidak mampu membebaskannya dari riya itu, serta berharap Allah akan membebaskan diri kita dari riya dalam ibadah-ibadah kita yang lain.

Karena jika kita tidak mau mengerjakan ibadah dikarenakan takut riya, pastilah kita tidak akan pernah melakukan ibadah selamanya.

Senin Pahing, dinihari
8 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (65) : DAHSYATNYA MAUT

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­--------------
DAHSYATNYA MAUT

Rasulullah saw, bersabda yang artinya : "Barangsiapa yang senang berjumpa dengan Allah (mati), maka Allah juga senang berjumpa dengannya. Dan barangsiapa yang tidak senang

berjumpa dengan Allah, maka Allah juga tidak senang berjumpa dengannya".
Kemudian 'Aisyah ra. berkata kepada beliau saw. : "Wahai Rasulullah, kita semua tidak senang terhadap kematian".
Maka Rasulullah saw. bersabda : "Sesungguhnya jika seorang mukmin berada dalam sakaratul maut, maka diberitakan kepadanya tentang rahmat Allah (surga dengan segala kenikmatannya),­ sehingga ia menjadi sangat menginginkan berjumpa dengan Allah (mati), dan Allahpun sangat menginginkan berjumpa dengannya.
Sedangkan jika seorang kafir berada dalam keadaan sekarat, maka diberitakan kepadanya tentang azab yang Allah telah sediakan untuknya (neraka dengan segala kepedihan siksanya), sehingga dia menjadi semakin benci berjumpa dengan Allah (mati), dan Allahpun semakin benci berjumpa dengannya".

Perkataan 'Aisyah Ra 'Wahai Rasulullah kita semua tidak senang terhadap kematian', itu dikarenakan rasa sakitnya sangat dahsyat dan sangat keras. Kematian itu sakitnya seperti dibabat dengan seribu pedang. Seperti dikuliti hidup-hidup. Seperti dahan yang rantingnya bercabang-caban­g dimasukkan dari mulut, kemudian ditarik dan dihentakkan dengan sangat kuat, dengan sekali hentakan hingga semuanya keluar dari dubur. Rasulullah Saw, melukiskan gambaran dahsyatnya kematian dengan gambaran yang luar biasa sakitnya. Bahkan dahsyatnya rasa sakit akibat kematian, tidak berkurang sedikitpun setelah berlalu Sembilan puluh tahun.

Namun derita sakitnya kematian yang sangat dahsyat itu, bagi orang yang beriman semuanya akan hilang, dan akan terasa sangat mudah, tertutup oleh rahmat Allah dan besarnya kenikmatan surga yang telah dijanjikan, yang ditampakkan ketika ia dalam keadaan sakaratul maut. Sehingga kematian orang yang beriman hanyalah seperti sehelai rambut yang ditarik keluar dari adonan tepung. Leeeessssssssss­sss.......sett.­ Mudah sekali, tanpa terasa sakit. Orang kafirlah yang akan merasakan semua derita kematian yang sangat dahsyat dan menyakitkan itu. Apalagi ketika jiwanya memberontak dan meronta-ronta berusaha melepaskan diri, maka akan semakin lama dan semakin bertambah rasa sakitnya. Na'udzubillahi min dzaalik.

Oleh karena itu, marilah kita selalu menjaga iman dan islam kita, bersemangat dalam mempersiapkan bekal kita untuk menyambut kematian dan untuk menempuh kehidupan di akherat. Dan marilah kita selalu tabah dan kuat dalam menerima semua derita hidup yang menimpa kita di dunia ini, kita hadapi dengan penuh kesabaran. Karena dahsyatnya derita hidup di dunia ini belumlah apa-apa jika dibandingkan dengan dahsyatnya kematian dan azab yang kekal di akherat nanti, yang pasti akan kita hadapi tanpa ada sedikit keraguanpun. Sesungguhnya kita semua telah divonis mati oleh Hakim yang Maha Adil, hanya saja kita tidak tahu kapan eksekusinya terjadi.

Tuubuu qabla an tamuutuu. Bertaubatlah sebelum kalian semua mati. Inilah perintah Allah Dzat yang tidak akan pernah mengingkari janji-janjiNya.­ Sesungguhnya taubat itu menghapus dosa-dosa seperti air bersih menghapus noda-noda. Orang yang berdosa, kemudian ia bertaubat, maka seperti orang yang tidak pernah berdosa. Bersyukurlah dengan kemurahan Allah ini. Bertaubatlah sebelum mati datang menghampiri.

Selasa Pon, pagi hari
9 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (66)

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­--------------

Diriwayatkan dari Abdillah bin Masur al Hasyimiy Ra. dia berkata : "Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Saw.
Laki-laki itu berkata : "(Wahai rasulullah) aku datang kepadamu, agar engkau mengajariku gharaibil 'ilmi (ilmu yang asing, nyleneh, rumit)".
Rasulullah Saw. bertanya kepadanya : "Apakah yang telah engkau kerjakan dengan ilmu yang pokok-pokok?".
Laki-laki itu bertanya : "Apakah ilmu yang pokok-pokok itu?".
Rasulullah Saw. bersabda : "Apakah engkau mengenal tuhanmu?".
"Ya" jawab laki-laki itu.
Rasulullah Saw. bertanya : "Hak-hak tuhanmu apa sajakah yang telah engkau kerjakan?"
"Ma syaa allah". jawab laki-laki itu.
Kemudian Rasulullah Saw. bertanya lagi : "Tahukah engkau tentang kematian?".
"Ya" jawab laki-laki itu.
Rasulullah Saw. bertanya : "Apa sajakah yang telah engkau persiapkan untuk kematian?".
"Maa syaa Allah", jawab laki-laki itu.
Maka Rasulullah Saw. bersabda : "Pergilah. Dan tetaplah engkau pada dua perkara itu, kemudian kembalilah kemari. Maka aku akan mengajarimu tentang ilmu yang asing-asing itu".

Setelah beberapa tahun, laki-laki itu datang kepada Rasulullah Saw. Maka beliau bersabda : "Letakkan tanganmu, di atas hatimu. Apa saja yang engkau tidak ridha untuk dirimu, maka janganlah engkau ridha untuk saudara islammu. Dan apa saja yang engkau ridha untuk dirimu, maka ridhailah itu untuk saudara islammu. Itulah gharaibil 'ilmi".

Disini Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa 'mempersiapkan bekal untuk kematian' adalah ilmu pokok, yang harus diutamakan. Disamping juga Rasulullah menjelaskan, bahwa ilmu yang rumit, asing, dan sulit, adalah 'mengusahakan apa yang terbaik untuk saudara sesama muslim'. Bukan ilmu seperti yang kita bayangkan, tapi ilmu yang mengajarkan kepada kita agar ketika orang lain senang, maka kitapun ikut senang, dan ketika orang lain susah, maka kitapun ikut susah. Itulah gharaibul 'ilmi.

Rabu Wage,dinihari
10 April 2013

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (67)



(Bismillahirrahmanirrahim, saya berniat ngaji karena Allah, semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
----------------------
BERBAHAGIALAH DENGAN KESULITAN HIDUP
TAKUTLAH DENGAN KEMUDAHAN HIDUP

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Allah 'azza wa jalla berfirman yang artinya : " Demi kegunganKu dan demi kemuliaanKu, Aku tidak akan mengeluarkan hambaKu dari dunia ini sedangkan Aku ingin merahmatinya, sebelum Aku tunaikan dari setiap kesalahan yang ia lakukan (di dunia ini), sebagi penyakit di tubuhnya, atau musibah dalam keluarga atau anaknya, atau sebagai kesempitan dalam hidupannya, atau kesulitan dalam ekonominya, hingga Aku sampaikan darinya beberapa mitsqal dzurrah. Dan jika masih ada kesalahan yang tersisa, maka kematiannya Aku buat berat (karena untuk menggenapkan hukumannya), sehingga dia menemuiKu (bersih dari kesalahan) seperti ketika ibunya melahirkannya ".

Dalam hadis ini, dijelaskan bahwa jika Allah menghendaki hambaNya mati dalam keadaan chusnul khatimah, maka dari setiap dosa dan kesalahan yang dilakukannya, Allah memberikan hukumannya di dunia ini. Sehingga kehidupannya akan sangat berat dipenuhi oleh berbagai musibah dan kesulitan. Bahkan kematiannya pun akan terasa sangat berat dan sakit, karena pada saat itu ia harus menghabiskan semua hukuman dari dosa-dosa yang masih tersisa. Tetapi, setelah itu, ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan seperti bayi yang baru saja lahir dari rahim ibunya.

Sebaliknya, jika Allah menghendaki hambaNya mati dalam keadaan suu ul khatimah, maka Allah telah menjelaskan dalam firmanNya : " Demi keagunganKu dan demi kemuliaanKu, Aku tidak akan mengeluarkan hambaKu dari dunia ini sedangkan Aku ingin mengazabnya, sebelum Aku tunaikan dari setiap kebaikan yang ia lakukan (di dunia ini) sebagai kesehatan di tubuhnya, keluasan dalam rizqinya, kesenangan dalam hidupnya, dan ketenangan dalam hatinya, hingga Aku sampaikan darinya beberapa mitsqal dzurrah. Dan jika masih ada kebaikan yang tersisa, maka kematiannya Aku buat mudah (untuk menggenapkan balasan kebaikan yang tersisa itu), sehingga ketika nyawanya dicabut, maka tidak ada lagi baginya satu kebaikanpun yang bisa ia gunakan untuk menjaga dari api neraka ".

Intinya, bersabarlah dan berbahagialah jika kita seorang muslim yang taat kepada Allah 'Azza wa Jalla, tetapi hidup serba dalam kesulitan dan kesusahan, karena sesungguhnya itu adalah neraka yang didahulukan di dunia ini, sehingga di akherat nanti tidak ada lagi neraka, dan yang ada hanyalah surga. Sebaliknya, bersyukurlah dan waspadalah jika kita hidup dalam kemudahan dan kesenangan, karena sesungguhnya itu merupakan surga yang didahulukan di dunia ini. Jika kita tidak waspada dan berhati-hati, maka di akherat nanti tidak ada lagi surga, dan yang ada hanyalah neraka.

Wallahu a'lamu bish shawab, Iyyahu na'budu wa iyyahu nasta'iin.
Kamis Kliwon, dinihari
11 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (68)

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah
­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah, semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­-------
KIAT HIDUP BERKECUKUPAN

Rasulullah saw. bersabda, Allah Ta'ala berfirman yang artinya : " Wahai anak Adam, maksimalkan waktumu hanya untuk beribadah kepadaKu. Niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kecukupan, dan Aku akan menutup kefaqiranmu. Tetapi jika engkau tidak melakukan seperti itu, maka Aku akan memenuhi hatimu dengan kesibukan, tapi Aku tidak menutup kefaqiranmu ". (HR. at Tirmidzi dan al Baihaqi dari Abi Hurairah)

Memaksimalkan waktu untuk ibadah, bukan berarti kita harus setiap waktu berada di dalam masjid untuk terus-terusan shalat sunat dan terus-terusan baca quran yang biasanya tidak ngerti maksudnya atau ndremimil muter tasbih baca-baca dzikir yang biasanya juga cuma di bibir saja. Bukan.

Tapi, yang dimaksud dengan memaksimalkan waktu hanya untuk beribadah kepada Allah, yaitu menggunakan seluruh waktu yang ada ini, untuk mengerjakan tugas-tugas dan kewajiban hidup dengan 'niat ibadah'. Sehingga apapun yang kita lakukan harus bersifat mendekatkan diri kepada Allah, dan membawa kebaikan bagi sesama. Atau dengan kata lain, kita gunakan seluruh waktu yang ada pada kita ini, untuk ‘berbuat apapun’ yang menjadikan Allah meridhai kita dan memberi manfaat pada sesama.

Dan yang dimakdud dengan ‘kecukupan’ di sini, bukan harus dengan harta yang banyak dan berlimpah, akan tetapi bisa dengan hati yang qona’ah. Hati yang nrima. Allah meletakkan ‘rasa cukup’ dalam hatinya, hati istrinya, dan hati anak-anaknya, sehingga mereka tidak punya keinginan neko-neko, dan tidak tergiur oleh kemewahan dan kesenangan dunia, sehingga kebutuhan hidupnya akan tercukupi meski hanya dengan sedikit harta.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariiq
Wallahu a'lamu bish shawaab.
Jum'at legi, dinihari
12 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (69)

Mohon maaf, kemaren (hari Sabtu, 13 April 2013, ngajinya terpaksa libur dikarenakan sakit parah dan harus operasi untuk mengganti organ tubuh yang mati dan tidak berfungsi. Yaitu hardisk komputer
saya. hehehe......).
Alhamdulillah pagi ini, kita sudah bisa ngaji lagi.

  (Bismillahirrah
­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­-------
Sudah semestinya bagi setiap orang yang berakal untuk bangkit tersadar dari lelapnya kelalaian (agar dapat menyelesaikan kehidupannya di dunia ini dengan penuh rasa aman tentram, damai dan bahagia, serta dapat menempuh kehidupannya di alam kelanggengan akherat nanti dengan selamat, penuh nikmat, mulia di surge). Adapun pertanda orang terbangun dari lelapnya kelalaian, itu ada 4, yaitu :

(1) Menyelesaikan urusan dunia ini dengan qona’ah dan santai. Qona’ah ialah merasa cukup dengan apa yang ada pada dirinya, dan tidak menginginkan apa yang ada pada orang lain. Sedangkan santai artinya tidak terburu-buru. Kalau tercapai hari ini Alhamdulillah, kalau tidak tercapai hari ini tidak masalah. Karena masih ada hari esok, hari esoknya lagi, dan hari esoknya lagi. Bahkan seandainya tidak tercapai pun juga tidak apa-apa, karena seandainya tercapai pun akhirnya juga pasti hanya akan ditinggalkan juga.

(2) Menyelesaikan urusan akherat dengan rakus dan kemrungsung. Rakus artinya sangat ingin bisa mendapatkan yang sebanyak-banyak
­nya dan yang sebaik-baiknya.­ Sedangkan kemrungsung artinya tidak tenang dan tidak tentram hatinya sebelum berhasil mendapatkannya.
(3) Menyelesaikan urusan agama dengan ilmu dan dengan kesungguhan. Karena ibadah apapun yang dilakukan tanpa ilmu, maka ibadah itu akan tertolak, dan tidak mungkin diterima oleh Allah. Karena ibadah yang dilakukan dengan ngawur, tanpa ilmu, maka tidak akan membawa kebaikan, tapi malah akan mendatangkan keburukan. Itulah sebabnya, apapun yang akan dilakukan harus diketahui ilmunya, dan apapun yang tidak diketahui ilmunya, maka sebaiknya ditinggalkan tidak usah dikerjakan). Begitu pula harus dengan kesungguhan, karena semua urusan agama pasti berlawanan dengan keinginan nafsu, sehingga tidak mungkin dapat terselesaikan jika tidak dengan kesungguhan.

(4) Menyelesaikan urusan sesama mahluk dengan nasehat dan penuh perhatian. Nasehat ialah merasa senang jika orang lain berada dalam kebaikan dan kenikmatan, dan merasa susah jika orang lain berada dalam keburukan dan kesusahan.

Inilah tanda-tanda orang yang bangkit terbangun dan tersadar dari lelapnya kelalaian. Orang yang memiliki ketenangan dan ketentraman serta kebahagiaan dalam hidupnya di dunia ini, dan memiliki keselamatan dan kebahagiaan abadi di akherat nanti. Lantas….sudahka
­h kita terbangun dan tersadar dari lelapnya kelalaian sehingga pantas memiliki semua itu............­..... ???...Hehehe…Ha­nya kita-kita sendiri yang mengetahuinya. Yang jelas, jika kita belum memilikinya, maka masih ada kesempatan untuk bisa memilikinya. Selagi kita masih hidup.
Wallahu a’lamu bish shawaab, wahuwal mufaffiq ila aqwamit thariiq.
Ahad Pon, jam satu enambelas
14 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (70)

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah, semoga Allah memberikan ilmuNya d...an menolong untuk bisa mengamalkannya)
---------------­-------
Disebutkan dalam kitab Tanbiihul Ghafilin, bahwa Syaikh Abi Hamid al Lafaf berkata : “ Barangsiapa yang banyak mengingat maut (kematian) maka ia akan dimuliakan dengan 3 perkara, yaitu : (1) bersegera bertaubat, (2) bersifat qona’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada, dan (3) bersegera dalam beribadah.
Sedangkan barangsiapa yang melupakan maut, maka ia akan dihukum dengan 3 perkara, yaitu : (1) menunda-nunda bertaubat, (2) tidak bisa ridha dan merasa cukup dengan apa yang ada, dan (3) malas beribadah.

Disamping itu, orang yang melupakan maut, maka dia tidak akan memiliki rem untuk mengendalikan dan menghentikan diri dari dorongan-dorong
­an nafsu yang selalu mengajak maksiat kepada Allah, dan dia tidak memiliki pendorong dan penyemangat dalam melakukan ibadah dan taat kepada Allah, sehingga hidupnya hanya digunakan untuk memenuhi dan memuaskan hasrat nafsu yang tidak akan pernah ada habisnya. Akhirnya maut menjemput dalam keadaan suu ul khatimah. Na’udzu billahi min dzaalik.
Wallahu a'lamu bish shawab, wallahul mufaffiq ila aqwamith thariq.
Senin Wage, ba’das subuh
15 April 2013.

Related Posts:

NGAJI PAGI BARENG PAK KATIB (71)

Oleh KH. Katib Masyhudi

(Bismillahirrah­manirrahim, saya berniat ngaji karena Allah,semoga Allah memberikan ilmuNya dan menolong untuk bisa mengamalkannya)
_______________­_______
Assalamu’alaiku
­m Warohmatullahi Wabarakatuh.
Bismillahirrahm
­anirrahim, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin, wash shalatu wassalaamu ‘ala syyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’iin.
Disebutkan di dalam kitab Tanbiihul Ghafilin, bahwa orang yang paling utama, ialah orang yang meliki 5 perkara, yaitu :
1. Menyembah Tuhannya dengan penuh kemantaban hati.
2. Memberikan manfaat terhadap sesama mahluk secara nyata.
3. Orang lain selamat dari kejahatannya.
4. Tidak berharap apapun dari apa-apa yang dimiliki orang lain.
5. Selalu mempersiapkan bekal untuk menyambut datangnya maut.

Karena sesungguhnya kita semua diciptakan dan dihidupkan memang hanya untuk menunggu datangnya mati. Tidak ada tempat untuk berlari, dan tidak ada tempat untuk berlindung darinya. Semua yang hidup pasti akan mati. Siapapun dia, tanpa kecuali. Itulah sebabnya kita tidak perlu takut mati, sebab takut atau tidak, tetap saja kita pasti akan mati. Mati adalah sesuatu yang pasti, tidak mungkin bisa kita hindari.

Yang harus kita lakukan, hanyalah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya dan sebanyak-banyak
­nya, karena mati adalah awal perjalanan akherat yang tak berbatas jauhnya, dan tak berkesudahan masanya.
Dan sebaik-baik bekal adalah Islam dan amal shalih. Sebagaimana telah diwasiatkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab suci al Quran yang artinya : “ Sungguh Jangan sampai kalian mati, melainkan kalian dalam keadaan sebagai orang-orang yang islam”.

Itulah sebabnya anugerah islam yang telah Allah Ta’ala berikan kepada kita ini, harus kita jaga dengan sebaik-baiknya,
­ dengan banyak mendatangi majlis-majlis ilmu untuk mendengarkan nasehat-nasehat­ agama, dan menjaga shalat fardhu 5 waktu dengan baik, syukur apabila kita bisa melakukannya dengan berjama’ah di masjid secara ajeg . Sesungguhnya tidak ada shalat yang lebih baik disbanding shalat yang dilakukan dengan berjama’ah di masjid.
Dan marilah kita berusaha sungguh-sungguh
­ dengan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, agar diberikan kemampuan untuk bisa mewujudkan 5 perkara di atas dalam kehidupan kita sehari-hari, sehingga kita bisa menjadi ‘afdhalunnaas’ (manusia yang paling utama), di dunia maupun di akherat. Aamiiin.
Wallahu a’lamu bish shawaab, wahuwal mufaffiq ila aqwamit thariiq.
Wassalamu’alaik
­um Warohmatullahi Wabarakatuh.
Senin Wage, ba’dal Maghrib
15 April 2013.

Related Posts:

RAHASIA DIBALIK PENGUNDURAN DIRI PAUS BENEDIKTUS KE-IX

WAAHH.. Penampakan Paus Benediktus XVI Lagi Sholat ...

ISTANBUL, Turki (SSP) - Untuk pertama kalinya Paus Benediktus XVI berkunjung ke Masjid Biru yang terkenal di Istanbul. Paus berdiri sholat di samping Mustafa Cagrici, mufti agung Istanbul, menghadap mekkah dan menundukkan kepalanya dalam keheningan..

sumber | iniunic.blogspot.com | http://www.kaskus.co.id/thread/51202f944f6ea1b112000000/waahh-penampakan-paus-benediktus-xvi--lagi-sholat-gan/

RAHASIA DIBALIK PENGUNDURAN DIRI PAUS BENEDIKTUS KE-IX

Seorang peneliti Saudi mengungkapkan dalam perbandingan agama, kristenisasi dan urusan Vatikan, Direktur Essam.
Alasan sebenarnya Paus Vatikan yang mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri, yang mengguncang komunitas Katolik di seluruh dunia, sebagai Paus pertama kali yg mengundurkan diri sejak 6 abad yang lalu.

Melalui akun nya di twitter mengungkapkan apa yg tersingkap dari faktor faktor sebenarnya, pengunduran diri Paus Benediktus yg ke 16 ini disiarkan pertama kalinya. Dia mengatakan, penyebab utama penguduran diri Paus adalah setelah terjadinya kekacauan dari kalangan gereja Vatikan, terhadap Injil Lama yg di dalamnya terdapat Nama Rasul Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassallam, yang sampai saat ini masih berada di Vatikan.

Terdapat 3 orang dalam Vatikan itu yg menyembunyikan keislamannya. Dan Paus selalu berusaha mencari tahu mereka. Dan salah satu diantara mereka adalah penanggung jawab pembuatan surat pernyataan pengampunan dosa (dalam agama Khatolik). Dan ada salah satu yang mengumumkan keislamannya. Akibatnya dampak dari diumumkannya keislaman dia. Dia pindah ke Afrika Selatan dan tinggal di sana. Di negaranya Ahmad Deedat. Syaikh Ahmad Deedat lah yg menjadi sebab keislamannya.

Beliau menegaskan dalam akun twitter nya bahwa sebenarnya pengunduran diri Paus Benediktus IX bukanlah karena sakit. Karena sebelumnya Paus Yohanes II usianya lebih tua dan penyakitnya lebih parah, namun ia tidak mengundurkan diri dari keuskupan gereja Vatikan. Ini adalah argumentasi untuk menghadapi media.

Dan dia juga telah menentang Vatikan yg telah mendustai kabar keislaman 35 uskup dan pendeta dari pembesar pembesar Vatikan. Kebanyakan mereka menyembunyikan kesilamannya karena kekhawatiran terhadap keselamatan hidupnya, sebagian kecil juga ada yg mengundurkan diri. Dan Paus memilih untuk diam selama 6 tahun. Vatikan sampai saat ini masih belum memiliki kekuatan untuk membantah kabar keislaman 35 uskup tadi. Maka Paus Benediktus IX pun mengundurkan diri.

Dia juga menambahkan Paus juga berusaha untuk menutupi keislaman mereka dengan melakukan hujatan terhadap islam dan hinaan kartun Nabi Muhammad secara terang terangan pada tahun 2006. Namun usahanya justru menjadikan senjata untuk dirinya sendiri yang berujung pada pengunduran dirinya.

Dia mengisyaratkan bahwa dokumen dokumen Vatikan yg menyelidiki surat pernyataan itu tidak seorang pun mengetahuinya sampai saat ini ditangan siapa surat itu berada. Akan tetapi seorang pengamat mengatakan bahwa Paus menghilangkannya bersamaan dengan keluar dari kantor tugasnya segera.

Dia jg menegaskan terdapat arsip arsip pemberhentian Paus dan penangkapan nya di beberapa negara yg dikunjunginya karena keterlibatannya dalam menutup-nutupi kekerasan dan skandal seksual.

Dan peneliti ini menutup dengan memotivasi para da’i dan ulama untuk melakukan kegiatan dakwah dengan istiqomah untuk mendakwahi orang orang khatolik dari pengkultusan terhadap Paus dan uskup dibawahnya menuju penyembahan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Wallahu'alam bishowab

sumber : GEREJA DAN PENDETA MEMBONGKAR KETOLOLAN AGAMA KRISTEN dan media internasional.
 Link : http://www.facebook.com/groups/428194367218093/permalink/489042204466642/

Related Posts:

KISAH NYATA PEMBENCI MAULID NABI

Oleh Haqqu El-Yaqeen Kun



Suatu hari Syech Abbas Al-Maliki berada di Baitul Muqaddas Palestina untuk menghadiri peringatan Maulud Nabi صلى الله عليه وسلم di mana saat itu bershalawat dengan berjamaah. Saat itulah beliau melihat
seorang pria tua beruban yg berdiri dengan khidmat mulai dari awal sampai acara selesai. Kemudian beliau bertanya kepadanya akan sikapnya itu. Lelaki tua itu bercerita bahwa dulu ia gak pernah mau mengakui acara Maulud Nabi dan ia memiliki keyakinan bahwa  perbuatan itu adalah Bid'ah Sayyi'ah (bid'ah yg jelek).

Suatu malam ia mimpi duduk di acara Maulud Nabi bersama sekelompok orang yg bersiap-siap menunggu kedatangan Nabi صلى الله عليه وسلم ke mesjid, maka saat Rasulullah صلى الله عليه وسلم tiba, sekelompok orang itu bangkit dengan berdiri toek menyambut kehadiran Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Namun hanya ia saja seorang diri yg gak mampu bangkit toek berdiri. Lalu Rasullullah صلى الله عليه وسلم berkata kepadanya: "Kamu gak akan bisa bangkit!" Saat ia bangun dari tidurnya ternyata ia dalam keadaan duduk dan gak bisa berdiri. Hal ini ia alami selama 1 tahun. Kemudian ia pun bernadzar jika sembuh dari sakitnya ia akan menghadiri acara Maulud Nabi di mesjid dengan bershalawat.

Kemudian Allah menyembuhkan nya. Ia pun selalu hadir toek memenuhi nadzarnya dan bershalawat dalam acara Maulud Nabi صلى الله عليه وسلم.

[Sumber : Kitab Al-Hady At-Tam fi Mawarid al- Maulid an-Nabawi, hal 50-51, karya Syech Muhammad Alwi Al- Maliki

25 | 02 | 2013

Related Posts:

DISYARI'ATKAN KHUTHBAH DAN SHOLAT JUM'AH

I. DISYARI'ATKAN KHUTHBAH DAN SHOLAT JUM'AH

Dua khuthbah disyari'atkan dengan tujuan pokok memberikan nasihat, mengingatkan, dan mengajak untuk mawas diri. Allah berfirman:

يأيها الذين ءامنوا إذا نودي للصلوة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع، ذلكم خير لكم ان كنتم تعلمون.
[سورة الجمعة : 9]

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk sholat dihari jum'ah, maka bersegeralah kamu mengingat kepada Allah dan tinggalkanlah perniagaan. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. [QS. Al Jumu'ah : 9]

Dalam ayat itu ada perintah الذكر (mengingat Allah). Dalam hal ini wajib hukumnya, karena tidak wajib bersegera kepada yang selain wajib. Para Ulama' Tafsir menafsirkan الذكر (adz dzikru) dengan khuthbah, karena khuthbah mengandung arti peringatan. [Fiqhus Sunnah: 1/ 260]

II. ADAB-ADAB KHUTHBAH JUM'AH

Dalam mernyampaikan khuthbah hendaknya khothib memperhatikan sunnah-sunnah Rasul. Sunnah-sunnah tersebut antara lain:

1. MENGUCAPKAN SALAM KEPADA JAMA'AH KETIKA NAIK MIMBAR (SEBELUM DUDUK)

عن جابر قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا صعد المنبر سلم.

وعن نافع فذكره بمعناه إلا انه قال: وإذا رقى المنبر سلم على الناس قبل ان يجلس.
[رواه البيهقي: 3/ 205]

Dari Jabir radliyyallahu 'anhu beliau berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama apabila beliau naik mimbar, maka beliau mengucapkan salam.

Dan dari Nafi' (maka beliau menyebutkan hadits yang semakna) hanya saja beliau berkata: Dan apabila beliau naik mimbar, maka beliau mengucapkan salam kepada jama'ah sebelum duduk. [HR. Baihaqiy: 3/ 205]

2. DUDUK DI ATAS MIMBAR SAMPAI USAI ADZAN DAN BERDIRI KETIKA KHUTHBAH

عن ابن عمر قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم يخطب خطبتين، كان يجلس إذا صعد المنبر حتى يفرغ أراه، قال: المؤذن. ثم يقوم فيخطب ثم يجلس فلا يتكلم ثم يقوم فيخطب.
[رواه أبو داود: 1094]

Dari Ibnu Umar radliyyallahu 'anhu: Adalah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallama berkhuthbah dua kali khuthbahan, beliau duduk naik mimbar sampai selesai (Perawi berkata: Aku yaqin Ibnu Umar berkata: Sampai usai orang yang adzan), kemudian beliau berdiri, maka beliaupun berkhuthbah, kemudian beliau duduk, maka beliau tidak berbicara, kemudian beliau berdiri lagi, maka beliau berkhutbah lagi (untuk yang kedua kali). [HR. Abu Dawud no. 1094]

عن السائب بن يزيد رضي الله عنه قال: التأدين يوم الجمعة حين يجلس الامام على المنبر على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر رضي الله عنهما.
[رواه البخاري في كتاب خلقة الربيعة: 96]

Dari Saib bin Yazid radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Adalah adzan hari jum'ah itu ketika imam sedang duduk diatas mimbar di zaman Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama, Sayyidina Abu Bakar, dan Sayyidina Umar radliyyallahu 'anhuma. [HR. Bukhariy dalam Kitab Khalqatur Rabi'ah : 96]

عن جابر بن سمرة قال: رأيت النبي صلى الله عليه وسلم يخطب قائما، ثم يقعد قعدة لا يتكلم ... وساق الحديث ....
[رواه أبو داود: 1095]

Dari Jabir bin Samurah radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Aku melihat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama berkhuthbah dalam keadaan berdiri kemudian beliau duduk sesaat tidak berbicara ... Al-hadits. [HR. Abu Dawud no. 1095]

3. BERTEKANAN PADA TONGKAT ATAU BUSUR PANAH

روى الحكم بن حزن الكلفي قال في حديثه ... فأقمنا بها أياما شهدنا فيها الجمعة مع رسول الله صلى عليه وسلم، فقام متوكئا على عصا أو قوس، فحمد الله واثنى عليه كلمات خفيفات مليبات مباركات ثم قال: أيها الناس أنكم لن تطيقوا أو لن تفعلوا كل ما أمرتم به ولكن سددوا وأبشروا ... الحديث.
[رواه أبو داود: 1096]

Al Hakam bin Hazn Al Kalafiy meriwayatkan, beliau berkata dalam haditsnya: Maka kami bermukim di Madinah beberapa hari, kami menyaksikan dihari-hari itu shalat jum'ah bersama Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama maka beliau berdiri sambil bersandaran/bertekanan pada tongkat atau busur panah. Maka beliau memuji Allah dan memujanya dengan kalimat-kalimat ringan, yang baik dan diberkahi, kemudian beliau bersabda: Wahai manusia sesungguhnya kalian tidak akan dapat kuat atau tidak dapat melakukan semua apa yang diperintahkan kepada kalian, namun berbuatlah dengan sedang dan kalian akan mendapatkan kelapangan hati. [HR. Abu Dawud no. 1096]

عن عمار بن سعد: ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان إذا خطب في الحرب على قوس، وإذا خطب في الجمعة خطب على عصا.
[رواه البيهقي]

Dari Ammar bin Sa'ad radliyyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama ketika beliau berkhuthbah dalam perang, maka beliau berkhuthbah (bertekanan) atas busur panah, dan ketika beliau berkhuthbah dalam shalat jum'ah, maka beliau (bertekanan) atas tongkat. [HR. Baihaqiy]

4. MEMPERSINGKAT KHUTHBAH, MEMPERHATIKAN BAHASA SEHINGGA DAPAT DIPAHAMI DAN MENGENA KEPADA JAMA'AH

عن عمار بن ياسر رضي الله عنه قال: أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بإقصار الخطب.
[رواه أبو داود: 1106]

Dari Ammar bin Yasir, beliau berkata: Kita diperintahkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama dengan mempersingkat khuthbah-khutbah. [HR. Abu Dawud : 1106]

عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يطيل الموعظة يوم الجمعة إنما هنا كلمات يسيرات.
[رواه أبو داود: 1107]

Dari Jabir bin Samurah radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Adalah Rasulullah shalallah 'alaihi wa sallama tidak memperpanjang mau'idloh pada hari jum'at, mau'idloh itu hanyalah kalimat-kalimat yang sedikit. [HR. Abu Dawud no. 1107]

عن عمار بن ياسر رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ان طول صلاة الرجل، وقصر خطبته مئنة من فقهه.
[رواه مسلم]

Dari 'Ammar bin Yasir radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallahu wa sallama bersabda: Sesungguhnya panjang shalat nya seseorang (ketika shalat sendiri) dan singkat khutbahnya, menunjukkan akan tanda kemengertiannya. [HR. Muslim dalam Kitab Bulughul Maram]

5. MENGERASKAN SUARA LEBIH DARI YANG WAJIB

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا خطب خمرت عيناه، وعلا صوته، واشتد غضبه حتى كأنه منذر جيش .... الحديث.
[رواه مسلم في كتاب بلوغ المرام]

Dari Jabir bin Abdillah radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama beliau berkhuthbah, maka merahlah kedua matanya, keras suaranya, dan sangat kemarahannya, sehingga seakan-akan beliau itu seorang yang sedang memberi peringatan kepada para tentara. [HR. Muslim dalam Kitab Bulughul Maram]

6. TIDAK MELEBIHI TELUNJUK JARI KETIKA MENGANGKAT TANGAN (bukan seperti pada gambar)

عن عمار بن رئيبة رضي الله عنه قال: رأى بشر بن مروان على المنبر رافعا يديه، فقال: قبح الله هاتين اليدين، لقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم، ما يزيد على ان يقول بيده هكذا، وأشار بأصبعه المسبحة.
[رواه مسلم. وأبو داود : 1104]

Dari 'Umaroh bin Ru'aibah radliyyallahu 'anhu, beliau menceritakan: Bahwa beliau telah melihat Bisyir bin Marwan diatas mimbar sedang ia mengangkat tangannya, maka beliau berkata (menegur): Semoga Allah memburukkan kedua tangan ini, sungguh aku telah melihat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama tidak melebihi (dalam mengangkat tangan) atas apa yang beliau isyaratkan dengan tangannya begini, dan 'Umaroh memberikan isyarat jari telunjuknya. [HR. Muslim dan Abu Dawud no. 1104]

7. MEMISAHKAN DI ANTARA DUA KHUTHBAH DENGAN DUDUK

عن عبد الله [بن مسعود رضي الله عنه]: ان رسول الله صلى الله عليه وسلم: كان يخطب الخطبتين وهو قائم، وكان يفصل بينهما بجلوس.
[رواه النسائي]

Dari Abdillah bin Mas'ud radliyyallahu 'anhu: Bahwa sesungguhnya Rasulallah shalallahu 'alaihi wa sallama berkhuthbah dua khuthbah sedangkan beliau berdiri, dan beliau memisah antara keduanya dengan duduk. [HR. Nasa'i]

III. KAIFIYYAH KHUTHAH

Dari perbuatan Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama yang bersifat muwadlzobah (tetap), dapat ditarik kesimpulan bahwa kaifiyyah khuthbah harus merangkum 6 hal pokok, yaitu: Hamdalah, Syahadat, Sholawat atau Pujian Atas Nabi, Washiyat Taqwa, Membaca Al Qur'an, dan Berdo'a.

1. MEMBACA HAMDALAH

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بالحمد لله فهو اقطع.
[رواه البيهقي]

Dari Abi Hurairata radliyyallahu 'anhu, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallama, beliau berkata: Segala sesuatu yang mengandung urusan penting, yang tidak didahului dengan hamdalah, diibaratkan bagaikan binatang yang putus anggota tubuhnya. [HR. Baihaqiy]

2. MEMBACA SYAHADAT

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كل خطبة ليس فيها شهادة كاليد الجدماء.
[رواه البيهقي]

Dari Abi Hurairah radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Semua khuthbah yang tidak ada didalamnya ucapan syahadat, diibaratkan bagaikan tangan yang terjangkit penyakit kusta. [HR. Baihaqiy]

3. MEMBACA SHALAWAT NABI / PUJIAN ATAS NABI

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما جلس قوم مجلسا لم يذكروا فيه ربهم ولم يصلوا على نبيهم صلى الله عليه وسلم، إلا كان ترة عليهم يوم القيامة، ان شاء أخذهم الله، وان شاء عفا عنهم.
[رواه البيهقي]

Dari Abi Hurairata radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama telah bersabda: Tidaklah duduk suatu kaum pada suatu majlis (pertemuan, kumpulan, dsb), yang tidak menyebut Tuhan mereka di dalam majlis itu, dan tidak mengucapkan sholawat pada Nabi mereka, kecuali majlis itu bernilai kurang bagi mereka dihari kiamat. Jikalau Allah berkehendak akan menentukan sanksi kepada mereka, dan jikalau Allah berkehendak, Allah akan memberikan maaf kepada mereka. [HR. Baihaqiy]

4. MENYAMPAIKAN WASHIYAT TAQWA

عن علي رضي الله عنه قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يخطبنا فيذكرنا بأيام الله حتى نعرف ذلك في وجهه وكأنه نذير قوم.
[رواه احمد في كتاب خلقة الربيعة]

Dari Ali radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Adalah Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallama menyampaikan khuthbahnya kepada kita, maka beliau mengingatkan kita dengan hari-harinya Allah, sehingga kami melihat yang demikian itu, wajah beliau seakan-akan beliau diibaratkan orang yang menakut-nakuti pada suatu kaum. [HR. Ahmad dalam Kitab Khalqatur Rabi'ah]

5. MEMBACA AYAT AL QUR'AN DI KHUTHBAH AWWAL ATAU KHUTHBAH YANG KEDUA

عن جابر بن سمرة رضي الله عنه: كانت للنبي صلى الله عليه وسلم خطبتان يجلس بينهما ويقرا القرآن ويذكر الناس.
[رواه أبو داود : 1094. والبيهقي]

Dari Jabir bin Samurah radliyyallahu 'anhu: Adalah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallama ada pada dua khuthbah, yang beliau duduk diantara keduanya, beliau membaca Al Qur'an, dan beliau mengingatkan kepada manusia. [HR. Abu Dawud no. 1094. Dan Baihaqiy]

عن صفوان بن يعلى عن أبيه انه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقرأ أعلى المنبر (ونادوا يامالك ليقض علينا ربك، قال أنكم مكثون | سورة الزخرف : 43/ 77).
[رواه مسلم]

Dari Shafwan bin Ya'la, dari bapaknya: Bahwasannya beliau mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam membaca: Wa naadauu yaa maalika liyaqdli 'alainaa rabbuka, qoola innakum maakitsuuna (Dan mereka berseru, Wahai (malaikat) Malik! Biarlah Tuhanmu mematikan kami saja. Dia menjawab: Sungguh kamu akan tetap tinggal (dineraka ini) | QS. Az Zukhruf : 43/ 77). [HR. Muslim]

عن عمرة بنت عبد الرحمن، عن أخت لعمرة قالت: أخذت ق. والقرآن المجيد، من رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة وهو يقرأ بها على المنبر في كل جمعة.
[رواه مسلم]

Dari Amrah binti Abdur Rahman dari saudara perempuannya, ia berkata: Aku mempelajari bacaan Surat: Qoof Wal Qur'aanul Majiid, dari mulut Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam pada hari jum'at, sedangkan beliau membacanya di atas mimbar setiap jum'at. [HR. Muslim]

6. MEMBACA DO'A

عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم شاهرا يديه قط يدعو على منبره ولا (على) غيره ولكن رأيته يقول هكذا، وأشار السبابة وعقد الوسطى بالابهاء.
[رواه أبو داود: 1104 - 1105]

Dari Sahal bin Sa'ad, berkata: Tidaklah sama sekali aku melihat Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kedua tangan beliau (setinggi-tingginya) berdoa di atas mimbar dan tidak pula di atas selain mimbar, tetapi aku melihat beliau berisyaroh seperti ini, (Sahal) memberikan isyarat dengan telunjuk jari dan membuat bundaran jari tengah dengan ibu jari. [HR. Abu Dawud no. 1104 - 1105]

CATATAN:

Tidak dibenarkan mengangkat tangan setinggi-tingginya diatas mimbar (seperti pada gambar), kecuali dalam do'a minta hujan (khuthbah istisqo).

وثابت عن انس بن مالك، عن النبي صلى الله عليه وسلم: انه مد يديه ودعا وذلك حين استسقى في خطبة الجمعة.

فروينا عن انس بن مالك، عن النبي صلى الله عليه وسلم: انه كان لا يرفع يديه في شيئ من دعائه إلا في الاستسقاء حتى يرى بياض إبطيه.
[رواه البيهقي]

Dan ada keterangan dari Sahabat Anas bin Malik, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam: Bahwa beliau khuthbah mengangkat kedua tangan beliau dan berdoa, dan yang demikian itu ketika beliau minta hujan pada khuthbah jum'at.

Maka kami meriwayatkan dari Sahabat Anas bin Malik, dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallama: Bahwa beliau tidak mengangkat kedua tangan beliau dalam doanya, kecuali pada waktu doa meminta hujan, sehingga (dalam mengangkat tangan beliau) terlihat putihnya kedua ketiak beliau. [HR. Baihaqiy]

IV. KHOTHIB BOLEH BERDIALOG DENGAN JAMA'AH SHOLAT JUM'AH

Khothib diperbolehkan berdialog atau memerintah jama'ah jum'at jika hal itu dinilai amat penting. Hal ini pernah dilakukan oleh Rasulullah shalallaahu 'alaihi wa sallama kepada seorang sahabat yang terlambat datang dan Rasulullah sudah berkhuthbah, sahabat itu yang bernama Sulaik Al Ghothofaaniy terlambat datang menghadiri sholat jum'at dan beliau langsung duduk, tidak melakukan sholat tahiyyatal masjid atau qobliyyah jum'ah, Rasulullah melihatnya dari mimbar dan menyuruh Sulaik untuk melakukan shalat tahiyyatal masjid atau qobliyyah jum'ah.

Dan Rasulullah juga pernah memerintahkan kepada Sahabat Abdullah Ibnu Mas'ud untuk maju ketika beliau mendengarkan khuthbah Rasulullah dipintu masjid. Dialog ini termaktub dalam hadits-hadits berikut ini:

عن جابر رضي الله عنه: ان رجلا (وهو سليك الغطفاني) جاء يوم الجمعة والنبي صلى الله عليه وسلم يخطب، فقال: أصليت يا فلان؟ قال: لا. قال: قم فركع!.
[رواه أبو داود: 1115]

Dari Jabir radliyyallahu 'anhu: Bahwasannya ada seseorang (dikatakan bernama Sulaik Al Ghothofaniy) datang pada hari jum'at sedangkan Nabi sholallahu 'alaihi wa sallama sedang berkhuthbah, maka beliau bertanya kepadanya: Wahai fulan sudahkah engkau sholat (tahiyyatal masjid atau qobliyyah jum'ah)? Dia menjawab: Tidak. Maka beliau bersabda: Berdirilah dan sholatlah!. [HR. Abu Dawud : 1115]

عن جابر رضي الله عنه قال: لما استوى رسول الله صلى الله عليه وسلم يوم الجمعة قال: إجلسوا .... فسمع ذلك ابن مسعود، فجلس على باب المسجد، فراه رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: تعال يا عبد الله بن مسعود.
[رواه أبو داود : 1091]

Dari Jabir radliyyallahu 'anhu, beliau berkata: Ketika sudah berdiri (di atas mimbar), Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama pada hari jum'at, beliau bersabda: Duduklah kalian semua. Maka ketika Abdullah Ibnu Mas'ud mendengar sabda Nabi tersebut, beliau duduk dipintu masjid. Kemudian dilihatnya oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama, dan beliau bersabda: Kemarilah wahai Abdullah bin Mas'ud?!. [HR. Abu Dawud no. 1091]

V. MUQODDIMAH KHUTHBAH (PEMBUKAAN KHUTHBAH MENURUT SUNNAH)

Sebaiknya khothib menggunakan kata muqoddimah khuthbah jum'ah seperti yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallama. Diantaranya:

1. UCAPAN RASULULLAH DALAM HAJI WADA'

الحمد لله، نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونتوب اليه، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، ومن سيئات أعمالنا، من يهدى الله فلا مصل له، ومن يضلل فلا هادي له، واشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله، أصيكم عباد الله، بتقوى الله، وأحثكم على طاعته، واستفتح بالله هو خير (أما بعد) ....

Muqoddimah ini seperti termaktub dalam Kitab Jawahirul Adab : 109.

2. DALAM SEBUAH KHUTHBAH

عن بن مسعود رضي الله عنه: ان النبي صلى الله عليه وسلم كان إذا تشهد قال:

الحمد لله، نستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، من يهد لله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد ان لا إله إلا الله، وأشهد ان محمدا عبده ورسوله، أرسله بالحق بشيرا بين يدي الساعة، من يطع الله ورسوله فقد رشد، ومن بعصهما فإنه لا يضر إلا نفسه، ولا يضر الله تعالى شيئا.
[رواه أبو داود : 1097]

Riwayat ini termaktub dalam Kitab Fiqhus Sunnah : 1/ 216.

3. HADITS RIWAYAT MUSLIM

.... (أما بعد) فإن خير الحديث كتاب الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة (ورواية
للنسائي : وكل ضلالة في النار)

4. DALAM SURAT AL KAHFI : 17

من يهد الله فهو المهتد، ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا
[سورة الكهف : 17]

5. DALAM SURAT AL ISRA' : 97

من يهد الله فهو المهتد، ومن يضلل فلن تجد لهم أولياء من دونه. [سورة الإسراء : 97]

6. DALAM SURAT AL A'RAF : 43

الحمد لله فهو الذي هدنا لهذا وما كنا لنهتدي لولا ان هدنا الله. [سورة الأعراف : 43]

VI. PENUTUP KHUTHBAH

Bacaan yang dapat dibaca saat mengakhiri khutbah antara lain:

1. Bacaan yang pernah diucapkan Sayyidina Abi Bakr As Siddiq pada hari peringatan beliau menjadi kholifah

أقول قول هذا واستعفر الله لي ولكم.
[انظر كتاب جواهر الأدب : 113]

2. Bacaan yang dibudayakan Kholifah Umar bin Abdul Aziz

ان الله يأمر بالعدل والإحسان، وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفخساء والمنكر البغي، يعظكم لعلكم تذكرون، فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، واسألوه من فضله يعطكم، ولذكر الله أكبر.

قد تمم الله مقاصدنا. الله ينفع. كن

Kamis kliwon: 11 | 04 | 2013 M
[  http://www.facebook.com/groups/428194367218093/permalink/507151185989077/ ]

Related Posts: