ORANG ALIM HATINYA KURANG PEKA?

Oleh: Jum’an

Sudah biasa bagi anak-anak desa generasi saya dulu mengenakan kain sarung yang sudah kumal karena malas mencucinya untuk solat sehari-hari karena kain sarung itu masih “suci” artinya tidak terkena najis. Istimewanya meskipun kain sarung kami baru dicuci bersih, kalau secara tidak sengaja terpercik air seni, kurang dari setetes sekalipun, kami pasti mencucinya kembali bersih-bersih, bukan bagian yang terkena najis etapi seluruhnya. Sampai sekarang umat Islam generasi saya umumnya tetap membedakan kata suci untuk pakaian yang boleh dipakai untuk solat dengan kata bersih untuk pakaian yang pantas dipakai kekantor misalnya. Suci berarti bersih menurut aturan agama, sedangkan pakaian bersih artinya tidak tampak kotor dan dekil dipandang mata. Bukan hanya itu. Kita juga membedakan pula orang baik menurut agama dan orang baik dalam pengertian umum. Wanita soleh berarti ia mengikuti perintah dan petunjuk Allah sedangkan wanita baik hati adalah baik berdasar penilaian masyarakat. Dalam kumpulan surat-suratnya Raden Ajeng Kartini pernah menulis: “Tidak jadi solehpun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati”  seperti pernah saya mengutipnya dulu. Bukan hanya tentang pakaian yang suci dan wanita soleh, Agama memang membawa ajaran moral tersendiri yang tidak selalu selaras dengan nurani manusia. Dan bukan umat Islam saja yang membedakan moralitas agama dengan etika sekuler.

Setiap kali mendirikan solat, kita selalu mengucapkan ikrar bahwa solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, hingga tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali mengikuti dengan pasrah kehendak Allah. Tetapi Allah juga bersabda dalam Qur’an bahwa semua manusia (yang kafir atau ateis sekalipun) telah diciptakanNya dalam struktur yang sebaik-baiknya, kemudian Dia sempurnakan lagi, lalu ditentukan kadarnya dan diberikannya petunjuk, sehingga tanpa bimbingan agamapun manusia sudah mempunyai bekal potensi dan kecenderungan untuk berbuati baik. Menurut penelitian Universitas Barkeley California orang atheis dan yang tak beragama lebih didorong oleh rasa kasih sayang mereka untuk membantu orang lain daripada orang-orang yang relijius. Bukan berarti bahwa orang yang relijius tidak bersedia menolong, tetapi nampaknya rasa kasih sayang kurang menarik orang relijius dibanding kelompok orang lain. Orang-orang yang kurang atau tidak religius, mengandalkan perasaan hati mereka apakah mau menolong orang lain atau tidak. Sementara orang yang lebih relijius mungkin mendasarkan pertolongan mereka tidak pada emosi tetapi lebih pada factor-afaktor lain seperti doktrin, identitas komunal, atau reputasi; demikian hasil studi itu.
Seperti banyak kita temui orang-orang yang tidak relijius tetapi suka menolong dan berderma. Mereka mengikuti perasaan hati mereka, yang adalah karunia Allah juga, dan tumbuh menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Menurut penelitian, orang yang berkepribadian rendah hati (humble, andap-asor dalam bhs Jawa) terbukti lebih bersedia untuk mengulurkan tangan untuk membantu dibanding mereka yang arogan. Mereka juga cenderung menjadi pemimpin yang efektif dan lebih disukai dari pada mereka yang memamerkan prestasi mereka.

Jika benar hasil penelitian Robb Willer dari Universitas Berkeley diatas bahwa orang relijius lebih mendasarkan kemurahan hatinya kepada doktrin daripada kepada perasaan, maka dapat difahami bahwa banyak orang yang begitu relijius, perasaan mereka tidak peka. Ibarat pisau yang tumpul karena jarang diasah. Mengapa banyak tokoh yang nampaknya alim menyelewengkan uang negara yang sebenarnya merupakan hak rakyat miskin. Meskipun saya bukan orang yang terlalu relijius, saya curiga mengapa hati saya kurang tergerak untuk mengeluarkan uang untuk korban musibah kebakaran, banjir dsb. Saya meneteskan air mata melihat laporan korban banjir di televisi, tetapi sesenpun tidak keluar dari dompet saya untuk menolong mereka. Kalau anda juga merasa demikian, artinya kita tidak menyadari bahwa hati-nurani kita sedikit banyak sudah membawa petunjuk dari Allah swt. Dalam hal tolong-menolong kita kurang menghargai rasa kasih sayang yang merupakan unsur ciptaanNya dalam diri kita.

Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan Islam saya percaya bahwa sifat-sifat baik yang saya miliki tumbuh dari keimanan saya. Kalau saya mengakuinya dari diri sendiri, itupun saya percaya berasal dari potensi yang sudah ditanamkan Allah sejak awal. Bedanya dengan kebaikan mereka yang tak beragama, mereka tidak mungkin mengakui kebaikannnya berasal dari potensi pemberian Allah dan tidak pula mereka peruntukkan bagi Allah.

https://www.facebook.com/notes/juman-basalim/orang-alim-hatinya-kurang-peka/10151450596828984

Related Posts:

GADING YANG RETAK - SANTA YANG BERNODA

Oleh: Jum’an

Dalam majalah Time Agustus 2007 terdapat tulisan berjudul “ Krisis Iman Bunda Teresa” yang menceritakan pengakuan terus terang dari Mother Teresa kepada pendeta tempat dia mengaku dosa tentang kesia-siaannya dalam mencari Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa dalam setengah abad terakhir ia tidak merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Kepada pendeta Van Der Peet ia berkata: “Yesus sangat mencintaimu; tetapi bagiku terasa begitu sepi dan hampa, saya terawang tak terlihat, saya simak tak terdengar – lidah bergerak tapi tak terucap…. Tolong doakan saya agar saya dapat menjangkauNya.”  Biarawati keturunan Albania yang nama aslinya Agnes Gonxha itu, lahir tahun 1910 di Skopje Macedonia. Semasa hdupnya ia dikenal sebagai Santa dari Kalkuta, penolong orang-orang termiskin dari yang miskin di sejumlah Negara Asia, Afrika dan Amerika Latin dan giat membantu korban bencana banjir, epidemi, kelaparan dan pengungsi. Untuk semua iti ia telah memperoleh Hadiah Nobel Perdamaian, Hadiah Perdamaian dari Paus Yohanes XXIII, Hadiah Perdamaian Internasional Nehru, Hadiah Balzan, Templeton Dan Magsaysay. Demikian sehingga hampir diseluruh dunia orang tanpa keberatan memanggilnya Bunda.

Tetapi sebagaimana kata peribahasa: tak ada gading yang tak retak, tidak ada manusia yang sempurna. Citranya yang keramat bila diteliti dan dicermati nampaklah noda-nodanya kontras dengan faktanya; antara yang dibayangkan orang dan kenyatannya. Penelitian yang dilakukan oleh Serge Laviree dan Genevieve Chenard dari Universitas Montreal serta Carole Senechal dari Universitas Ottawa Kanada menyimpulkan bahwa citra humanis, suci dan penolong yang luar biasa dari Mother Teresa hanyalah mitos belaka, hasil promosi dan publikasi media yang berlebihan. Dalam kenyataannya ia menghimpun orang-orang sakit dan orang-orang miskin dalam rumah kematian dan jauh lebih senang mendoakan mereka daripada memberi pertolongan medis praktis meskipun yayasannya memiliki dana jutaan dolar. Baginya bukan masalah uang, tetapi menyangkut pandangan Mother Teresa (MT) sendiri tentang penderitaan dan kematian. ”Ada keindahan dalam melihat orang miskin menerima takdir mereka, menderita seperti Kristus yang disalib. Dunia banyak memperoleh keuntungan dari penderitaan mereka” begitu ia menjawab kritik-kritik yang diterimanya. Sebuah konsepsi yang rasanya tidak manusiawi! MT memang sangat pemurah dengan doa-doanya tetapi kikir dengan uangnya. Ketika banyak terjadi banjir di India serta tragedi Bhopal (ledakan pabrik pestisida 1984 dengan 2000 korban lebih), dia memberikan berbagai doa dan medali Perawan Maria tetapi tidak ada bantuan langsung atau keuangan. Disisi lain, ia tanpa ragu-ragu menerima gelar kehormatan serta hibah uang dari Diktator Haiti, Duvalier.

Penelitian itu menyebutkan MT memiliki 517 misi di 100 negara tetapi sebagian besar pasiennya tidak dirawat dengan baik dan banyak yang dibiarkan mati. Tetapi ketika MT sendiri membutuhkan perawatan akhir hayat, ia memperolehnya dari rumah sakit Amerika yang modern dan mewah. Mother Teresa dipercayai mempunyai mukjizat menyembuhkan penyakit. Monica Besra seorang wanita Benggali mengaku melihat cahaya memancar dari gambar MT yang kebetulan dimilikinya dan sesudah itu penyakit kankernya sembuh. Dr. Ranjan Mustafi yang nerawatnya menegaskan bahwa Monica tidak menderita kanker, sedangkan pasien TBC dan kista ovarium yang dikatakan sembuh oleh mukjizat MT, sebenarnya sembuh karena pengobatan yang sedang dijalani. Tetapi Vatikan tidak menghiraukannya dan tetap dengan rencana beatifikasi, yaitu menobatkannya sebagai santa (orang suci). Ketiga peneliti dari Kanada itu juga mengutip beberapa hal yang tidak diperhitungkan dalam proses beatifikasi oleh Vatican, seperti cara MT yang meragukan dalam merawat orang sakit, kontak-kontak politiknya yang pantas dipertanyakan, manajemen nya yang mencurigakan dalam mengelola uang sangat besar yang ia terima serta pandangannya yang terlalu dogmatis  tentang aborsi, kontrasepsi dan perceraian.

Citra humanis MT yang mendunia serta beatifikasi atau penobatannya sebagai orang suci oleh Paus tidak lepas dari peran media yang mendalanginya dengan efektif. Menurut ketiga peneliti diatas, dalam pertemuan MT dengan Malcolm Muggeridge dari BBC th. 1968 di London, Malcolm memutuskan untuk mempromosikan Mother Teresa dengan membuat film-film yang mendramatisir kegiatan-kegiatannya. Setelah itu MT melakukan perjalanan keliling dunia dan menerima berbagai penghargaan, termasuk Hadiah Nobel untuk Perdamaian. Dalam Biografi MT oleh Meg Greene (2004) diceritakan bahwa yayasan yang didirikannya di Kalkuta dikritik oleh majalah kedokteran Inggris Lancet karena tidak profesional. Dalam SF Weekly  Jan. 2011 terdapat artikel  berjudul “Tainted Saint” (Santa yang bernoda) yang menceritakan MT ketika membela pendeta favoritnya Donald McGuire yang terlibat pelecehan seksual terhadap anak-anak pada th 1993. McGuire sudah diberhentikan dari jabatannya tetapi MT mendesak atasannya untuk mengangkatnya kembali dengan segera. McGuire pun bertugas kembali , kembali juga tabiat pedofilnya.

Meskipun cara MT merawat orang sakit meragukan, yaitu melihat penderitaan mereka sebagai keindahan bukan dengan menghilangkannya, ketiga peneliti menyebutkan efek positif dari mitos Bunda Teresa bahwa citra kasih sayang dan penolongnya telah menginspirasi banyak relawan kemanusiaan yang kerjanya memang benar-benar telah mengatasi penderitaan fakir miskin….  Mother Teresa meninggal tahun 1997 dalam usia 87 tahun.

Note: Dpt anda baca juga (dg link-link nya) di : http://jumanb.multiply.com/journal/item/254

Related Posts:

ETNOSENTRISME

Oleh: Jum'an

Konon pada bulan Agustus 1563 raja Charles IX dari Perancis medatangkan tiga orang suku kanibal dari negri jajahannya Brazil untuk menyaksikan kehidupan “beradab” di istana Reims dan kemegahan kota Rouen di Perancis utara. King Charles saat itu bersusia 13 tahun, sedangkan ketiga orang kanibal yang sangat udik itu, belum pernah bepergian keluar dari Brazil sebelumnya. Raja sempat mengintrogasi mereka cukup lama. Pertemuan antara dua budaya yang kontras dan langka itu ditulis oleh eseis terkenal abad 16 Michel de Montaigne yang juga diperkenalkan dengan ketiga orang itu. Ketika ditanya pendapat mereka tentang lingkungan yang baru dilihatnya, mereka menyampaikan tiga hal yang menarik perhatian mereka tetapi Montaigne hanya ingat dua diantaranya, karena ia menulisnya 16 tahun sesudah peristiwa itu, lagipula ada kesulitan bahasa antara dia, si penterjemah dan para kanibal itu. Karena mereka melihat masyarakat Perancis dengan pandangan yang baru dan lugu, apa yang mereka anggap akrab dan jujur menjadi terasa absurd. Meskipun demikian pandangan mereka sungguh mengungkap moral.

Pertama mereka sangat heran melihat pria-pria bertubuh tegap, tinggi dan gagah, berjenggot dan bersenjata lengkap (yang mereka maksud para pengawal raja) bersedia tunduk pada perintah seorang anak kecil; sesuatu yang tak terpikirkan dalam masyarakat mereka. Mengapa mereka tidak memilih seorang diantara mereka sendiri untuk menjadi pimpinannya. Kedua mereka merasa terkejut melihat ketimpangan bangsa Perancis yang mencolok; ada orang-orang yang serba ada, memiliki segala sesuatu sementara sebagian lain mengemis didepan rumah mereka: kurus, lapar karena kemiskinan. Dalam pandangan mereka manusia merupakan kesatuan yang tak terpisahkan. Aneh bahwa sebagaian harus menderita ketidak adilan seperti itu; kenapa tidak mereka cekek saja orang-orang kaya itu atau bakar rumah mereka. Montaigne menunulis Des Cannibals dengan gaya provokatif; bukan dengan membenarkan praktek kanibalisme, tetapi membandingkannya dengan budaya Eropah abad 16 yang menurutnya tidak kalah mengerikan dari pada tindakan para kanibal yang memakan daging musuhnya.

Menurutnya suku pribumi Brazil mempunyai kesederhanaan berfikir yang sehat dan kemuliaan dasar, mereka tidak mengenal kata pelayan, kaya, miskin tidak ada istilah bohong, khianat, pura-pura atau tamak. Atribut yang paling penting bagi mereka adalah keberanian berperang dan bahwa peperangan itu semata­mata untuk membuktikan kedewasaan para pejuang, karena lahan dan makanan tersedia cukup untuk semua orang. Mereka yang paling berani boleh memiliki istri paling banyak sedangkan kekayaan dimiliki bersama. Musuh yang tertangkap dipaksa meminta ampun. Tetapi yang paling mereka banggakan adalah untuk mempersilahkan sipenangkap musuh tadi untuk memakan dagingnya, karena mereka juga memakan daging anggota keluarga serta leluhur mereka. Sementara bangsa Eropah abad itu mempunyai kebiasaan menghukum orang diantaranya dengan mengumpankannya hidup-hidup kepada anjing dan babi, yang jelas lebih mengerikan daripada praktek kanibal. Namun demikian bangsa Eropah Barat abad 16 sangat yakin akan keunggulan moral mereka, bahwa semua non-Eropa adalah liar, kanibal, manusia rendahan, menakutkan, tidak terhormat, dan jangan dipercaya. Kenyataan ini oleh Montaigne disebut sebagai fenomena etnosentrisme suatu kecenderungan budaya untuk menilai budaya asing menggunakan tolok ukur budaya sendiri, sesuai dengan keyakinan dan praktek etnis sendiri tanpa memperhatikan keyakinan etnis lain. Inilah biang rasialisme dan kesukuan. Menurut Montaigne fenomena etnosentrisme sangat jelas dan tidak memerlukan konfirmasi empiris lebih lanjut. Bahwa semua kita sedikit banyak etnosentris sampai batas-batas tertentu. Apapun yang bertentangan dengan kebiasaan kita, semua kita sebut bar-bar. Kita melihat kebudayaan kita yang paling yang sempurna, sistim politik kita yang sempurna, cara melakukan segala sesuatu yang paling sempurna dan paling ulung.

Begitu esei Montaigne lima abad yang lalu. Ia sendiri berpendapat bahwa semua manusia terpapar pada kelemahan, kebiadaban dan salah perhitungan yang sama. Memakan daging sesama manusia atau mengumpankan orang kepada anjing memang tidak; esensinya tetap saja etnosentris. Apakah manusia abad 21 masih bersikap demikian? Anda bisa menilainya sendiri. Entah serendah apa Amerika menilai bangsa kita, tetapi menurut kita sepak-terjang mereka cukup bar-bar. Kalau kita bisa mencuri-dengar bisik-bisik orang Papua tentang suku kita dan bagaimana kita (yang merasa paling berbudaya) selama ini menilai mereka, mungkin kita bisa merasakan betapa etnosentrisnya kita ini.

Note: Yg ada linknya yg dpt di clik, baca di: https://jumanb.wordpress.com/

Related Posts:

MENGINGAT MATI MENYEGARKAN HIDUP

Oleh: Jum’an

Tidaklah menyimpang dari dugaan kalau dalam penelitian terbukti bahwa orang Islam akan meningkat kepercayaannya kepada Allah ketika diingatkan dan berfikir tentang kematian. Demikian pula ketika orang Kristen memikirkan kematian, mereka bertambah yakin akan Tuhan mereka. Tetapi orang ateis ketika diingatkan tentang kematian, hatinya tak bergeming dan tetap tidak percaya. Sedangkan kaum agnostik yang ragu-ragu (karena menurut mereka kebenaran adanya Tuhan sangat sulit dibuktikan) ketika diingatkan akan kematian, mereka menjadi lebih bersedia untuk percaya adanya Tuhan, hanya saja mereka tidak pilih-pilih untuk percaya kepada Allah, Budha maupun Yesus; meskipun penelitian ini diadakan di Amerika, lingkungan yang mayoritas Kristen. Temuan ini meyakinkan bahwa agama yang menjanjikan kehidupan akhirat yang kekal, dapat membantu kita menyikapi soal kematian dan bahwa orang mengatasi rasa takut mati menurut kepercayaannya sendiri-sendiri. Mudah difahami bahwa orang yang religious cenderung makin kuat kepercayaan kepada agamanya sendiri dan semakin menjauhi kepercayaan agama lain.

Demikian diantara kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Kenneth Vail psikolog Universitas Missiouri dan rekan-rekan tentang Agama dan Kematian.  Ia merekrut 20 mahasiswa Kristen, 28 ateis, 40 Muslim dan 28 penganut agnostik. Semuanya mahasiswa Amerika kecuali 40 yang Muslim, mereka mahasiswa Iran yang belajar di Iran. Sesuai dengan dugaan para peneliti terungkap bahwa ketika orang Kristen berfikir tentang kematian, mereka lebih tegas keyakinannya kepada Yesus Kristus ketimbang orang Kristen yang tidak pernah diingatkan soal kematian mereka. Mereka juga makin tidak percaya dengan kebenaran agama lain. Demikian pula sebaliknya dengan orang Islam. Juga terungkap, mithos bahwa orang ateis akan beriman jika terancam kematian (no atheist in foxholes) adalah tidak benar. Orang ateis tetap ateis meskipun mereka diingatkan akan kematian mereka yang tak terelakkan. Penelitian ini juga menunjukkan betapa berbeda-bedanya cara orang menagani rasa takut akan kematian mereka. Bukti bahwa mengingat dan berfikir tentang kematian ternyata meningkatkan iman orang Islam kepada Allah merupakan fakta yang penting dan bermanfaat bagi kita.

Menurut suatu teori dalam ilmu psikologi sosial, kesadaran akan kematian yang tak terelakkan, dapat mendorong manusia untuk mengisi hidup mereka dengan sesuatu yang lebih penting dan bermakna, dan menyatukan diri dengan sesuatu yang lebih besar seperti agama atau Negara. Peristiwa serangan 11 September 2001 di New York, telah menimbulkan rasa takut luar biasa dan membangkitkan kesadaran akan kematian. Peristiwa itu telah memberikan sekaligus dampak negatif maupun dampak positif. Kebanyakan media cenderung memfokuskan diri kepada reaksi negatif terhadap aksi terorisme seperti meningkatnya permusuhan antar agama, kekerasan dan rasialisme. Tapi menurut Kenneth Vail penelitian juga menemukan bahwa sesudah peristiwa itu orang lebih menunjukkan rasa syukur, harapan, dan kepemimpinan yg lebih baik.
Memikirkan tentang kematian dengan sadar, dapat memotivasi orang untuk menjaga kesehatan dan menyegarkan kembali cita-cita perorangan. Sementara secara tidak disadari mendorong manusia untuk hidup sesuai dengan standar dan keyakinan yang positif, membangun hubungan baik, melibatkan diri dalam kegiatan masyarakat, hidup berdampingan, dan memperkaya kehidupan mereka sendiri.
Menurut kesimpulan penelitian tentang sikap orang terhadap kematian, memikirkan kematian dapat memperbaiki kehidupan. Menurut istilah mereka, menari dengan kematian adalah langkah yang pelik tetapi anggun menuju kehidupan yang lebih baik. Barangkali hadis Nabi yang mengatakan “Perbanyaklah mengingat kematian” memang perlu kita budayakan.

https://www.facebook.com/notes/juman-basalim/mengingat-mati-menyegarkan-hidup/10151434863173984

Related Posts:

MUNGKINKAH UMAT ISLAM AKAN PUNAH?

Oleh: Jum’an

Nadia mempunyai enam saudara kandung: dua laki-laki danempat perempuan yang semuanya sudah berkeluarga. Ia mempunyai dua orang anak, enamsaudaranya yang lain masing-masing juga mempunyai dua atau tiga anak, sedangkanseorang saudara perempuan lainnya memilih menjadi wanita karir, hampir berakhirmasa suburnya belum juga mau menikah. Begitulah Nadia hanya melahirkan dua anaksementara ibunya melahirkan 7 anak; suatu penurunan angka kelahiran yang tajam.Akibatnya Nadia banyak saudara tetapi miskin anak. Mungkin bukan hanya keluargaNadia tetapi banyak juga keluarga kita yang bernasib sama, bahkan merupakantrend nasional  sebagai dampakkeberhasilan keluarga berencana yang kita banggakan. Salah seorang karyawatidikantor saya yang dua kali hamil berturut-turut dalam waktu tidak lama, menjadicemoohan sinis dalam bisik-bisik diantara kami. Mau dikasih makan apa? Menyemaibenih pengemis, ejek yang lainnya.
Menurut laporan terbaru Komisi Pusat Perencanaan Maroko,trend tingkat kelahiran di Maroko telah menurunsecara dramatis dari 4.5 anak per-wanita pada 1987 turun menjadi hanyaseperohnya yaitu 2.4 anak per-wanita pada 2010. Di Turki tingkat kelahiran saatini hanya 1,5 anak per-wanita, turun dari 6,5 anak per-wanita satu generasisebelumnya, jauh dibawah angka kesimbangan untuk regenerasi. Kesuburan wanita Iran, hanya dalam satu generasi telahmenurun hampir 6 anak per-wanita dari 7,5 menjadi hanya 1,5anak per-wanita. Disana kebanyakan orang mempunyai 6 atau 7 saudara tetapihanya memiliki  1 atau 2 anak saja. Orang Arab diwilayah Yudea dan Samaria generasi yang lalu mempunyai rata-rata 8 anak, sementara sekaranghanya 3, sama dengan tingkat kesuburan orang Israel. Di Pakistan kesuburanmenurun lebih dari 3 anak per-wanita. Sedangkan di Mesir dan Indonesia menurun4 anak per-wanita (mungkin dari 7 manjadi 3 seperti  di keluarga Nadia).  
Data angka penurunan kelahiran diatas dimuat dalam buku David Goldman “How Civilization Die” 2011 yang lalu. Goldman adalah seorang penulisYahudi Amerika pendukung Israel tulen yang opini dan analisanya dapat kitaduga. Buku ini membahas tentang runtuhnya demografi, angka kelahiran yangmenurun secara dramatis dan meningkatnya populasi lanjut usia, tidak hanya diEropah tetapi, diluar kesadaran kita, juga di banyak dunia Muslim. Terlepasdari analisa dan opini penulisnya yang anti Islam,  fakta tentang penurunan angka kelahiran dibeberapa negara Islam diatas sungguh mengagetkan dan menakutkan. Banyak negara-negaraIslam yang tingkat kelahiran penduduknya menurun hampir serendah negara-negaraEropah. Akibat runtuhnya tingkat kelahiran, sebagian besar Eropah sekarang “beradapada jalur sengaja menuju kepunahan”. Eropah, meskipun dalam kemunduran mungkinmemiliki sumber daya untuk mendukung populasi yang menua. Tetapi negara-negaraIslam yang miskin, populasi yang menua berarti sebuah peradaban diambangkehancuran. Penyusutan populasi bukanlah kabar baik seperti pendapat beberapa pengamat.Tanpaorang muda yang cukup untuk mempertahankan tingkat produksi dan mendukungpenduduk usia lanjut yang makin banyak, penurunan angka kelahiran menimbulkanancaman terhadap stabilitas dunia yang lebih mengerikan dari skenario kiamatyang disebabkan ledakan penduduk
Menurut Goldman orang-orang yang beriman memiliki lebih banyakanak dan orang-orang sekuler memiliki sedikit atau tidak sama sekali sehinggapara pengamat liberal merasa ketakutan bahwa kelak dunia akan diwarisi olehmereka.  Memang benar bahwa kelahiran dinegara Muslim jauh melebihi angkakelahiran di Barat, tapi sebagian besar dunia Islam menyusul krisis demografiBarat dengan kecepatan yang mengejutkan. Negara-negara muslim terpelajar sepertiIran, Turki, Aljazair, Tunisia dll, angka kelahirannya menurun dibawah tingkatkestabilan. Goldman berpendapat bahwa peradaban tanpa keyakinan agama yang kuatakan kehilangan keinginan untuk berkembang biak. Menurutnya orang bertahanhidup ketika hidup mereka ditopang oleh makna yang mengatasi kematian baikmelalui keyakinan tetang hidup yang kekal ataupun keyakinan atas kelestarianbudaya mereka. Ketika sumber makna itu layu, orang merangkul kematian melaluikeengganan membiak, nafsu dan perang. Mereka berhenti memiliki anak,mengkusamkan indra mereka dengan alkohol dan obat obatan, menjadi sedih dan terlalusering mengabaikan diri sendiri.
Kisah punahnya suatu peradaban (seperti kaumAd dan Tsamud) yang hidup pada abad ke 20 dan abad 8 sebelumMasehi banyak disebut-sebut dalam Alqur’an. Bahkan dalam surat Al-Maaidah ayat54 dan surat Muhammad ayat 38 Allah mengingatkan orang-orang yang beriman,apabila mereka berpaling, akan digantikan dengan ummat yang baru, yang lebihcinta kepada Allah dan dicintai Allah. David Goldman melihat tanda-tanda kearahitu, bukan saja bagi umat Islam tetapi juga umat-umat dan peradaban yang lain.Wallohu a’lam ……………

(Karena FB tidak memungkinkan menaruh link, referensi ada di :  

Related Posts:

JANGAN TIDAK PERCAYA EVOLUSI

Oleh: Jum’an

Pada 5 Januari 2013, The Deen Institute, lembaga yang menggalakkan berpikir kritis dan  dialog yang rasional dikalangan mahasiswa Islamdi Inggris, telah mengadakan konferensi tentang kompatibilitas teori evolusimodern dengan teologi Islam di Aula London University. Dialog dengan topik “Apakah Umat IslamSalah Faham tentang Evolusi?” yang cukup menegangkan karena sejumlahorganisasi mahasiswa menolak berpartisipasi ini, merupakan event pertama dimanacendekiawan muslim terkemuka menangani topik kontroversial evolusi dalam forumpublik. Dua tahun yang lalu Dr Usama Hasan, wakilketua masjid at-Tawhid di London diberhentikan sebagai imam Jumat selama 25tahun karena diancamakan dibunuh, setelah menyatakan pandangannya tentang evolusi. Sejumlahdemonstran membagi-bagikan selebaran anonym yang mengutip tokoh agama bahwasetiap Muslim yang percaya pada evolusi adalah murtad danharus dieksekusi. Dr Usama Hasan berasal dari keluarga Islam yang taat danputera seorang ulama Wahabi terkenal. “Umat Islam tidak boleh makmum di belakang seseorang yang percaya padaevolusi” kata Salir al-Sadlan seorang ulama senior Saudi dalam kotbahnya dimasjid di Birmingham.
Dr. Usama adalah salahsatu pembicara dalam dialog ini. Pembicara lainnya termasuk seorang pakarbiologi evolusi, seorang ahli antropologi biologi, seorang ulama dan seorangkreasionis (kepercayaan bahwa segala sesuatu diciptakan Tuhan tanpa proses)dari Turki yg terkenal. Sebanyak 850 hadirin duduk tak beranjak selama 7 jam meskitopik ini sangat sensitif dan kontroversial; tak ada ejekan maupun gangguan. Sebagianbesar hadirin adalah profesional muda yang tidak punya pendapat kuat tapisangat berminat mendengarkan posisi umat Islam tentang evolusi. Mereka tidakkecewa.Diskusi seperti ini biasanya tergelincir olehretorika dari para kreasionis. Keberhasilan acara ini karena fakta bahwa semuapanelis, kecuali tokoh kreasionis dari Turki, kurang lebih menerima konsensusilmiah tentang evolusi, sehingga diskusi dapat memusat pada pertanyaan:Dapatkah kaum Muslimin mendamaikan antara evolusi manusia dengan iman mereka?
Kita tahu banyak ilmuwanMuslim yang tidak hanya memahami evolusi, tetapi juga telah memikirkanimplikasinya terhadap keyakinan agamanya. Dr. Ehab Abouheif adalah ahli biologi evolusi yang memimpinpenelitian di McGill University Kanada dan mengerjakan penelitian tentangevolusi pada semut. Awan 2012 lalu Abouheif membuat kejutan dengan penemuanspesies semut yang mengandung gen yang lamban dapat diaktifkan menjadisemut-semut prajurit yang super. Prof. Ehab Abouheif menjelaskan kasus ilmiahtentang evolusi biologi dan berbicara tentang perlunya umat Islam memahamiprinsip dasar biologi modern ini. Dia mencontohkan dirinya dalam melawankesalah-pahaman bahwa seseorang tidak dapat mendamaikan evolusi dengan Islam. Abouheif, adalah seorang ilmuwan sekaligusseorang beriman yang tulus. "Evolusi biologis adalah fakta. Buktinyasangat banyak dan tak terbantahkan," katanya. Sebagai tamu AmericanIslamic Congress di Univ. Boston, Abouheif mengemukakan pendapat pribadinya tidak hanya tentang agamasebagai seorang ilmuwan dan seorang Muslim, tetapi juga keprihatinannya tentangkonsekuensi bagi negara-negara Islam yang gagal untuk merangkul tradisi ilmiah.Jika kita menolak evolusi sebagai sains dan tak bersedia untuk menyimak bukti,berarti untuk semua ilmu pengetahuan, ketika bersinggungan dengan masalah sosialatau politik, kita juga tidak akan percaya. Dia menghimbau agar dunia Muslimmenjadi inovator dan terlibat memimpin dalam teknologi dan inovasi, dan ikutdalam produksi, bukan hanya menjadi konsumen. Ia merasa sangat prihatin ketikaPemerintah Saudi terpaksa minta bantuan negara Barat untuk memberikan vaksinH1N1 untuk para jamaah haji pada 2009, padahal seharusnya dapat memproduksinyasendiri.
Pembicara lainnya, Prof. Fatimah Jackson, adalah pakar antropologi biologi di Univ. Carolina Utara. Diamengajarkan evolusi sejak sebelum masuk Islam pada 1970-an dan tidak pernahmenganggap keduanya saling bertentangan. Baginya ilmu pengetahuan hanyalahmengatakan "bagaimana" sesuatu terjadi, dan bukan"mengapa". Evolusi tidakmenggantikan iman, tetapi justru melengkapinya. Abouheif dan Jackson adalah peneliti berprestasi yang menerimapandangan ilmiah tentang evolusi. Mereka sangat antusias tentang pekerjaanmereka dan tak tergoyahkan dalam membela iman mereka.
Dialog juga menampilkandebat teologis antara Dr.Usama Hasan dan Syaikh Yasir Qadhi. Dr.Usama menyatakan pada dasarnya ada ruangdalam Islam untuk mengakomodir evolusi manusia. Hasan membantah bahwakepercayaan evolusi pasti akan mengarah pada ateisme. "Ilmu pengetahuanmengatakan kepada kita bagaimana kita diciptakan, wahyu memberitahu kitamengapa." Ilmu pengetahuan tidak bisa mengukur keberadaan jiwa, demikianpula tak ada eksperimen yang bisa membuktikan ataupun menolak adanya Tuhan,katanya. Hassan menyatakan bahwa pandangannya tentang evolusi tetap dalambatas-batas pemikiran Islam dan bahwa perbedaan pendapat itu diperbolehkan.Syaikh Yasir Qadhi tidak setuju: "Adalah tak bermoral untuk memiliki duapendapat Islam yang berbeda tentang masalah ini." Menurut Syaikh Yasir, ia menerima semua evolusikecuali untuk manusia. Adalah salah kalau umat Islam mengatakan tidak percaya padaevolusi. Sebagian besar prinsip evolusi tidak menimbulkan masalah bagi teologiIslam” katanya. Tidak mengapa umat Islam percaya ada dinosaurus, spesiasi(proses evolusi munculnya spesies baru) dan bahkan nenek moyang bersama untuksemua hewan di Bumi - kecuali satu pengecualian - umat manusia. "Kamiadalah spesies terhormat berbeda dari hewan dalam hal metakognisi, bahasa,moral, kreativitas dan agama."
Namun, ia mengakui bahwa maksimal yang kita bisa katakandari perspektif teologis Islam adalah bahwa Allah menyisipkan Adam kedalamtatanan alamiah. "Allahmenciptakan Adam sesuai/ cocok masuk ke dalam skema besar alam. Ibarat kartudomino yang memainkannya harus saling sambung menyambung, Adam adalah dominoterakhir ditempatkan langsung oleh Allah. Adam dan Hawa tidak memiliki orangtua - mereka tidak berevolusi. Selain dari itu tidak dapat dibenarkan menurutAl-Qur’an." Dari sudut pandangnya, orang beriman akan melihat dominoterakhir ini sebagai mukjizat dari Allah swt. Syaikh Yasir menunjukkan bahwa secarahistoris umat Islam tidak anti-ilmu pengetahuan, berbeda dengan sejarah umatKristen. Tapi dia melanjutkan: "Kita perlu menempatkan ilmu di tempat yangtepat". Dalam pandangannya, "ilmu pengetahuan adalah studi tentangmemahami ciptaan Allah". Penulis John Farrel dalam membandingkan ilmuwan Islam dan Kristen menghadapi kaumkreasionis yangmenentang sains dan evolusi menyimpulkan bahwa sains tidak banyak betentangandengan ajaran Islam dibandingkan yang timbul dalam Kristen tradisional.
Dr. Oktar Babuna, jurubicara Harun Yahya, pendiri gerakan kreasionis dari Turki yang sering dituduhmengaburkan pemikiran ilmiah, mengatakan bahwa evolusi bukan teori ilmiahkarena belum diverifikasi oleh bukti ilmiah. Menurut logikanya, jika perubahankecil berturut-turut terakumulasi menjadi perubahan besar selama pembentukanspesies baru, maka jumlah bentuk peralihan akan melebihi jumlah spesies yangasli dan spesies yang sudah berubah dalam catatan fosil. Abouheif dan FatimahJackson menjelaskan bahwa harapan menemukan fosil transisi (missing link)berasal dari kekeliruan anggapan Babuna bahwa evolusi berjalan bertahap(perubahan kecil yang berturut-turut) dan linear. Padahal menurut paleontologNiles Eldredge dan Stephen Jay Gould (1972) sebagian besar evolusi ditandai oleh periode panjang yang stabil yangdiselingi oleh kejadian langka (jarang, sesekali) persimpangan evolusi. Teoripunctuated equilibrium (kesetimbangan berselang) ini kontras terhadap gagasanpopuler bahwa perubahan evolusioner ditandai dengan pola perubahan halus dankontinyu dalam catatan fosil. Abouheif menyesalkan bahwa Babuna menyeret kitakembali ke teori Darwin 1859 versi evolusi sebelum penemuan DNA
Ini adalah perdebatanserius tentang topik yang penting. Namun, nada perdebatan dan kualitaspertukaran intelektual di acara London ini adalah menggairahkan dan itumenunjukkan Islam modern memiliki kedewasaan untuk mengatasi tantangan yangdirasakan dari ide ilmiah. Begitu menurut Dr.Yasmin Khan, dan SalmanHameed dalam Harian Nasional Inggris “The Guardian”

Catatan: link dapat diklik di: https://jumanb.wordpress.com/

Related Posts:

TEKATEKI PEWARIS DUNIA

Oleh:Jum’an

Dalam tulisan saya yang lalu "Mungkinkah Umat Islam AkanPunah" saya mengutip tentang menurunnya tingkat kelahiran yangdrastis dari beberapa Negara Islam yang mengundang pertanyaan apakah yang akanterjadi kelak. Penulis Yahudi Amerika David Goldman memberi judul bukunya(2011) “Bagaimana Peradaban Runtuh (Dan Mengapa Islam akan Runtuh Juga) Sebenarnya bukan hanya penduduk negara-negara Islam sajayang mengalami penurunan angka kelahiran tetapi juga agama dan negara lain.Penyebabnya adalah pengaruh kehidupan modern dengan kemakmuran yang meningkat,urbanisasi, keluarga berencana, pendidikan wanita dll. Saat ini dunia sedangmengalami pergeseran yang luar biasa dari pertumbuhan menuju ke penurunanjumlah penduduk. Yang paling menonjol adalah nagara-negara Eropah yang angka kelahiranpenduduknya lebih rendah dari angka kematian. Tak cukup untuk ganti yang mati.Eropah dikatakan berada dalam jalur kepunahan yang disengaja. India, AsiaTenggara dan Amerika Latin juga sedang mengikuti jalan yang sama. 
Prof. Eric Kaufmann,dosen ilmu politik pada Universitas London Inggris, mengamati fenomena yang menarikyaitu sementara angka kelahiran dunia anjlok, kaum fundamentalis baik Islam,Nasrani maupun Yahudi justru melawan tren global itu dengan angka kelahiranyang tetap tinggi. Dalam bukunya “ShallThe Religious Inherit the World” (2010) ia menulis bahwa senjatautama kaum fundamentalis adalah demografi, jumlah penganut. Kaum Yahudiultra-ortodox yang dulu merupakan minoritas kecil di Israel sekarang anak-anakmereka merupakan sepertiga dari murid sekolah di negara itu. Tahun 2050 nanti,mereka akan menjadi mayoritas. Di dunia Islam kaum fundamentalis mengalamilonjakan yang luar biasa sejak tahun 60an. Tidak lama lagi kaum Salafi yangfanatik, dengan tingkat kelahiran yang tinggi dan kecenderungan isolasionis,akan menjadi mayoritas yang dominan. Kaum fundamentalis Mormon di Amerika jugadikenal anti pembatasan kelahiran dan angka kelahiran mereka tinggi. Pengikutgerakan Quiverfull, sekte Kristen konservatif yang berkeyakinan bahwa anakadalah berkah tertinggi dan merupakan “anak panah ditangan ksatria” bahkanmempunyai “rencana 200 tahun” untuk mencapai dominasi demografi.
Kebangkitan kaum fundamentalis dapat menyulut kekerasanagama. Tetapi menurut Kaufmann kekerasan bukan masalah utama. Dalamkenyataannya kaum fundamentalis tidak lebih keras dari kaum anarkis, kaumkomunis, kaum neo-konservatif atau bahkan korporasi atau para bankir yang menjajahekonomi dunia.
Umumnya kaum fundamentalis hidup tidak konsumtif, merekasenang berkorban, tidak mementingkan hidup “kini dan disini”. Mereka bekerjakeras untuk membangun dunia tersendiri yang berbeda dari mainstream denganmembangun sekolah-sekolah dan pusat-pusat kegiatan sendiri. Mereka mempunyairasa kebersamaan yang kuat, menikah dalam kelompoknya sendiri, dan bekerjasamademi kebaikan bersama kelompok mereka. Rasa keagamaannya kuat, sehingga kaumsekuler tidak punya celah untuk memikat anak-anak mereka.
Ancaman terbesar dari kebangkitan kaum fundamentalis menurutKaufmann adalah ancaman kultural, mereka dapat menggantikan rasio dan kebebasandengan fanatisme moral yang akan berdampak di segala bidang. Ancaman itupunmenurutnya masih lebih merupakan persepsi ketimbang kenyataan. Liberalisme sekuler,kata Kaufman,  sedang mengalamikeruntuhan karena sarat dengan kontradiksinya sendiri. Bukannya membuat dunialebih adil, teori-teori keadilan liberal telah melipat gandakan ketidakadilan.Pasar bebas hanya menumpuk kekayaan di tangan segelintir orang. Negara-negarasedang berkembang tersisih dan diperbudak. Nilai prediksi ajaran mereka adalahnol besar.
Mereka yang selama ini merasa bahwa agama tidak lagi layak-jual  dan menyangka kaum agama akan punah, mungkinakan terkejut melihat pegeseran demografi saat ini. Kaum fundamentalis justrusiap mengambil alih dunia dan mengubur hantu liberalisme. Begitu kata EricKaufmann.
Jadi siapakah gerangan yang lebih berpotensi mewarisidunia? Kaum liberal-sekuler dengan ajaran kebebasan dan rasional mereka, ataukaum fundamentalis dengan fanatisme moral mereka? Ataukah modernisme juga akanmelunturkan cita-cita kaum fundamentalis? Entahlah. Alqur’an mengatakan dalamSurat al-Anbiya ayat 105 bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Allahyang saleh”. Saya percaya!

lINK-LINK DIATAS DAPAT DIBACA DI: 

Related Posts:

VANDOORN: YA NABI, I AM VERY SORRY

Oleh: Jum’an

Ingatkah anda kisah Umarbin Khattab ra sebelum ia masuk Islam, ketika dengan garangnya bergegas denganpedang terhunus mau membunuh Nabi? Ketika melewati rumah saudara perempuannya Fatimah,didengarnya ia sedang membaca ayat-ayat Qur'an. Setelah memarahinya, iatertegun sejenak merenungkan makna ayat-ayat yang baru didengarnya. SebelumnyaUmar menolak keras agama baru ini dan memihak propaganda yang penuh kebenciandan keonaran dijalan-jalan dan lembah Makkah. Yakin dengan kebenaran dankeindahan pesan ayat-ayat itu, ia segera memutuskan untuk memeluk Islam.Selanjutnya adalah sejarah kejayaan Islam. Sekarang 14 abad kemudian tepatnyaakhir April 2013, sejarah berulang. Seorang pria kulit putih 46 tahun, datangke Makkah dan Madinah bukan untuk melampiaskan kebenciannya kepada Nabi tetapiuntuk umrah, bertobat dan mohon ampun. Ia adalah Arnoud Van Doorn, seorangtokoh terpelajar dari keluarga terhormat, dari Dewan Kota Den HaagBelanda. 

Beberapa tahun lalu VanDoorn adalah politikus vokal dari partai sayap kanan (Partij voor de Vrijheid,PVV) yang anti-Islam dan anti-imigran, pimpinan Greet Wilders. Van Doorn adalahorang kepercayaannya. Partai ini telah menyebarkan kebencian terhadap Islamsejak Perang Dunia II. Partai inilah yang bertanggung-jawab memproduksi filmFitna yang menghujat Islam dan berakhir dengan heboh protes di seluruh dunia.Ketika menyaksikan kemarahan Umat Islam yang begitu besar, Van Doorn merasa penasarandan berupaya serius untuk mempelajari Al-Qur’an, Hadits dan koleksi biografiNabi Muhammad saw. Setelah beberapa waktu, ia menyadari bahwa Islam adalahkebalikan total dari apa yang dia pikir sebelumnya, dan kemudian jalanpunterbuka baginya untuk memeluk Islam. Ia mengakui bahwa visinya tentang Islamterbentuk 10-15 tahun yang lalu hanya berdasarkan stereotip negatif danprasangka yang disebarkan oleh media. "Bagi saya Islam adalah agamakekerasan yang menindas perempuan dan tidak pantas dianut masyarakat,"katanya. Di Makkah Van Doorn menjadi tamu Syekh Abdul-Rahman Al-Sudais, ImamMasjidil Haram. Sudais merasa bersyukur Allah telah memilih Van Doorn untukmenjadi seorang Muslim. Ketika Van Doorn menyatakan kesedihan dan penyesalankarena ikut menyebarkan film Fitna, Sudais mengutip ayat 114 Surat Hud yangmenyatakan bahwa perbuatan baik akan menghapus yang buruk (innal hasanaatyudhbinas sayyiaat). Van Doorn bermaksud untuk berbuat baik dengan membuat filmtentang Nabi Muhammad saw, untuk menyajikan gambaran yang benar tentang Islam.
Van Doorn mendapatkehormatan ikut menyulam Kiswah yaitu kain penutup Ka’bah yang akan dipasangtahun ini dan mengunjungi Universitas Ummul Qura serta Pusat Percetakan Aqur’andi Madinah. Van Doorn mengunjungiMasjid Nabawi di Madinah untuk berdoa dan menyatakan maaf karena terlibat dalamkasus film yang menghujat Islam. Sheikh Ali Al-Hudaifi dan Sheikh SalahAl-Badar (dua imam Masjid Nabawi) memberikan pencerahan kepadanya bagaimanamenjalani kehidupan seorang Muslim yang baik dan menghadapi tantangan yangdihadapi Islam di Barat .

Sampai sekarang Van Doorntetap menjadi anggota Parlemen Belanda sebagai wakil independent dan menjadipenasihat wilayah di Balaikota Den Haag. Secara pribadi ia menegaskan keputusannya untuk mengamalkan Islam dalamsurat resmi kepada walikota. Ia juga mengajukan permintaan resmi kepada walikota untuk diizinkan melakukan shalat wajib selama jam kerjanya. Sarannya untuk kaum Muslimin yang tinggal diEropa adalah bersabar, tabah dan mematuhi standar perilaku dan karakter yangbaik digariskan oleh Islam. "Suka atau tidak, kita semua mewakili Islam,katanya. Setiap kesalahan yang kita buat dapat dikaitkan dengan agama kita.”
Dalam wawancara eksklusifdengan Saudi Gazette, Doorn mengatakan akan mengabdikan hidupnya untuk menyebarkanpesan sejati Islam dan Nabinya melalui promosi film di seluruh dunia."Saya akan mencoba segala upaya untuk melindungi hak-hak kaum Muslimin diEropa serta untuk melayani Islam dan pengikutnya di seluruh dunia. Saya akanmencoba yang terbaik untuk memperbaiki kerusakan yang telah saya timbulkanterhadap Islam dan Nabinya akibat film ’Fitna’, "

Berita Arnoud masuk Islampertama muncul bulan lalu ketika ia menulis dalam akun tweeternya: "NewStart". Pada 27 Februari 2013, Arnoud mentweet syahadat dalam bahasa Arab“Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammad abduhu wa rasuluhu”, deklarasiseseorang yang masuk Islam. Ia mengumumkan masuk Islam tanpa memberikan alasan keputusannyatersebut. Kalangan orang dekatnya, mereka tahu bahwa sejak terjadinya praharafilm Fitna, ia telah aktif mempelajari Islam selama hampir satu tahun. Iabenar-benar merasa penasaran. “Saya orang yang senang mencari sesuatu di bawahpermukaan, jadi saya menilai tidak berdasarkan penampilan atau hanya yangdikatakan orang dan kita dengar”. Aboe Khoulani, rekannya di Dewan Kota Den Haagmembantunya berhubungan dengan masjid as-Soennah, yang membimbingnya lebih jauhdengan antusias.

Mengingat kebenciannyakepada Islam sebelumnya, tweeter Arnoud pasti mengejutkan dan banyak yangmeragukan dan mengecam keras postingnya. Apakah pernyataannya tulus atau aksipolitik belaka? Dia mengklaim itu adalah tulus dan menegaskan tentangkepindahan agamanya kepada Al-Jazeera. Ini benar-benar menggetarkan bagi kaumanti-Islam, yang jelas bagi Geert Wilders, karena semua pendiriannya telahdirusak oleh seorang yang pernah menjadi kepercayaannya. Sejumlah orang mencapnya sebagai pengkhianat,sebagian besar lain meyakinkan bahwa ia telah mengambil keputusan yang benar. "Ini adalah keputusan yang sangat besar,yang tidak saya anggap enteng" kata Arnoud. Pada umumnya reaksi di tweeter positip dan mendudukung. Akunnyadibanjiri pengikut baru serta sambutan yang nenggembirakan. Ia merasa senang,orang-orang yang tidak mengenalnya secara pribadi memahami situasi dirinya danmendukung pilihannya. Baginya menemukan Islam akhirnya menuntun kejalan hidupyang benar.

Tentang keluarnya dariPartai PVV, ia menyatakan: "Saya melihat setiap pengalaman hidup adahikmahnya. Dan pengalaman saya memiliki relevansi dengan pilihan baru saya. Saya telah membuat kesalahan dalam hidupsebagaimana banyak orang lain. Dari kesalahan-kesalahan ini saya telah belajarbanyak. Dan dengan konversi saya ke Islam, saya memiliki perasaan bahwa sayaakhirnya menemukan jalan saya. Saya menyadari bahwa ini adalah awal yang barudan bahwa saya masih harus banyak belajar. Kemungkinan saya akan terus menghadapi banyak perlawanan, juga dariinstansi pemerintah tertentu," katanya. "Tetapi saya memiliki iman kepada Allahuntuk mendukung dan membimbing saya melewati momen-momen ini."
Ahlan wa Sahlan Ya VanDoorn, semoga Allah membimbing kita mengkuti jalan yang benar. Dan semoga andadapat meneladani Sayyidina Umar bin Khattab ra.

Kisah diatas dapat andaklik di link-link berikut; silahkan!

Related Posts:

MENIKAHLAH - KIAMAT MASIH JAUH

Oleh: Jum’an

Ya! Menikahlah mumpung kiamat masih jauh. Insyaallahanak-anak, cucu dan cicit anda kelak masih dapat menikmati hidup sejahterasampai tua. Semoga untuk seterusnya, setidak-tidaknya untuk waktu yang cukuplama.  Andapun semoga akan meninggalketika tidur pada usia lanjut dengan tenang dan khusnul khotimah. Seandainyaanda tahu bahwa dunia akan mengalami kiamat sebulan sesudah anda meninggal,apakah anda masih tetap mau menikah? Menikahlah karena menikah itu sunnatullah; tetapi anda sadar bahwa duniadan seisinya akan hancur lebur sebulan sesudah anda dikubur. Saat itu mungkinanak anda sedang berpraktek sebagai dokter atau menjadi guru, sedangkancucu-cucu anda masih bersekolah. Tiba-tiba mereka dan semua manusia diduniamengalami bencana kiamat yang sangat mengerikan. Gempa 10 skala Richter, ombaksetinggi pohon kelapa. Tidakkah anda merasa kasihan membayangkan anak-anak dancucu anda dilanda tsunami atau tertimbun gunung longsor karena bumi yangmemuntahkan isinya? Tidak mungkin tidak, hati menjadi kecut membayangkannya.Siapa yang sanggup hidup dengan kesadaran akan meninggal dengan tenang waktutidur, semenatara sebulan kemudian anak-anak dan cucunya sekarat tercekikdisergap maut. Makin tak berselera rasanya membayangkan kemesraan hidupberkeluarga. Lebih layak kalau anda tidak punya anak, tidak punya cucu atautidak menikah sama sekali karena mungkin istri anda baru akan meninggalbeberapa tahun sesudah anda sehingga iapun ikut terseret oleh bencana yangmenakutkan itu. Mungkin sebaiknya anda batalkan saja niat pernikahan andadaripada selalu cemas nantinya.

Ya tetapi itu kan hanya seandainya. Kalau kiamat betulterjadi sebulan sesudah anda meningggal. Tetapi juga, itu berarti bahwa andahanya dapat menikah dan hidup bahagia berdasar asumsi bahwa setelah anda mati,kehidupan orang lain akan terus berlangsung dalam waktu cukup lama. Diam-diamkita sangat memerlukan agar orang-orang lain hidup terus jika kita sudah matinanti. Kebahagiaan kita sekarang tergantung pada keselamatan orang lain kelaksesudah kita tidak ada. Mungkin kecintaan kepada keluarga yang menyebabkan andamerasa tergantung pada keselamatan masa depan mereka. Dengan kata lain,keyakinan bahwa orang lain akan tetap hidup sesudah kematian kita merupakanjaminan kelangsungan hidup kita saat ini.

Mari kita buat seandainya yang lain, bukan kiamatsebulan sesudah anda meninggal. Tetapi seandainya kecerobohan manusia menggunakanilmu pengetahuannya seperti rekayasa genetika, penggunaan tenaga nuklir atauapapun, menyebabkan kemandulan yang yak dapat disembuhkan pada manusia. Sejaksaat itu tak ada lagi bayi lahir. Enam tahun kemudian semua sekolah TK terpaksaditutup kerena semua anak yang ada diseluruh dunia sudah lulus TK nol besar.Enam tahun kemudian semua SD terpaksa ditutup karena tidak ada murid baru.Begitu seterusnya sehingga sehingga sekitar 20 tahun sejak terjadinya bencanakemandulan, semua fasilitas pendidikan tidak aktif lagi. Tak ada lagi Balita,tak ada lagi ABG tak ada ceria dan tangis anak-anak, tak ada lagi canda seronokanak-anak muda. Tak ada lagi orang yang baru; kitalah generasi terakhir manusia.Bayangkan kalau orang yang termuda disekitar kita umurnya 30 tahun, tidak adalagi yang lebih muda. Semua bersama-sama menua, rapuh dan lemah lalu punah. Meskipunhewan dan tumbuh-tumbuhan masih tetap hidup. Untuk mengatasi kesedihan,kecemasan dan keputus-asaan yang terjadi mungkin sebagian orang mengisi sisa hidupnyadengan mencari kesenangan duniawi sepuas mungkin. Makan, sex, wisata serta bersenang-senangbersama keluarga. Yang lain memilih berkutat dengan urusan ukhrowi, khusukberibadah, beramal dan pasrah kepada Gusti Alloh. Imajinasi tentang kemandulanglobal ini meyadarkan kita bahwa tidak adanya generasi yang baru membuat banyakhal terasa sia-sia. Meskipun tidak cemas oleh anak cucu kita yang teriksa, kitacemas semata-mata karena tidak orang-orang baru yang muncul. Bahwa semua orangtergantung pada keberadaan orang lain yang akan datang. 

Dari dua bayangan diatas dapat disimpulkan bahwa keberadaangenerasi anak-cucu sungguh penting. Sekarang saja, sebelum mereka lahir, kitasudah diberiya persekot berupa jaminan kelangsungan dan ketenagan hidup.Kepedulian kita terhadap mereka bukan saja merupakan misi melanjutkanketurunan, tetapi juga sebagai kompensasi atas jasa mereka yang sudah kitaterima terlebih dulu. Maka sudah selayaknya kita berusaha melempangkan jalan untukmenyongsong kedatangan mereka. Jangan mengotori udara, jangan membabat hutan,jangan mencemari alam karena akan menyulitkan masa depan mereka kelak. Bahkansesudah lama kita tidak ada, doa mereka masih dapat menyelamatkan kita diakhirat kelak.

https://www.facebook.com/notes/juman-basalim/menikahlah-kiamat-masih-jauh/10151886052988984

Related Posts: